Saturday, May 30, 2015

Diari Mami : Go, Keo!no, Noaki!( 3 )

Sengaja pakai foto yang ini. Promo sekalian :p



Harus review ya ?...hihihihi.
Ntar katanya saya ngecap, lha wong jualan, pasti reviewnya bagus.
Tapi lha emang bagus. Masa Rhinestone saya bilang Mutiara Sintetis? ( keren ya perumpamaanku, yang bukan crafter ga ngerti paling ..:p)

Pertama-tama untuk Mama, Bunda. Umi, Mami, Kakak, Daddy, Papi atau siapapun, yang sudah dewasa, bacalah 2 kali.
Pertama, bacalah dan hanyutlah dalam ceritanya.
Kedua, bacalah sebagai orang dewasa. Rasakan feelnya, PERFECT.

Menurut saya buku ketiga ini "berat".
Bukan dari sisi cerita ya, tapi dari sisi pesan yang disampaikan. Walaupun, tentu saja, kalau Bunda Ary yang menulisnya, itu pesan seperti disampaikan sambil lalu, tetapi tetap kena.

Dari Bab pertama aja, ceritanya sudah membuat saya lengket, ga berhenti baca sampai selesai.
Masih melanjutkan cerita dari buku-2 tentang Noaki yang terkilir. Saya sampai jejeritan di sini. TIDAK!!
itu kaki yang bengkak, hiks aduuuh, berasa kaki saya dulu yang bengkaknya sampai seminggu. Tapi di akhir buku, cerita tentang kaki bengkak ini membuat saya menjerit lagi. I KNEW IT!

Keo bertumbuh banyak , berusaha menjadi lebih mandiri, tetapi tetap saja mikirin orang lain. Kadangkala saya pengin Keo ini sekali-kali egois, mikirin dirinya sendiri. Hahaha... siapa saya.
Karakter lainnya ? yang sudah baca buku 1-2 pasti makin cinta, seperti saya yang makin cinta sama Toby, Seb , Lady, Ajeng, dan si kembar Wamena-Timika, ( Noaki-nya sedang tidak ada ).

Topik tentang pertumbuhan secara hormonal juga muncul di buku ini ( nih, salah satu pesan yang serius ).
Saya senang topik ini muncul dari pembicaraan anak-anak, dan yang lebih penting, saya suka pesan dari topik ini . Orang tua adalah tempat pertama yang dituju untuk bertanya.

Petualangan seru sudah pasti ada, Keo dengan bebek, Keo dengan kucing, Keo dengan pohon, Boys camp ! ( Huwaaaa.. yang ini seru bangeet!!! ) .

Lainnya? masih ada Si Misterius, Love siblings Keo-Rumi ( yang ini mengharukan ), BFF Keo-Mami, dan tentu saja Teka-Teki K2Soul untuk dipecahkan!

Ada beberapa kalimat yang saya sangat suka

" Masih anak-anak itik, jangan buru-buru pengin bertelur " 
( What a meta ..hihihi )

" Tetapi kemudian Lady melakukan hal yang lebih-lebih tidak lady-like lagi. Bersendawa dan mengusap bibirnya dengan lengan baju "
( Hahahaha..)

" Dan itulah yang terjadi, ia menjadi sasaran tatapan keenam anak itu. Bukan cuma ditatap, Seb malah berusaha duduk mepet-mepet dengannya "
( Saya membayangkan adegan ini kalau serial ini menjadi film, pasti lucu, mudah-mudahan ada produser nyasar di blog saya. * mimpi * )

" Ada apa ini ? Pameran gadget ?" Keo mengomel. " Kalian seperti orang-orang di ruang tunggu. Semua pegang HP, asyik sendirikayak enggak perlu teman saja. Kalau Noa lihat kita begini, dia pasti - "
( Catet ! )

" Apakah saat dipukul anak yang jauh lebih besar bukan waktu yang tepat? Bagaimana waktu Pak Markum tertahan banjir dan sangat-sangat terlambat menjemputnya? Atau waktu ia merasa badannya sangat panas dan ingin dipeluk Mami ? "
( Nangis T_T )

" Noaki seperti Mami. Hanya ada kalau ada."
( Daleeem )

Banyaaak yang mau saya ceritakan, tapi kalau semua dibocorin di sini, ga ada yang beli jualan saya dong.
Beli ya, kalau jauh dari toko buku boleh langsung pesan ke saya.
Pururunya? ada. Tapi ga mau dipublish. Biarin :p

Semua tentang Keo&Noaki ada di pagenya langsung klik Keo&Noaki . Isinya macem-macem, Book trailer, Tanggapan pembaca, Fan art, Fan fiction, bahkan tips menulis juga ada.




















Friday, May 29, 2015

Ribut soal harga ( Lagi )


Saya sedang dikejar deadline karena list nyelip. Orderannya 1 gross rosebud mini , 1 lusin rosebud 3 cm dan 1 lusin roseburn.
Niatnya posting supaya si customer ini tahu kalau orderannya sedang dikerjain. Ternyata postingan saya ini menarik juga. Inbox mulai masuk , rata-rata nanya berapa harganya. Saya tidak pernah sekalipun menyembunyikan harga. Siapapun yang bertanya, baik itu melalui inbox atau via komentar, selalu saya jawab. Ternyata oh ternyata, ada yang bilang harga saya kemahalan, ada yang bilang harga saya kemurahan.
Terus terang dalam keadaan normal, saya no reken. Tapi kok ini inbox makin menjadi-jadi ya..
Gemes lah saya. Biasanya kalau ada yang begini, di suatu tempat pasti terjadi sesuatu. Saya stalking sebentar. Beberapa status teman crafter ada yang berkeluh-kesah tentang bully-membully crafter yang menjual kreasinya di bawah harga pasaran. Saya sebenarnya sedih, mengapa ini pada langsung nge-judge tanpa dilihat dan diperhatikan dulu.
Jadilah saya membuat postingan baru. Menunggu dibully.
Karena yang dipertanyakan adalah si rosebud mini ini, inilah postingan saya :

 Teman-teman.. Let me clear this one...
saya pakai pita 1, 5 cm panjangnya 10 cm. Harga modal saya plus keuntungan hampir 200 % adalah 150 rupiah per biji.. Dengan harga jual 7 ribu per lusin, saya untung 30 ribuan untuk setiap 6 lusin. Dan kalau dibuat dalam keadaan normal, dalam waktu 3 jam sudah dapat 6 lusin. Jadi untuk saya itu adalah harga yang Rasional. Mengambil laba tergantung masing-masing crafter. No heart feeling ya guys. Harga Rasional hanya setiap crafter yang tahu.
Sebagai perbandingan lain. Saya menjual rosebud jahit 3 cm 20 ribu per lusin. Ada yang menjual rosebud ukuran sama dengan harga 15 ribu per lusin. Terlalu murahkah yang menjual 15 ribu / lusin ? Stop, lihat dulu bahan dan teknik yang digunakan.
Rosebud yang dijual dengan harga 15 ribu / lusin sudah pasti menggunakan teknik lem atau malah dengan teknik jumput yang sangat hemat bahan. Pita yang digunakan adalah pita 2,5 cm dengan panjang tidak lebih dari 40 cm, atau lebih pendek malah. Jadi crafter yang menjual dengan harga sekian pasti sudah memperhitungkan dengan benar. Perkara ada crafter lain yang membanting harga, mari diam dulu dan lihatlah.



Postingan yang membuka rahasia perhitungan saya. Biarin...
Sungguh saya kesal. Seringkali yang membully itu sebenarnya hanya langsung njeplak saja. Mereka ga mau diam dan melihat dulu.
Banyak faktor yang memicu terjadinya perbedaan harga. Saya bicara soal crafter aplikasi aja ya. Karena kalau membandingkan dengan para broker itu tidak apple to apple.
Crafter aplikasi sebenarnya menjual waktu dan skill, diluar bahan baku lo ya.
Crafter aplikasi tidak menjual kreativitasnya. Karena yang dijual kan masih bentuk mentah.
Aplikasi yang dijual masih harus dipermak lagi oleh para Broker ( Brooch Maker ). Jadi tentu saja, yang mendapat laba paling banyak adalah para Broker. Dan ini lumrah. Broker harus memadu madankan warna, membuat desain yang unik, memikirkan packing, belum lagi harus memikirkan foto produk.
Crafter aplikasi ? yang penting aplikasi jadi dan siap dikirim tepat waktu. Ga mikirin warna, desain dan sebagainya. Wong bentuknya masih aplikasi.
Harganya ? tentu saja harga aplikasi.
Dalam kasus saya. Si rosebud mini. Harga saya sudah harga rasional. Untung saya juga udah banyak. Kenapa kok ga dijual lebih mahal lagi ? Saya tidak mau, wong untunge wes akeh kok, ben ga serakah.
Harga ini sebenarnya juga sudah mahal. Bandingkan dengan bunga kapas ( yang dijahit ), harganya 40-50 ribu per gross. Berarti per lusin bisa jadi cuma 4-5 ribu, padahal ini bikinnya dijahit, bukan di lem seperti rosebud mini saya.

Kasus perbedaan harga karena perbedaan bahan baku dan cara pembuatan sebenarnya juga sudah pernah saya tulis. ni saya copaskan ya..

HARGANYA ...
Sewaktu Saya ganti Dp di BB pakai rosebud mini yang versi jumput lengkap dengan harganya yang tentu saja jauuuh lebih murah daripada rosebud 2 cm... ya iyalah.. ukurannya aja ga sama..
Ada yang langsung bbm saya, selain order yang mini, nanya juga yang ukuran 3 cm.. saya jawab 20 ribu / lusin.. beliau langsung nawar dan memberikan informasi kalau ada yang menjual jauuuuh lebih murah dari saya...waaaah.. ayo dibully mami..hahahaha...
Jangaaaaan... dilarang bully membully kalau berurusan dengan saya.. saya jelaskan kalau harga saya harga yang rasional untuk yang versi jahit... baru deh saya cari mana OS yang menjualnya jauuuh lebih murah..
Dan... ketika sudah nemu... baru saya ngerti.. tentu saja ownernya bisa menjual dengan harga sedemikian, wong rosebudnya dibuat dengan pita 2,5 cm ...
Lha kok bisa lebih murah ?
Mari kita berhitung :
Versi Jahit uk. 3 membutuhkan pita 4 cm dengan panjang 65 cm ( harga pita semeternya 2000.. saya pakai harga meteran aja ya ) jadi biaya material mentahnya kurleb :  1300...
Versi jumput ( saya tidak tahu si owner pakai versi apa ) uk. 3 cm pakai pita 2,5 cm panjang 40 cm ( harga pita semeternya 1500 ) : 600 rupiah..
Nah separuhnya lebih kannnnn...
Jadi jangan langsung nyap-nyap ya.. teliti dulu sebelum menghakimi.
Kalau begitu.. boleh dong yang versi jumput ini dijual dengan harga versi jahit...
Boleeeeh.... kalau anda ga punya hati nurani...
Bagi saya berbisnis itu juga harus jujur.. walaupun customer ga ngeh .. rasanya kok kita berbohong ya.. saya tidak suka berbisnis dengan cara itu.. ga bisa tidur bok....
 
Harga tentu saja harus serasional mungkin sesuai dengan pangsa pasar kita... mau ambil keuntungan 100 % , 1000 %.. boleh-boleh saja...pasar nanti yang akan mengeliminasi...
Anyway....para broker yang sedang mencari aplikasi.. silahkan lebih teliti sebelum membeli.. sesuaikan dengan pangsa pasar yang anda tuju... dan yang lebih penting.. lihat dulu isi dompet anda... 
 
Jadi ya para crafter, boleh kan sebelum berkomentar atau malah membully seseorang, diamlah dulu dan perhatikan. Kalau punya banyak waktu stalkinglah yang bersangkutan, cari tahu di mana dia membeli bahan, teknik apa yang digunakan, banyak atau tidak asistennya, dan so on.

Kalau saya, daripada melakukan itu, walaupun hanya mampir dan mengetik komen yang memicu kontroversi, mending saya balik rumah saya sendiri, ngurusin jualan saya.

Kalaupun ada yang memang niat mempermainkan harga, percayalah, yang begituan ga akan bertahan lama. Minggir dan diamlah, lihat siapa yang mati duluan. Setuju!
No heart feeling, No Bully ya!
 
 

Wednesday, May 27, 2015

Passion Or Craziness , You name it






Kemarin pagi, saya belum tidur selama 18 jam. Untung Veve libur, jadi masak bisa sambil nyuruh-nyuruh dan ngomel-ngomel ( Veve berantakan banget kalau di dapur ). Hari itu jadwal saya adalah di jalanan. Ada beberapa bahan craft yang harus dibeli, harus pergi ke digital printing untuk ngurus bonus buku, setelah itu masih harus ke ekspedisi.

Saya dikejar deadline 1 list orderan, padahal udah dipanjang-panjangin waktunya, tapi 24 jam rasanya ga cukup. Kalau yang baca ini jualan waktu, hubungi saya ya.. mau beli, ga pake nawar deh.. hihihi.
Jadi sambil perintah ini-itu ke Veve dan Tuan Muda, saya menyambar beberapa gulungan pita, gunting dan lem. ngukurnya ntar pakai ubin aja. Rencananya sambil nunggu antrian di tempat digital print masih bisa dapet round rose beberapa biji. Lumayan kan.

Padahal berangkat dah pagi-pagi bener, tapi ternyata udah ada yang antri di depan saya. Ya wes, biar ga mati gaya, gulungan pita dikeluarin, ndlosor sebentar, ngukur panjangnya di ubin, cuek aja dilihatin para mahasiswa yang lagi antri ( Digital print-nya ada di depan kampus UNIBRAW ).

Saya biarin  Tuan Muda ngerusuh, lari sana-sini, asal jangan jatuh aja. Cuek saya ngeroll. Beberapa mahasiswi, ngelirik, yang duduk di sebelah saya nanya, basa-basi, saya juga jawabnya basa-basi. Maaf, rasanya ada bom waktu di kepala saya.. tik..tok.. tik.tok.. ini aplikasi harus selesai sebelum bomnya meledak.
Lumayan dapat 10 biji, sampai nomer saya dipanggil. Ga ngomong lama-lama, kasih flash disc, milih kertas, nanya harga, nawar ? ga lah ya..

Antri lagi nunggu di print. Saya lanjut ngeroll di atas etalase. Ga lagi duduk, karena kursinya udah penuh. Etalasenya saya penuhi dengan tas ransel saya ( kalau pergi saya kaya orang pindahan, ga pernah bawa tas kecil, selalu tas ransel), pita, gunting dan lem. Veve bisik-bisik " Mami.. malu.. dilihatin tuh "
" Biarin aja " balas saya.
Si mbak memandang saya , gerah. Saya cuek aja.. hahaha..

Nunggu antrian print lama juga,  dapet 10 biji lagi baru selesai. Lumayan kan hampir 2 lusin.
Daftar pelajarannya kece banget, saya senyum-senyum sambil ngelus-ngelus kertasnya. Mbak yang jaga counter mungkin udah kesel sama saya, waktu saya nanya bisa potong apa ga? jawabnya " Bisa mba, tapi ga gratis ya, selembar 2 ribu"
Saya melengos, daripada mbayar, nunut potong aja di Pak Karjo, gratiss.

Di parkiran, mendadak perut saya perih, karena mencium bau Soto. Ola.la..saya ternyata belum sarapan.
Tapi waktu sadar masih harus keliling lagi, laparnya jadi lenyap. Ke Citra berikutnya.
Di Citra rame banget, menjelang puasa memang selalu begini. Saya dianggurin lagi. Ya wes, pitanya saya keluarin lagi. Kalau di sini, mbaknya udah apal, lalu lalang menjawil saya, tapi tetep saya dianggurin.. haiiish..

Dapat 6 pcs roundrose, saya ga tahan...cepet-cepet panggil salah satu mba.. maksa... ambilin itu aja deh, tunjuk saya ke barisan pita GG ( gros grain ), warnanya soft dan cantik-cantik, awalnya cuma mau beli 3 aja buat tester, la kok tangannya ga sadar, jadi ambil 8 roll. waktu di total baru * face palm* bangkrut dah saya.

Bayar kasir, cepat-cepat ngacir, ga ngider dulu di dalam, takut tergoda. Uang cash saya dah mepet, tapi saya bawa ATM, bisa-bisa terkuras habis kalau nurutin alasan " cuma lihat-lihat ". Percaya deh, yang awalnya cuma lihat-lihat, pulangnya bawa setumpuk " yang cuma dilihat-lihat itu ". Crafter yang pernah merasakan ini hayooo ngacung !

Karena udah sampai kota, saya selalu tergoda ke Toko Buku. Kali ini aman, karena uang cash habis. Jadi bikin perjanjian dulu sama dua anak itu. Ga beli buku, pulangnya aja beli es krim. Kesepakatan di dapat, kami berangkat.

Bau buku baru di toko buku itu seperti candu, baunya khas dan selalu ngangeni ( feel free to call me crazy ). Veve dan Tuan Muda, tentu saja langsung kalap. Tuan Muda ndelosor, menurunkan semua buku Dino dan cerewet nunjuk ini-itu. Veve ngider sendirian, Saya ke rak buku ketrampilan, jujur, saya ga terlalu tertarik kalau beli buku ketrampilan, alasannya sederhana, saya tuto-phobia. Jadi yang saya lihat hanya nama penulisnya, nama penerbit, dan ngintip sekilas isinya. Selanjutnya yang ngedoprok lagi ngeroll. Hihihi...

Janji cuma setengah jam di toko buku, molor jadi sejam, itupun pakai acara drama. Tuan Muda ngotot beli buku Dino, pake acara nangis guling-guling. Langsung nego di tempat, ga jadi beli es krim. Kesepakatan baru dicapai, walaupun saya tahu, Es krimnya juga pasti dituntut untuk dibeli. sigh...
Ekspedisi ga jadi.. ngantuk, besok aja sekalian.

Sampai di rumah, saya ngantuk berat, laper, jadi makan dulu, langsung foto daftar pelajarannya dan upload. Tak berapa lama inbox masuk, ada seorang customer, mau beli 1 set GKNN. nanya harga, setor alamat, nanya no rek. Karena ini duit, jadi saya sambar aja. Cek ongkir saat itu juga, beberapa menit langsung masuk inbox bukti transfer... huwaaaa... ngantuk hilang, spontan saya potong kain sifon, bikin bros gardenia, nambahin bonus untuk customer ini.. ( Harga bonusnya kalau ditotal sama aja dengan 1 buku GKNN ). So love is blind. Anything for you.. Keo...

Hari itu.. total saya dapet 3 lusin ngeroll selama perjalanan.. lumayan kan.

Malamnya baru terasa saya tepar, mimisan lagi, badan saya protes minta istirahat. Tapi masih harus packing kurleb 10 paket. Saya maksa, terusin packing. Semuanya siap, sebelum berangkat tidur, Veve nanya
" Besok ke mana Mami?"
" Keliling Ekspedisi"
" Jangan bawa pita lagi ya " pintanya..
" Loh.. knapa ?"
" Malu aku..mami ngeroll dimana-mana..dilihatin orang "
Saya ngakak..

Jadi kalau di suatu tempat ketemu emak-emak sedang antri,  kalungan pita , pakai ransel  gede dan berantakan, sapalah.. siapa tahu itu saya.. hihihi..

Passion or Craziness.. you name it







Tuesday, May 26, 2015

Pangeran Bumi Kesatria Bulan


Genre ini sebenarnya adalah genre yang paling saya hindari. Saya suka romance drama, tapi ga terlalu suka dengan novel romans. Jangan tanya kenapa. I just don't like it.
So, ketika bukunya dah datang. Mau tidak mau, suka ga suka, kalau yang menulis Bunda Ary Nilandari, pilihannya cuma satu. Harus Baca.
Covernya cantik, saya suka, tergelitik bikin Pururu yang duduk di hoop . Tapi belum ngerasain feelnya.

Ceritanya tentang Maya di antara Geo dan Juno, mengambil isu tentang bayi-bayi yang dibuang.
Sebenarnya cerita tentang gadis yang bingung memilih antara 2 pria sudah jamak ada di mana-mana. Tapi kalau Bunda Ary yang menulisnya, cerita itu bukan lagi menjadi cerita yang biasa.

Saya  kagum dengan Bunda Ary yang sangat detail tentang hal-hal kecil , dan tentu saja detail tentang isu utama di novel ini. Tentang Spathodea, tentang Okta yang membeli MIMS ( wak, saya aja dulu ogah beli buku ini, soalnya ada buku lain yang lebih lengkap dari MIMS, Pharmakope Indonesia, ga kebayang kalau Okta beli buku itu dan melahap isinya setiap malam) . Tentang fakta bayi-bayi yang dibuang, tentang hukum adopsi. Terbayang Bunda Ary pasti melakukan riset yang detail tentang semua itu.
Bunda Ary juga sukses menghidupkan karakter lain yang ada, Septi, Okta, Augy, bahkan Keysha.

Ceritanya dijalin dengan kata-kata yang indah, kalau yang ini memang Bunda Ary banget.
Sejak awal saya sudah kena second lead syndrome . Juno ini second lead kan?
Saya langsung jatuh cinta dengan Juno. Padahal di bab-bab awal cerita tentang Geo yang mendominasi.
Mungkin karena saya trauma dengan stalker ya, jadi saya menahan diri untuk tidak jatuh cinta kepada Geo.
Saya suka dengan karakter Maya, Maya itu terorganisir, sosok yang tough, terbiasa mengandalkan diri sendiri.
 
Juno, Juno itu broody menurut saya. Tapi broody yang keren.. hahaha..
Bagian menyentuh tentang Juno adalah ketika Juno menerima kembali Ibunya dan mengurusnya tanpa lelah. Tapi saya juga sempat gemes sama Juno. Rasanya kok pengen mendorong dia supaya cepet-cepet ngaku seperti Maya yang gemes. " Stop teasing. Say it!" hadeeh.

Dan tentu saja, saya selalu suka dengan siblings love, walaupun Maya dan anak-anak lain yang di asuh Bunda Wulan bukan saudara sekandung , tapi saya dapat merasakan bagaimana hangatnya hubungan mereka. Siapa bilang darah lebih kental daripada air?

Bagian yang paling saya suka ? Bab Prolog. Bab pendahuluan ini sudah berhasil memikat saya untuk terus membaca, melawan kejengahan saya terhadap novel romans.

Kesimpulannya, Bacalah! ceritanya sweet dan hangat. Membacanya seperti berada di hutan pinus, bermandi hangatnya sinar matahari.




Sunday, May 24, 2015

LAST NIGHT

Anak-anak keluar dari dalam Box. Seb langsung menuju Macbook orange yang baru saja selesai kujahit. Ajeng memungut buku dengan inisial namanya.
" Yaah.. masih kosong" Katanya membolak-balik halaman  buku bersampul ungu itu
.
Lady memutar kepalanya..mencari sesuatu.

"Punyaku mana Mam?" tanyanya.

" Belum, sabar ya.." jawabku singkat , lalu  kembali ke  gunting dan kain flanel. Sepatu Wamena berikutnya.

" Ada Frame! berarti kami akan pergi !" Seru Timika, melongok ke dalam Frame. Keo menggoyang-goyangkan kakinya, bercanda mengusir Timika.

Aku bimbang, hendak bersuara. Tapi sesuatu mengunci mulutku. Aku menunggu, anak-anak ini belum tahu. Tinggal 2 minggu lagi sebelum aku memisahkan mereka.

" Kemana Mam ?" Tanya Toby.

" KL, transit Jakarta" Jawabku, menghindari pandangan matanya.

Mendengar jawabanku, sontak semua bersorak. Seb bersiul senang dan langsung mencari tahu berapa lama mereka akan diam di dalam box sebelum sampai ke KL.

Kita ke luar negri, waah..ada menara Petronas, aku belum pernah naik pesawat. Seperti apa rumah baru kita.

Mendengar mereka, perutku mulas, sesuatu mengiris-iris lambungku. Lalu aku menjatuhkan bom itu.

" Keo dan Noaki yang akan berangkat duluan, sisanya menyusul belakangan."

Seketika semuanya terdiam.

Ajeng menjatuhkan bukunya dan berkata " Aku tidak mau tinggal, aku ikut."
Suaranya tegas dan wajahnya kaku beku. Aku terperangah, Ajeng yang begitu lembut, yang tidak melawan sewaktu aku menaruhnya di baris belakang ketika ulang tahun Wamena-Timika, memandangku dengan tajam.

"Kami belum pernah berpisah sebelumnya. Aku juga mau pergi" Kali ini Lady yang bicara.
Aku memandang mereka, meminta pengertian,
"Sebentar saja, beri Mami waktu 2 bulan " Kataku lirih, nyaris berbisik.

"Mami Egois! 2 bulan itu lama sekali! Mami membuat kami berdelapan, mengumpulkan kami setiap hari. Sekarang Mami memisahkan kami. Aku tidak mau. Aku ikut ! " Seb berteriak padaku.

" Seb ! " sergah Toby.

Aku tidak sanggup mendengarnya lagi. Hatiku hancur berkeping-keping mendengar perkataan Seb. Susah payah kutahan air mataku.

"Tidakkah kalian memikirkan Mami? mengirim kalian pergi berarti memotong tangan dan kaki Mami. Berikanlah sedikit waktu. Mami masih ingin memperbaiki kalian, mengganti baju dan merapikan rambut kalian. Hanya 2 bulan. 2 bulan itu tidak lama " Suaraku bergetar, mataku mulai kabur karena genangan air mata.

Semua diam. Tobylah yang memecahkan keheningan itu. Dia melompat naik ke bahuku, memeluk leherku dan berbisik " Tahanlah aku selama yang Mami mau, aku tidak keberatan " Lalu meluncur turun.
"Aku balik duluan" katanya melambaikan tangan. Wamena menyentuh jari telunjukku " Punyaku warna hijau ya" pintanya, kemudian berlari menyusul Toby.

Lady menarik tangan Ajeng menghampiriku, di belakang Ajeng ,Timika berjalan sambil melipat wajahnya.
" Maafkan kami Mam, kami yang egois" Lady mencium telapak tanganku.
Aku meraihnya, membetulkan kerudungnya yang tersingkap.
"Nanti, kubuatkan bros cantik sebelum melepasmu pergi."

Lady turun dan mendorong Ajeng maju. Ajeng tidak mau menatapku, Aku tahu, dia pasti kesal.
Jadi kuberikan beberapa novel Teenlit punya Veve kepadanya.
"Bacalah, kau pasti tidak bisa tidur malam ini"
Ajeng menerimanya tanpa bersuara, lalu berbalik. Baru selangkah, dia menoleh kepadaku " Maaf " Ucapnya lirih.
Timika hanya memandangku , " Kasih bunga kecil di bandoku nanti ya Mam" katanya lalu berbalik menyusul Lady dan Ajeng.

" Seb, can we talk?" Seb diam, sibuk dengan Macbook Orangenya.
"Seb, please "
Kali ini Seb berdiri, melipat Macbooknya dan berjalan ke arahku. Dia tidak mengatakan apapun, menendang lututku dan berbalik pergi. "Yang ini aku bawa, bikin saja satu lagi untuk frame itu" katanya tanpa memandangku. Aku menarik nafas panjang. Seb selalu yang paling sulit.

Noaki memandangku dengan iba. Disenggolnya lengan Keo lalu mengambil alih anak kucing Keo.
Keo melompat turun dari frame, duduk di pangkuanku.
"Boleh aku minta sesuatu Mam?" Tanyanya.
"Tidak" jawabku singkat.
"Aku tidak mau pergi" Katanya tidak peduli dengan jawabanku.
Aku menatapnya lekat-lekat " Kalian semua harus pergi. Di sini, tidak ada yang melihat kalian. Tapi di tempat baru nanti, kalian akan dilihat banyak orang, di ceritakan kepada banyak orang. Dengan demikian kalian akan tetap hidup."
"Kalau begitu berjanjilah padaku, jangan bersedih dan jangan menangis"
Aku meraupnya dan meletakkannya di depan wajahku. " Kau tahu aku tidak bisa menjanjikan itu"

Kuletakkan dia kembali ke dalam Frame. Noaki mengembalikan kucing Keo, lalu meraih jariku, menggengamnya erat. Air mata menggenang di mata lancipnya. Aku menunduk, " Jangan menangis, Keo tidak suka kalau Noaki menangis" bisikku.  Noaki mengerjap menahan air matanya.
"Istirahatlah, jangan memikirkan apapun malam ini" Aku membelai rambut Noaki dan memasang topi merah yang baru saja kusulam.
Kalau saja Noaki bisa menggambar hatiku, malam itu muncul dua lubang di sana, 6 lainnya menyusul.

* Anggaplah ini FanFiction, feel free to cal me crazy. I'm crazy







Thursday, May 14, 2015

TOBY DAN HUJAN ( UPDATE)


Sore yang indah, ada gumpalan awan pekat dari arah utara. Rupanya akan turun hujan. Saya mendengar Toby memanggil saya
" Mam, keluar box sebentar boleh ?"
" Boleh..kenapa ?"
" Hujan..."
" Di dekat jendela atau di depan? Mami sedang ngebut ngeroll ini "
" Sama Mami aja di depan"
" Cantik ya Mam.."
" He-eh.."
" Jingga, hitam dan abu-abu.."
Hujan turun.. rintik-rintik..
" Dengar Mam.. tik..tik..tik...Suaranya meneduhkan jiwa, menentramkan hati..."
" Sedang membuat puisi?"
" Mau dengar aku bermain gitar?"
" Mami belum membuatkanmu gitar.."
" Dengarkan aja deh Mam..
" Oke..go ahead "

Toby  adalah kencan saya sore itu. Hujannya awet. Cuma rintik-rintik, semburat langit berwarna jingga dan abu-abu. Cantik..amat cantik..Sampai malam Toby belum mau masuk Box. Di dekat jendela saja ya..

HAUNTED BY TOBY CHEN

He is following me....jadi saya bantu nulis aja

Hitam dan kelabu berarak beriringan,
Semburat Jingga mengawal dalam diam.
Satu per satu luruh menghalau sepi
Suaranya meneduhkan jiwa , menentramkan hati.
Ting..ting..ting denting putaran waktu
Temani aku yang diam tergugu

Huwaaa....huwaaa....saya ga pernah menulis yang beginian !! I hate You Toby!

" But I love you Mam, suatu hari nanti ayo pergi ke pantai, dipinggir tebing memandang bulan purnama, ditemani debur ombak pasang..."
" Stop! Stop!...kembali ke box, sekarang..seriously.."

Feel free to call me crazy. I  am Crazy..


Wednesday, May 13, 2015

Saya, Ken dan Bacan Palamea


Buat crafter yang writer wanna be seperti saya, bahagia itu sederhana. Menang kuis menulis, yang hadiahnya bahan baku untuk memuaskan passion craft saya. Dan inilah cerita di baliknya.

 Beberapa  minggu yang lalu, ada Kuis di Paberland yang di gelar ci Dian Kristiani. Kuisnya tentang Show Don't Tell . Hadiahnya Batu. Saya melewatkan kuis ci Dian yang pertama, jadi yang ini sudah diniatin mau ikutan. Yang harus ditulis adalah tentang karakter orang yang menyenangkan atau orang yang pinter-pinter bodoh. Ada sekitar 8 tulisan yang saya ikutkan, yang pinter-pinter bodoh cuma 2. Susah bikinnya.

Karakter saya namanya Ken. Ken ini saya banget. Hafal jalan menuju, tapi selalu bingung kalau pulang.
Sehari setelah menulis Ken, saya pergi ke Bangil. Besuk mama yang sakit. Karena ga bawa anak-anak, saya naik Bus. Saya belum pernah ke Bangil dari Malang naik bus. Seringnya naik mobil atau sepeda motor, jadi sebelum berangkat, nanya dulu naik apaan dan turun di mana.
Mama bilang, naik bus jurusan surabaya, turun di srikandi. Nanti di jemput.
Oke, jurusan Surabaya, turun Srikandi. bilang aja ke kondekturnya. gampaaang.

Saya ingat dulu jaman SMA dan kuliah, kalau akhir pekan, pulang bareng teman-teman, sering ada yang turun di Srikandi. Seingat saya, Srikandi itu jalan pertigaan atau perempatan yang banyak toko-tokonya deh.
Sebelum berangkat, Papi melepas dengan cemas. Jangan ndoweh katanya. Saya yang belum tidur dari semalam cuma manggut-manggut. Pokoknya turun Srikandi, bilang kondekturnya, katanya berkali-kali.

Di Bus, saya terkantuk-kantuk, tapi saya tahan agar tidak tertidur  karena jarak Malang dengan Pandaan kan cuma sekitar setengah jam. Antara sadar dan tidak, saya mendengar Kondektur berkata ' Srikandi..Srikandi"
Kaget saya bangun dan siap-siap di dekat pintu. Bus berhenti, saya turun.
Ketika bus jalan lagi,  saya tolah-toleh, mencari patung Srikandi, karena dulu ada patung srikandi di dekat situ. Ketika sadar sungguhan...olalala.. salah..bukan pertigaan/perempatan ini, masih jauuuuuhhhh...Kondekturnya tadi bilang" Srikandi..persiapan." karena ngantuk saya ga jelas dengarnya Hiks..
Jadilah saya naik angkot lagi. Kali ini naik Bison. Sama Pak supir, saya diturunkan di perempatan yang tidak ada srikandinya ! sebelum saya turun, untuk memastikan saya tanya " Bener ini Srikandi Pak ?"
" Iya,  ini Srikandi " Jawabnya
Karena udah diklakson dari belakang, ya sudah saya turun. Tolah-toleh lagi.. dimana patung srikandinya? huwaaaaa..ada di mana iniiiii...
Nanya di kios kecil jualan rokok. Mana ada patung kata si mbak penjaga kios. Ya ini Srikandi. Perempatan jalan pertokoan di Pandaan.
Bodo ah. Saya cari Pos Polisi. Duduk di pinggir situ, ngabari mama supaya di jemput.
Diam-diam saya berpikir, lah..dulu yang saya lihat itu patung siapa hayooo..perasaan jelas banget dulu itu ada patung srikandi yang pegang panah. Apa saya berhalusinasi ya?
Sambil nunggu ambil-ambil gambar. Persiapan ntar kalo nyasar ketika pulang.














Saya pe-de ketika pulang ga bakalan nyasar. Kenyataannya ? saya bingung. Angkot yang membawa saya ke Bangil ternyata berhenti di perempatan lain ketika balik ke arah Malang. Nah lo.. saya nyegat Bus di mana nih. Hadeeeh..sungguhan kena kutukan si Ken deh.
Jadilah saya lari-lari menyebrang perempatan satu ke perempatan lain mengejar Bus yang berhenti cuma sedetik-dua detik. Yang betul aja Paaaak...
Sekalinya bus berhenti lama, si kondektur masih saja menerapkan tipuan lama, sama seperti ketika saya SMA dulu.
" Masuk-masuk.. di tengah kosong! " gitu katanya.
Ya, kosong jalan di tengahnya, saya ngerundel dalam hati ketika naik bus yang sesak. Alhasil, jadilah saya upacara, berdiri desak-desakan sepanjang Pandaan-Malang. What a day.
Tapi ga papa. karena Ken, saya akhirnya menang... huwahahahaha.. dapat Batu cantik ini. Namanya Bacan Palamea, dari mb. Aira Kimberly..katanya ini koleksi selama 27 tahun lo..belum tahu mau diapain ya. mau diembro atau di wire. Belajar dulu..

Friday, May 8, 2015

TUTORIAL ROLLED ROSE TWO TONES



Terus terang, saya sama sekali ga belajar membuat ini, cuma berlatih aja biar rapi. Caranya saya temukan ketika belajar membuat rosebud versi lem. Mungkin ga sama dengan tutorial lainnya, sepanjang yang pernah saya lihat ya. Saya buatnya ini terbalik, jadi melipatnya dengan keadaan kelopak di bawah. Bingung ? di coba dulu ya.












 Gulung ujungnya









Ini jadinya.. Ini bagian belakangnya


Ini depannya, trus potong bagian belakangnya ya. Tutup dengan kain keras. Selesai


Wednesday, May 6, 2015

Antara Saya, Devi dan GKNN


Hari minggu kemarin, Devi datang berkunjung bersama Caca, putrinya.
Devi adalah sahabat masa kecil saya, dan sekarang juga tetap menjadi sahabat terbaik saya.
Tanpa terasa sudah hampir 30 tahun kami bersahabat.

Sambil melihat Caca dan Veve yang sibuk bercerita tentang Keo dan berselfie ria. Kami ngobrol tentang buku GKNN yang membawa kami bernostalgia ketika jaman SD dulu.

Saya mengenal Devi ketika SD. Bukan dari kelas 1, tetapi baru kelas 5 saya mengenalnya. Itu pun diawali dengan pertengkaran. Kalau tidak salah, waktu itu adalah pelajaran olah raga, kami membuat lingkaran dan bermain bola passing.  Devi yang kebagian tugas melempar bola. Ketika giliran saya, dia melempar bolanya keras-keras. Alhasil, bola voli yang keras itu menghantam muka saya tanpa ampun. Kesal, saya marah dan berteriak padanya.

Itulah awal perkenalan kami. Sejak itu saya masih bermusuhan dengan dia. kala itu geng saya sering mengoloknya dengan sebutan " Rimbun" karena rambutnya yang keriting.
Saya tidak ingat bagaimana kami berbaikan. Yang pasti setelah itu kami berdua tidak terpisahkan. Saya menunggu kedatangannya di depan sekolah setiap pagi. Ke kantin bersama, jajan sepulang sekolah bersama. Oh, saya ingat ketika kami membeli es jamu. Kebiasaan saya adalah minta es batunya yang banyak, maksudnya biar cepat dingin. Tapi Devi kemudian mencubit saya, kalau es-nya banyak, jamunya jadi sedikit. bisiknya..
Hahaha..

Devi juga menjadi saksi ketika saya mendapat surat cinta pertama kalinya. ssst..kelas 5 SD..hihihi dan surat cinta itu akhirnya kami buang di kali di depan sekolah ..muwahahahaha..pokoknya tiada hari tanpa Devi, kami bersepeda berdua kemana-mana, memanjat pohon jambu, membuat rokok dari bunga pohon jambu..Eh? iyaaaa..serius, itu bunga daun jambu yang seperti rambut dikumpulkan dan dibungkus dengan kertas. Tentu saja kami coba membakar dan menghisapnya. Hasilnya ? jangan tanya,  kami tak henti terbatuk-batuk hahahaha...kami juga sempat bertualang menyebrangi sungai menuju ke rumah budenya yang jauh di pelosok Mojosari. What a day..

Kami tetap bersama sampai SMP dan baru terpisah ketika SMA. Saya pindah sekolah ke Malang. Komunikasi tetap terjalin melalui surat menyurat. Senangnya jaman dulu, perasaan menunggu balasan surat itu tak terlupakan . Hihihi.

Meskipun demikian, tak selamanya kami ada satu sama lain. Saya melewatkan banyak masa berharga dalam hidup Devi, demikian juga sebaliknya. Tapi ketika masa-masa sulit, kami berusaha ada satu sama lain.
Devi ada ketika orang tua saya bercerai, dia juga ada ketika saya mengalamai " Abuse " dari pacar saya kala itu ( don't wanna talk about this ). Demikian juga sebaliknya, saya berusaha hadir ketika dia mengalami masalah dalam rumah tangganya dan berusaha mendukung apa pun yang dia putuskan.

Ketika melihat Veve dan Caca, kami sempat ngobrol, betapa senangnya kalau anak-anak ini juga mengalami apa yang kami rasakan dulu, tanpa gadget, tanpa riuh rendah suasana kota. Punya masa kecil yang penuh petualangan dan merasakan persahabatan yang begitu kuat.

Buat saya dan Devi, membaca buku GKNN serasa terlempar ke masa lalu, mengingat kembali betapa serunya kala itu.
Buku GKNN seperti membingkai masa kecil saya dengan Devi. Penuh petualangan dan indahnya persahabatan.
Penasaran dengan isinya? intip Pagenya Keo&Noaki.
Dan Keo juga punya akun sendiri. Silahkan add Keo.H Wibawanto kalau mau chat.








Monday, May 4, 2015

Tentang Mengambil Rasa dan Passion


Beberapa hari yang lalu saya update status isi diskusi saya dengan seorang crafter rusia , ketemu di dramabeans. Beliau pakai nickname RedFox. Yang penasaran silahkan ke dramabeans, biasanya setiap jumat di postingan open thread, dia pasti posting di situ.

Beliau berkata setiap crafter yang membuat dan menjual hasil karyanya harus memperhitungkan Rasa, Passion, dan Waktu. Rasa dan Passion dapat diambil dan dikembalikan lagi. Tetapi siapa yang bisa mengembalikan waktu ?

Lah trus bagaimana itu caranya mengambil rasa dan passion.
Mmmm. jadi begini. Saya menjual aplikasi untuk bros. Yang membuat aplikasi itu bukan hanya saya, tapi asisten saya. Nah, apa rasa dan passion seorang asisten? tentu ga sama dong dengan crafternya. Bisa aja asisten kita itu passionnya karena duit dan rasanya karena terpaksa. Jadikah aplikasinya ? jadi! Rapikah aplikasinya ? Rapi ! kelihatan ga passion dan rasanya? sudah pasti ga.

Tugas memberikan rasa dan passion itu kemudian ada di para Broker ( Brooch Maker ). Para Broker inilah yang kemudian memasukkan rasa dan passion di aplikasi yang " tidak bernyawa " itu.
Itulah sebabnya aplikasi yang seharga 2000 per biji bisa menjadi 20.000 kalau sudah di tangan Broker.
Kemudian ada curhat lagi dari seorang Broker. Bucket bros dijual dengan harga murah..pakai banget . Siapa yang salah hayoooo..

Sungguh gampang kalau mau jadi Broker, aplikasi murah dijual dimana-mana, tinggal tempel jadi. Cepet, gampang, murah to...tapi kembali lagi ke rasa dan passion itu. Kelihatan kah ?

Rasa dan Passion itu terlihat kok. Stalking aja Broker papan atas. Lihat karya mereka, paduan warna, bentuk aplikasi. Bahkan aplikasi yang ga rapi pun bisa jadi sangat indah di tangan mereka.

Broker yang menjual bros dengan harga murah, duh kok saya suker ya pakai kata murah ini.

Broker yang menjual bros dengan harga miring, bisa jadi tidak pernah belajar membuat aplikasi, tidak perduli dengan desain dan perpaduan warna. Yang penting jadi bucket dan laku dijual. Ga salah juga sih, ga ada juga hukum yang melarang kalau mau jualan dengan harga miring.

Saya pribadi tidak mau menjual aplikasi dengan harga di bawah rata-rata. Alasannya tentu saja pertama karena ada asisten yang harus dibayar, selanjutnya aplikasi yang dijual miring memicu harga bros yang juga miring. Lagipula kita juga harus memperhitungkan inflasi. Harga bahan baku sudah pasti akan terus naik , upah asisten juga harus ikut naik karena kebutuhan pokok juga naik.

Bagaimana menghadapi perang harga kalau begitu? ya ga usah dihadapi. Saya lebih suka minggir dan merawat customer saya yang setia.  Tetap perbaiki kualitas dan pelayanan. Jalin komunikasi dengan baik. Merawat 10 customer setia buat saya lebih baik, daripada mendapat 10 customer baru dengan harga yang dibanting. Bagaimana dengan Anda ?