Thursday, April 21, 2016

Menginap di Hotel





Ini koleksi Veve. Tanda peserta dari berbagai macam lomba yang sudah diikutinya sepanjang tahun ini. Beberapa kalah , beberapa menang.

Sebulan terakhir, Veve jarang sekali mengikuti pelajaran di sekolah, jadwal kegiatannya adalah mengikuti lomba. Mulai dari penyisihan tingkat kecamatan sampai tingkat kota. Lomba yang diikutinya juga bermacam-macam, mulai dari lomba mendongeng sampai lomba pramuka. Anaknya sangat menikmati. Saya sendiri yang kadang uring-uringan. Maklum sebagian besar lomba baru diinformasikan beberapa hari sebelum pelaksanaan. Saya enggak suka berlomba tanpa persiapan, tapi Veve memang ajaib. Kadangkala hanya dengan 3 hari persiapan, Veve sudah pe-de ikut lomba, walau hasilnya tentu saja tidak sama dengan yang berlomba dengan persiapan yang matang, tapi lumayanlah pulang membawa piala. 

Dulu, Veve dikenal dengan spesialis juara harapan. Awal-awal mengikuti lomba, di sebagian besar lomba, Veve hanya membawa piala juara harapan. Juara Harapan 1, 2, atau 3, tak jarang dia hanya masuk dalam daftar finalis lalu gugur di tahap selanjutnya. Kala itu saya bilang, jangan jadikan kemenangan sebagai tujuan, anggaplah sedang bersenang-senang, mencoba hal-hal baru. Veve memang tidak terbeban, dia santai saja. Ketika sudah kelas 4 dan semua lomba sudah pernah dia cicipi, piala yang dibawa pulang mulai beragam, sebagian besar juara 2 atau 3 ,hanya beberapa yang juara 1. 

Pengalaman mengikuti lomba menjadi modal dasar untuk mengikuti lomba-lomba berikutnya. Kemarin dia membawa pulang Piala juara 1 lomba cipta dan baca puisi. Buat Veve lomba ini adalah lomba yang paling berkesan. Menurutnya, lomba ini murni dinilai dari kemampuan anaknya.

Pada lomba cipta dan baca puisi, anak diminta membuat puisi dari rumah, puisi dikumpulkan sebelum lomba. Lomba dimulai dengan memberikan tema untuk dibuat puisi, peserta lomba bebas membuat puisi sesuai tema yang diberikan. Hasil puisi yang dibuat di saat lomba akan dibandingkan dengan puisi yang dibuat dari rumah. Cara penilaian yang cerdas.

 Puisi Veve yang dibuat di rumah, diedit habis oleh gurunya, jadi sudah pasti puisi itu bukan murni hasil pemikiran Veve. Juri tidak menilai puisi yang dibuat di rumah, yang dinilai adalah puisi yang dibuat di tempat lomba. 
Hasilnya, menurut Veve, banyak peserta yang sudah menghafal puisi dari rumah, mereka menyalin apa yang sudah dihafalkan, mirip-mirip dengan puisi yang mereka kumpulkan di awal lomba. 
Di tahap final, juri sempat rapat selama hampir 3 jam sebelum menentukan juara. Rupanya banyak peserta yang melakukan kecurangan. Sebelum lomba, mereka sudah mempersiapkan puisi yang akan ditulis dari rumah. Mereka menghafalkan syairnya. Parahnya ada juga yang copas dari internet. Juri  sangat jeli, ketika melakukan penilaian, mereka melakukan kroscek dengan puisi yang ada di internet. Beberapa anak menjiplak secara utuh puisi itu, ada  yang mengambil beberapa bait, ada juga yang hanya mengganti judulnya saja, bahkan ada beberapa anak yang puisinya sama persis.

Kata Veve, puisiku buatanku sendiri, wong aku ga pernah internetan. Memang benar, modal Veve hanya melihat dan membaca. Waktu saya tanya darimana dia mendapat ide untuk puisinya? kata Veve dia pernah melihat tari Remo sewaktu lomba Pramuka ( Veve memilih tema Tari Remo ), yang dia lihat , itu yang dia tulis. Sempat mendapat pujian dari Juri kalau kalimat yang Veve gunakan memang bagus, menunjukkan "kenakalan" khas anak-anak. Saya sendiri memang sering terkejut dengan apa yang ditulis Veve. Memang, buku yang dibaca Veve lebih banyak daripada buku yang saya baca, hahaha..sok sibuk. Diksinya bagus dan beragam, enggak seperti saya yang sering stuck memilih kata-kata. 

Tahun ini adalah tahun terakhir dia boleh mengikuti lomba, kalau sudah kelas 6, dia sudah tidak boleh lagi mengikuti lomba-lomba.. Waktu saya tanya apa yang ingin dia kejar, jawabnya : Aku pengin menginap di hotel, pengin merasakan apa itu karantina. Hahaha...
Baiklah, ayo berusaha, mudah-mudahan.

Monday, April 18, 2016

KARENA GAGAL BERKREASI

 Setahun belakangan banyak crafter baru yang muncul di medsos . Pertanda baik, katanya berkesenian itu dapat menyeimbangkan otak kiri dan otak kanan sehingga niat berbuat jahat itu bisa disingkirkan. Haha...


Makin banyak kreasi yang dihasilkan, yang jualan juga makin banyak. Bros yang booming sudah hampir 3 tahun ini tetap menjadi idola sebagai item yang paling sering dipromokan. Sayangnya, harga nyungsep juga  ikut menjadi trend. Belum lagi semakin banyak foto-foto yang dicuri dan digunakan untuk promo.

Semakin ke sini saya semakin bertanya-tanya. Yang berjualan dengan harga nyungsep itu, benar enggak sih craft itu adalah passionnya? kalau berdagang adalah passionnya, sudah pasti enggak akan membanting harga dengan ngawur seperti itu.
Kalau craft adalah passionnya, tidakah ia menghargai buah karya tangan dan jiwanya sendiri?
Atau jangan -jangan dia hanya senang dengan hal-hal baru, yang ujung - ujungnya membuat jenuh, bosan lalu gagal berkreatifitas kemudian balik kanan, berhenti. Kalau cuma sekadar coba-coba sih oke, enggak ada yang dirugikan kalau dia berhenti. Tapi kalau sudah sempat berjualan, sudah kadung memilih membanting harga sebagai strategi awal berdagang, ho..ho.. lihatlah apa yang sudah dia tinggalkan.

Memang, selama masih ada yang namanya jual beli di muka bumi ini, persaingan harga tidak terelakkan, ketersediaan barang yang dijual juga mempengaruhi harga. Buat yang berdiri di luar lingkaran, seperti saya. Harga-harga ngawur ini sebenarnya enggak ngaruh juga. Apalagi buat kami yang enggak hanya berjualan di fesbuk aja.

Mungkin yang berjualan dengan harga nyungsep itu hanya fokus di satu pasar, walau alasannya agak aneh, karena komunitas ini yang paling rame.
Mungkin yang berjualan dengan harga nyungsep itu memilih strategi awal dengan menawarkan barang murah. Ini strategi bunuh diri.
Mungkin yang berjualan dengan harga nyungsep itu hanya coba-coba berjualan aja. Nothing to lose. 
Apapun alasannya, kalau di dasari dengan passion, semua unsur pasti akan dipikirkan dengan baik. Saya enggak habis pikir, dengan barang handmade yang dijual setara dengan harga bahan mentahnya. 
Lha apa yang berjualan itu mendadak amnesia, kalau banyak hal lain yang harus dimasukkan dalam menghitung harga? atau mungkin penjualnya itu seorang peri dengan tongkat sihir yang mengubah sekumpulan pita menjadi aplikasi dalam sekali ayun?
Atau mungkin dia hanya tergiur dan tergoda untuk mencoba, melihat postingan crafter lain yang sudah punya "nama" yang orderannya luar biasa, lalu begitu mencoba merasa lelah dan gagal.

Ah, whateva lah.

Menjadi crafter itu proses. Awalilah setiap proses dengan cinta, dengan passion. Hal-hal lain akan mengikutinya. Kalau sudah cinta pasti akan sayang. Kalau sudah sayang pasti enggak akan membully karyanya sendiri. Gagal berkreasi dan merasa lelah? Sebelum kalimat itu terucap setelah mencoba ini-itu, pikir lagi deh, bener enggak craft itu adalah passionmu.

 


Thursday, April 14, 2016

Review Undakan Menjerit Lockwood & Co.


Denger Lockwood pertama kali di obrolan grup WA. Pecinta Harpot waktu itu lagi ngobrolin filmnya, entah kenapa obrolan bergeser ke Lockwood. Enggak penasaran juga sih, baru waktu ada IBF di Malang, setelah kecewa sama stand IBF yang enggak oke. Kami ( saya, Veve dan Jevon ) akhirnya ngider deh ke tobuk-tobuk yang dilewati sepanjang perjalanan pulang. Di tobuk terakhirlah, buku ini berjodoh sama saya. Bukunya ada di deretan buku diskon. Harganya jadi sangat lumayan. Sebenarnya yag dijual online ada yang lebih murah. Tapi kalau dihitung sama ongkir ya sama ajalah jatuhnya.

Enggak langsung beli, karena memang enggak ada budget buat beli buku. Alias bokek. hehehe. Simpan dulu buat anggaran bulan depan, sekalian beli buku buat ultah Veve.

Sampai di rumah, browsing-browsing review, enggak baca banyak-banyak, takut spoiler. Kesan dari browsing sih, Lucy salah satu karakter di buku ini agak mirip-mirip Ella di Ghost Knight .

Karakter :

Lucy ( POV Lucy ) seorang cenayang, meninggalkan kota kelahirannya menuju London . Singkat cerita, Lucy akhirnya bergabung dengan agensi Lockwood.
Setting cerita adalah tentang London yang dipenuhi dengan hantu. Jadi Lockwood & Co adalah agensi pengusir / penangkap  hantu .
Lucy mengingatkan saya pada Vivianne. Saya sungguh enggak menyangka kalau Lucy ini adalah cenayang. Pikir saya cerita Lockwood ini enggak ada model-model cenayang gitu. Jadinya waktu baca, rasanya Vivianne ini masuk lagi ke kepala. Enggak suka, karena isi kepala Vivianne itu bikin saya takut.
Di pertengahan bab awal, baru kelihatan karakter Lucy, enggak sama sih dengan Vivianne, karena Lucy itu baper  dan Vivianne lebih spontan.

George. Saya cinta George. Lupakan penampilannya yang berantakan dan "mengerikan". George smart, sistematis. George ini di Lockwood seperti bagian staff kantor, haha. Dia yang melakukan riset dan menyimpan data-data. Saya suka setiap pertengkarannya dengan Lucy. Suka juga dengan semua hal yang dia lakukan untuk berjaga-jaga.
Tapi setelah membaca buku 1 ( baru satu yang dibaca ), saya kok punya firasat kalau George ini bakal " dimatikan " duluan sama Mr. Stroud di buku-buku selanjutnya. Mudah-mudahan enggak ada karakter yang mati sampai habis serialnya. Jadi, Mr. Storud, kalau George harus mati, matinya yang keren ya . Jangan mati karena noble idiocy, mati konyol ketimpa rak buku yang didorong hantu misalnya. Tapi biar George matinya yang heroik gitu, yang bikin baper dan bangga. Hahaha...

Anthony Lockwood.
Pemimpin di Lockwood & Co. Lockwood ini tipe pemimpin yang cool, misterius, smart, dan perhatian. Model-model yang sempurna gitu. Saya kok pengin ada masa lalu yang kelam dari Lockwood ini . Karena belum baca buku 2 dan 3, mudah-mudahan ada sesuatu di masa lalu Lockwood yang membuat Lockwood ini enggak perfect.

Cerita
Ceritanya tentang Lockwood, Lucy dan George yang menyelesaikan kasus hantu di London. Ceritanya oke. Seru. Hantunya seharusnya bikin takut, karena deskripsinya memang mengerikan. Tapi di awal-awal cerita saya lebih tertarik dengan kenapa dan cerita apa di balik kematian mereka. Hantu yang bikin ngeri baru saya rasakan di bab-bab akhir , karena alurnya berubah sangat cepat.

Detail
Kalau baca buku, saya selalu melihat karakternya lebih dulu. Kalau karakternya kuat, biasanya cerita apapun jadi bagus. Lalu detail. Suka dengan detail kecil yang ada di buku . Seperti kebiasaan minum teh, giliran mengambil biskuit, taplak di meja makan,permen mentol, sampai kebiasaan-kebiasaan George. Suka.


Buat yang suka cerita detektif, fantasy, dan horor, buku ini recomended. Baca deh.
Selanjutnya, ngeroll dulu buat beli buku 2.




Friday, April 8, 2016

FAN FICT ( LADY-TOBY )

Lady memainkan ujung kerudungnya dengan gelisah, berkali-kali menarik nafas panjang , sengaja untuk memancing reaksi Toby.
Toby menunggu. Tahu kalau Lady tidak akan membuang waktu.
" Look, Toby. Aku senang akhirnya kali ini bukan sekumpulan cewek histeris yang mengejarmu. Aku sangat senang kalau kali ini kamulah yang mengejar seorang gadis. Tapi Vivianne? sebaiknya jangan dia" sembur Lady.
Toby tertawa kecil, fokus menyetir.
" Iya, Aku tahu Vivianne baik, dia juga cantik. Tapi dia itu magnet segala masalah. Dan..."
" Emmm Lady, kita bicara lagi nanti.  ikat tali sepatumu, ikat juga ujung kerudungmu ke belakang. Arah jam 9, wartawan sudah menunggumu" potong Toby.
Mobil masuk ke halaman Kejaksaan. Ada selusin wartawan yang duduk di teras dan memperhatikan setiap mobil yang masuk. Toby menutup semua jendela.
"Haaaishh...dengar ya, aku belum selesai. Stay away from her . OK!"
Lady memeriksa lagi tali sepatunya, mengikat ujung kerudung ke belakang, memeriksa dokumen di tas lalu menarik lengan Toby.
"Heiii,...biarkan aku berhenti dulu!" seru Toby.
"Waktuku hanya 2 menit. Begitu mobil berhenti mereka akan berlari secepat kilat menuju ke sini. Ini nomer hp ku. Private, call me anytime. Aku pergi ya. Wish me luck!"
Lady menulis di lengan baju Toby mengabaikan protes Toby, lalu bergegas keluar mobil. Berjalan dengan anggun, menyambut wartawan yang sudah berlari ke arahnya.
Toby menggerutu, lalu menggulung lengan bajunya sampai ke siku.

*Stuck

Thursday, April 7, 2016

Karena MIKA



Seorang sahabat meminta bantuan saya untuk membelikan mika khusus box. Saya dengan senang hati meng-iyakannya.Toko yang menjual mika ini enggak jauh, hanya 10 menit dari rumah. Jadi saya oke aja.

Awalnya saya kira ini mika ukuran panjangnya enggak lebih dari semeter. Tapi ketika cek lagi ke toko, huwaaa.. ternyata panjangnya hampir 1,5 meter. Keriuhan sudah dimulai sejak di toko. Karena beliau nitip 4 meter, mau enggak mau itu mika harus dibeber dulu, soalnya berat, gulungannya baru dibuka dan yang jaga toko itu semua embak-embak. Alhasil, karena tokonya sempit. Kami bawa gulungan mika itu ke teras toko, lantai disapu dulu supaya bersih, barulah mikanya dibeber, hahaha... jadi perhatian orang sepasar deh. ( Toko ATKnya ada di pasar ).

Setelah berhasil dipotong, saya bingung gimana cara bawanya? naik motor dengan tuan muda lagi.
Mbak penjaga membuatkan tali cangklongan dari rafia supaya bisa saya bawa seperti tas. Smart !, masalahnya itu mika panjaaaaaang....jadi ketika saya cangklong, saya sudah menjatuhkan tumpukan kertas kado lalu lanjut  memukul tukang parkir dengan bagian belakang mika saya. Hahaha... maaap ya pak, enggak sengaja.

Naik motor dari pasar ke rumah lancar jaya. Copas lewat sawah yang enggak banyak kendaraan. Sampai di rumah baru saya mikir. Ini nanti packingnya gimana lagi. Sempat terpikir untuk memotongnya jadi 2 bagian. Tapi saya mikir lagi, nanti jadi enggak bagus kalau mau dibuat box dengan ukuran yang besar. Ya sudah, biar dipacking seperti itu aja, saya bungkus koran dengan lakban keliling. Mika digulung lagi menjadi lebih kecil sama papi, saya bungkus dengan koran dan dilakban rapi.

Karena mengirim paket dengan penampakan seperti ini adalah pengalaman baru , jadi saya timbang dan ukur dulu di rumah. Kalau beratnya sih cuma sekilo lebih, masuk 2 kilo kalau nanti dihitung per kilo. Kalau diukur pakai rumus volume juga enggak sampai 2 kilo lebih. Jadi seharusnya ini paket aman-aman aja, enggak lebih dari 2 kilo. Oke deh, berangkat!

Pagi-pagi Papi menyarankan untuk menempel kresek warna merah di bagian belakang mika, katanya biar kelihatan , seperti orang-orang yang bawa paralon atau besi panjang itu lho. Ih Norak ! 
Tapi lama-lama saya pikir ada benarnya juga. Soalnya jalan menuju Ekspedisi itu jalan besar, dilewati kendaraan besar, lewat terminal pula. Mau enggak mau saya tempel dah kresek merah sebagai penanda .
Sebelum jam 8 saya berangkat. Kalau harus nunggu karena ekspedisi belum buka, it's oke, yang penting jalanan masih sepi.

Tapi ternyata.... oh... ternyata, di jalan ada operasi kelengkapan sepeda motor. Huhhuhu.. saya dihentikan embak Polwan yang cantik. Duh, bukan masalah kelengkapan suratnya. Tapi ribetnya itu lho....

"Pagi Bu, silahkan minggir, boleh lihat SIM dan STNK Bu?"
"Bentar ya mbak, susah nih " jawab saya manyun.
Ribet nurunin tuan muda, ribet lagi nurunin mika.
"Ini apa Bu? paralon?" Embak Polwan memutar-mutar mikanya,sambil mencoba nyuil sedikit kertas koran yang membungkus mika itu. Ya , enggak bisa wong sudah saya lakban keliling.
"Mika mbak, buat box"
"Oooh..."
SIM dan STNK saya cuma dilihat sepintas, enggak juga dicocokan sama nopol motor saya. Haiiish.. ngapain distop  tadi...
"Hati-hati ya Bu, bahaya nih bawa begini , bawa anak kecil lagi" katanya sambil mengembalikan SIM dan STNK saya.
Saya tersenyum kecut.
Balik lagi ribet naikin tuan muda dan nyangklong mika. Periksa kanan-kiri, cek kresek merahnya masih ada apa enggak, saya cusss lanjut.

Ekspedisi memang masih tutup, jadi saya selonjoran dulu di depan ruko. Mbak Hana ( Pegawai JNE ) yang datang 10 menit kemudian langsung takjub dengan paket yang saya bawa.
" Apaan ini Bu?"
"Mika" jawab saya, nyengir.
Paket saya yang aneh selama ini hanya berupa kaleng biskuit untuk packing roseburn atau gardenia, jadi yang ini baru buat mbak Hana. Mikanya ditimbang dan diputar-putar.
"Hitung berat aja ya Bu, ga usah dihitung volume" kata mbak Hana.
"Okeeh, bungkusss!!!"
Paket sampai 3 hari kemudian. Utuh. Saya lega sekaligus senang. Siapa yang mau nitip mika lagi. Sinih....:D



Tuesday, April 5, 2016

My OS, My Rules

Setiap ada penjual pasti akan ada pembeli...di dunia OS ini..para pelaku OS mendapatkan customer ibaratnya seperti memilih kucing di dalam karung...tidak ada yang tahu kucing berwarna apa yang dipilih...tidak ada yang akan tahu apakah kucing yang dipilih akan mencakar atau tidak.

Hampir 3 tahun berjualan online, udah berbagaiu macam tipe calon customer saya temui. Harapannya tentu saja hanya tipe-tipe yang baik saja yang akan muncul di OS saya..

Meskipun demikian, sama halnya dengan OS yang lain, tak jarang pula saya mengalami hari buruk karena Customer saya..
Ada yang cuma nanya-nanya mlulu...
Ada yang udah direkap trus hilang entah ke mana...
Ada yang nawar sampai nyungsep..sep.... habis itu ga jadi order...
Ada yang minta diskon, minta bonus, plus minta free ongkir...

Tapi ada pula yang berhati malaikat..
Ada yang cuma nanya sekali...nanya no rek tanpa banyak ruwet langsung transfer
Ada yang diem aja walo paketnya ga nyampe-nyampe...
Ada yang rela kelebihan ongkirnya ga dikembalikan...

Saya pribadi bersyukur untuk semua tipe customer yang mampir di lapak saya.
Bgi saya mereka mengajarkan banyak ilmu yang tidak akan saya dapatkan di buku manapun. Terutama ilmu kesabaran dan disiplin menaati aturan yang dibuat sendiri.

Peraturan atau Prosedur pemesanan di setiap OS bervariasi dan ini sebenarnya merupakan alat bantu yang baik bukan hanya untuk penjual tetapi juga pembeli..
Tetapi..... kita tak bisa mengontrol perilaku customer yang kadang cuek bebek terhadap prosedur yang udah kita sematkan di setiap lapak kita.

Itulah sebabnya saya akhirnya membuat aturan baru...bukan untuk customer..tapi untuk saya sendiri..

Dan Aturan itu adalah :

1. Tidak akan pernah memproses orderan jika transferan belum masuk
Sebenarnya aturan ini lebih karena Usaha saya adalah usaha modal cekak... modalnya ibarat sinetron kejar tayang..alias kalau tidak dibayar dimuka tidak akan ada modal saya untuk membeli bahan hihihihi...
Tapi dalam beberapa kondisi kadang saya melanggar aturan itu terutama untuk customer yang repeat order dan orang-orang yang sudah saya kenal...

2. Pantang update status tentang perilaku customer saya ( mudah-mudahan ini berlaku terus selamanya )
Kadang-kadang ada customer yang cerewet ini-itu, minta ini itu....tapi giliran diminta transfer leletnya minta ampun...
Kalau menuruti hati..rasanya gatal tangan ini update status paling tidak si empunya tersindir dan segera menunaikan kewajibannya.
Tapi akhirnya saya lebih memilih mengingatkannya lewat inbox memberinya batas waktu dan yang paling penting adalah melupakannya...
Status di FB personal kadang-kadang bias..bisa saja ada customer lain yang sensitif atau bahkan calon customer yang stalking hendak order jadi merasa tidak nyaman dan akhirnya tidak jadi atau bahkan membatalkan orderan di OS kita.
Bukannya tidak pernah, saya pernah sekali mengupdate status tentang customer yang menawar dengan harga nyungsep..lebih karena sakit hati saya, karena yang menawarnya adalah juga seorang crafter...:)

3. Mengawal orderan agar sampai di tangan customer dengan selamat
Sebenarnya tanggung jawab OS selesai ketika no resi sudah diberitahukan kepada Customer..
Tapi saya secara pribadi sering merasa tidak enak jika status paket belum sampai apalagi lebih dari seminggu.
Meskipun customer belum complain saya selalu mencari tahu terlebih dahulu mengapa paket saya belum sampai...
Itulah sebabnya saya selalu bertanya customer biasanya menggunakan ekspedisi apa ..karena kalau sudah berlangganan di satu ekspedisi proses pengiriman akan lebih cepat sebab kurir  sudah hapal dengan alamat customer.
Alasan lain adalah karena agen-agen ekspedisi di tempat saya lumayan banyak dan jaraknya tidak terlalu berjauhan sehingga ekspedisi apapun yang diminta customer biasanya saya bisa mencarikannya..

Itu aturan dasar untuk saya pribadi. Saya rasa setiap OS punya aturan sendiri-sendiri..tentunya demi kenyamanan antara penjual dan pembeli.

Setiap customer , calon customer, atau yang sekedar stop by ..baik yang cerewet, yang pengertian, yang kabur, yang cuma nanya - nanya..atau yang sekadar membandingkan harga...I love you all..no hard feeling ya...