Thursday, September 29, 2016

Titik Jenuh



Kalau sedang titrasi, titik jenuh itu kalau semua molekul di larutan yang dititrasi udah bergandengan semua dengan larutan titran. Larutannya jadi jenuh, jika satu tetes larutan titran yang jatuh akan bergandengan dengan indikator dan merubah warna larutan . Bingung ya... hehe..

Jenuh itu eneg, rasanya kekenyangan. Setiap crafter pasti pernah merasakan ini. Apalagi crafter penjual yang menjual produk grosiran. Duitnya oke, karena cash flow cepat, tapi moodnya harus dijaga, karena yang dikerjakan ya itu-itu aja.

Saya seringgg sekali jenuh. Membakar ribuan kelopak, ngeroll berpuluh-puluh meter tiap hari ya pasti ada satu titik yang membuat saya jenuh. Udah 3 tahun lebih. Bukan karena enggak suka, suka dong. kan ada duitnya ( tetep matre ). Tapi di satu sisi pengen sekali bikin yang really me.

Saya masih suka nyolong-nyolong membuat hoopart. Tapi mengerjakannya barengan dengan list orderan aplikasi itu bikin stres tingkat dewa. Meski perjanjian awal selalu saya tekankan kalau saya ga bisa custom order yang saklek, tetep aja prosesnya enggak segampang yang dilihat dan dipikirkan . Bolak-balik konsultasi biar yang pesan juga sreg.

Semakin ke sini, semakin kuat keinginan saya fokus pada handmade yang saya banget. Penginnya jalan dua-dua. Aplikasi sebagai mesin uang dan hoopart sebagai identitas saya.
Sangat mengerti dengan teman-teman crafter yang frustrasi, masih bergelut dengan orderan itu-itu aja padahal ingin banget mengerjakan yang lain. Yang pengen mengerjakan craft yang free, yang tidak memikirkan pangsa pasar, yang tidak memikirkan keuntungan.

Buat yang sedang jenuh dan yang sedang mikir, " Saya ini crafter apaan ya? craft model apa yang benar-benar saya? yang sedang merasa berjalan di tempat dan merasa hanya bisa itu-itu aja.
I feel you.  Memang harus berani ngambil langkah awal, dan itu susah banget. Saya selalu tidak berani di bagian itu, padahal keinginan hati udah kuat banget. Nikmati saja, akan ada waktunya. Itu saya percaya.

So, keep happy, keep crafting.

The Host, Cinta Agape




Referensi dari Nana.
Beli online, tebel banget.
Pertamanya agak-agak gimana gitu, karena romans is really not me.
Tapi kata Nana ini bukan genre romans kok. Ya dah oke. Dicoba.
Membacanya cuma 30 menit tiap hari, Di sekolah, pagi 15 menit sambil nungguin tuan muda masuk, siang 15 menit sambil nungguin tuan muda pulang. 

Bab-bab pertama udah kerasa lelahnya. Alurnya lambat. Udah mau nyerah aja. Saya sih tidak pernah keberatan dengan penggalian latar belakang tiap karakter, tapi ini rasanya kok lambat banget.
Baru kecantol di halaman 100 lebih, ketika Wanda/Melanie tertangkap dan bergabung dengan Jeb dan yang lain.
Di pertengahan mulai bosan lagi. Mulai muncul pertanyaan " ini kenapa Wanda ga keras sekali-kali ya?"
Oke, karakter Wanda sebagai jiwa memang tidak mengijinkan unsur keras itu dalam dirinya. Tapi dia terlalu perfect. Paling tidak penulis bisa jadikan dia frustrasi gitu sedikit. He..he.. mulai deh. :p
Baru di bab-bab terakhir ga bisa berhenti baca, karena konfliknya udah mulai kelihatan dan alurnya mulai cepat.
Ide ceritanya sih oke banget. It's about love. Cinta Agape. Cinta tanpa syarat, cinta penuh pengorbanan.

Saya selalu suka Siblings love. Cerita yang paling kuat yang saya rasakan yang tentang perasaan Wanda kepada Jamie. 
Suka juga dengan bagaimana Stephanie menulis bagaimana cinta Jared-Wanda/Melanie dan cinta Ian-Wanda.
Cinta-cinta mereka mengingatkan saya sama cinta lainnya. Hahaha.. langsung baper mode on.
Cinta Ian-Wanda : Indah dalam, bergerak lambat tapi menenangkan dan menyenangkan. 
Cinta Ibby untuk someone akan menjadi cinta yang indah, yang sederhana, cinta dalam diam yang penuh makna.
 Cinta Toby untuk someone akan menjadi cinta yang menyembuhkan, cinta yang mengisi lubang-lubang di hatinya, cinta penuh kehangatan. 
Cinta Jared untuk Melanie , jadi ingat Cinta Keo untuk Noaki.
Cinta Keo untuk Noaki  seperti nyala api yang bergerak liar, seperti air mendidih  yang menggelegak, meluap-luap penuh semangat. 
Cinta Keo untuk Noaki seperti kembang api, satu cahaya meledak menjadi ribuan warna.

Siapa Ibby, Toby, Keo-Noaki? scroll isi blog deh :p

Novelnya penuh deskripsi yang detail. Bacaan yang bagus buat yang belajar menulis Show don't tell.


Monday, September 19, 2016

KEO NOAKI #6 : Layang-layang Hati



Kemping = Keseruan.
Tapi apa jadinya kalau ditambah insiden misterius seperti pencurian, sabotase dan kejailan?
Apa jadinya kalau Noaki jadi target si pelaku yang mungkin mendendam?

Tunggu itu belum semua. Formasi 8 bersitegang dengan Triple A. Surat-surat pribadi Formasi 8 yang dikubur secara rahasia telah dibongkar dan dicuripula. Keo dan Toby jadi sering berselisih. Ajeng dan Lady disibukkan dengan urusan cewek. Si Kembar khawatir perkemahan jadi kacau. Dan Sebastien merasa menjadi detektif gagal.

Di tengah semua itu, Noaki harus memberikan tanggapan kepada Keo. Lewat puisinya, Keo telah membuat Noaki super galau. Bagaimana Noaki keluar dari semua kerumitan itu ? Apakah Formasi 8 mampu membuktikan kekuatan persahabatan dan menemukan si pelaku ?


Seri ke-6 Keo&Noaki hanya dijual online dan dicetak terbatas.
Untuk pemesanan silakan hubungi kontak :
pin bb d1215802 / wa 0896 3741 2741





Saturday, September 10, 2016

Berhenti Sebentar

7 September 2016.

Sedang di chat dengan 2  sahabat , dua chat.
Saya tanpa sengaja menyakiti salah satunya.
Tanpa menunggu lama, karma datang menampar saya.
Tepat sasaran.
Mengembalikan saya ke tempat saya seharusnya berada.
So true.
Saya tidak akan pernah bisa menginjak 2 perahu. Salah satunya akan tenggelam, cepat atau lambat.
Atau malah dua-duanya akan menyeret saya masuk ke dalam air.
Enggak usah menulis, jualan saja.
Deg.
Seketika itu perahu saya tenggelam.
I'm quit.
Kacau seketika.
Beberapa teman di BB bertanya, tidak saya jawab. Ada yang sampai mengejar ke WA dan fesbuk.
Terima kasih, I'm fine.
Sepertinya akan berhenti menulis.
Tahu. Mengerti.
Mengapa mendengarkan kata orang lain?
Mengapa percaya kalau kamu enggak bisa.
Ya. Tahu.
Tapi tidak semudah itu. I need time.
Berpikir dan membuat prioritas.
Mana yang harus diutamakan.
Bagaimana kalau saya hanya jalan di tempat?
Bagaimana dengan kewajiban yang lainnya.
Iya. Tahu.
Bisa diatur. Jangan terprovokasi.
Iya. Mengerti.
Bisakah saya diam sebentar? membeku?
Terima kasih, buat yang sudah mendukung.
Silent reader blog yang tiba- tiba muncul menyapa
Menagih postingan baru.
I'm fine.
Tunggu ya
Sebentar
Menata hati dulu
Biar layak dan pantas.

11 September 2016

1 : 42 pm.

Secangkir kopi
6 lusin deadline
Ga elpiji habis
Setumpuk piring kotor

Masih bernapas
Enggak ada yang sakit
Masih ada list yang harus dikerjakan
Masih banyak buku yang harus dijual
Masih besar mimpi yang ingin dikejar

Blessed.


Thursday, September 8, 2016

Project I-1109


 #Fanfict
#Ditulis mulai tanggal 7 September


Seb berlari mendahului Ibby.  Bukit kecil itu sudah di depan mata. Tahun lalu Keo membawa Seb dan Noaki ke sini. Formasi 8 sudah memutuskan kalau bukit ini akan menjadi hadiah yang sempurna  untuk Ibby. Seb tersenyum lebar, mata hijaunya berkelip penuh semangat  membayangkan reaksi Ibby ketika mereka sampai di atas bukit.

"Seb, tunggu!" 

"Ayolah Ib, kakimu panjang, masa tidak  bisa menyusulku, nanti keburu gelap dan kita tidak akan mendapatkan apa-apa." Seb berhenti, menunggu Ibby mendekat, lalu secepat kilat berlari lagi.
Kemarin, formasi 8 membuat rencana. Ibby pasti tidak  nyaman kalau ulang tahunnya dirayakan dengan banyak orang yang mengelilinginya. Jadi mereka memutuskan Seb saja  yang akan menyelesaikan misi ini.
Sambil berlari, Seb meraba tas ranselnya, titik yang ditandai Keo ada di depan. Seb mengeluarkan kantong kecil dari saku depan ransel, berhenti sebentar lalu menuang isinya ke tanah, menginjak-injaknya lalu membuang ponsel  di dekat situ. Ponsel Seb berwarna merah  menyala, Ibby pasti akan melihatnya.

Seb, menunggu sampai Ibby melihat dia, lalu berlari lagi.

Beberapa meter dari tempatnya berhenti tadi, Seb bersembunyi, mengawasi Ibby yang berjongkok memungut ponselnya, lalu mengorek-ngorek tanah memungut sesuatu. Berhasil! sorak Seb dalam hati.

Next!

"Ibby! ayooooooo!" teriak Seb.

Kali ini ia tidak berlari, menunggu sampai Ibby menyusulnya.

"Ponselmu," Ibby menjitak kepala Seb.

"Kita mau kemana? ini sudah jauh dari gerbang villa," Ibby memandang sekeliling, mengangkat kamera lalu mengambil beberapa gambar.

Seb tersenyum lebar.
"Ikut saja"
Mereka mendaki bukit kecil itu. Matahari sudah condong ke barat, semburat jingga mulai membungkus langit.
Sampai di atas, Seb menahan nafas, menunggu reaksi Ibby.
Seperti yang sudah diduga. Ibby langsung mengangkat kameranya, bunyi halus bidikan kamera yang ditekan berkali-kali sudah mewakili apa yang dirasakan Ibby. Seb mundur, membiarkan Ibby menikmati momen ini. Sama seperti apa yang dirasakan Seb dulu, Ibby pasti terpukau. Langit jingga dengan hamparan karpet bunga tersaji di depan mereka.

"Satu lagi Ib, you're gonna love this. Tunggu di sini," bisik Seb.

Seb berlari ke lembah, menuju salah satu pohon besar di sana. Belajar dari pengalamannya dulu, kali ini Seb memakai topi, ia tidak akan pulang dengan rambut penuh dengan kotoran burung.

Tidak perlu berteriak, suara derap kaki Seb sudah membuat ratusan burung yang hinggap di pohon itu berhamburan. Seketika langit dipenuhi ratusan burung yang beterbangan. Seb memandang ke atas bukit sambil tersenyum lebar. Take that Ib!

Ketika kembali ke atas bukit. Ibby yang masih sibuk dengan kameranya, tidak menyadari kehadiran Seb, membidik apapun yang muncul di depan,  hidup di dunianya .

Seb duduk di atas hamparan rumput tebal, mengeluarkan isi ransel. Sekotak penuh kue dari Lady, tak perlu dilihat, isinya pasti ketan sarikaya. Kartu ukuran besar berisi ucapan selamat yang ditulis tangan oleh semua anggota formasi 8 dan sebuah kotak kayu yang sudah disegel dengan lilin dari Mami. 
Hadiah dari Keo sudah ada di tangan Ibby, mesin jam tangan mekanik yang dibongkar Keo ketika berumur 5 tahun. Ibby pasti suka. Bagian-bagian kecil mesin jam itu akan melengkapi koleksinya.

"Ambil saja, masih banyak yang di simpan Bu Sarti. Dulu aku penasaran bagaimana jam ini bisa bergerak hanya dengan digoyang-goyangkan. Begitu dibongkar,  tidak bisa aku kembalikan. Sebagian nanti aku tebarkan di titik yang sudah aku tandai, bawalah sebagian juga untuk berjaga-jaga."

Seb tiduran menikmati senja, menunggu Ibby selesai dengan kameranya. Suara bidikan kamera masih berbunyi, langit mulai gelap. Hening.  Hanya terdengar gerakan Ibby, suara bidikan kamera , suara kepakan sayap burung yang semakin samar dan desah napasnya sendiri. Beberapa saat kemudian, tidak ada suara lagi. Ibby sudah berhenti.

" Seb! aku sampai lupa apa  yang mau difoto untuk tugasmu." Ibby duduk , memukul kaki Seb.
Seb tidak menjawab. Mission Accomplished.
"Nikmati saja senja ini Ib. Itu ketan sarikaya, termos berisi teh hangat dan hadiah-hadiah dari semua orang yang menyayangimu" 
Seb balas menendang kaki Ibby lalu menunjukkan tumpukan barang yang dikeluarkan dari tas ranselnya.
Ibby meraih kartu, membacanya sekilas. Senyumnya mengembang. Sadar apa yang sudah dilakukan adiknya, mendadak Ibby menerjang Seb dan memeluknya erat-erat. 
"Terima kasih, terima kasih, ini indah sekali," bisiknya.

 joyeux anniversaire Ibby. Je t'aime


#Early Birthday present, karena mungkin tanggal 11-12 enggak bisa full online
#I love you my prince






Friday, September 2, 2016

Project WT-2904

 
 
 
Because I miss U ..both of you
#Project WT-2904
 
Mesin cuci itu berputar pelan, gulungan kertas, crayon, gunting , bola, dan beberapa benda yang tak jelas tampak di dalamnya. 
 
Keo memandang Tuan Handy dengan heran. “Apa yang harus kami lakukan sekarang?” “Mami tidak memberitahu kalian?” Tuan Handy balik bertanya. 
 
“Kata Mami, nanti Tuan Handy yang akan mengurus semuanya” jawab Keo. 
 
“Crazy crafter...” gerutu Tuan Handy.
 
“Masukkan semua benda yang kalian bawa untuk ulang tahun sahabat kalian itu ke dalam sini” perintahnya.
Keo, Noaki, Toby, Ajeng, Lady dan Seb maju mengelilingi mesin cuci, masing-masing memasukkan hadiah yang sudah mereka persiapkan untuk ulang tahun Wamena-Timika. 
 
Kaos kaki baru dari Keo , frame scrapbook kecil bergambar formasi delapan dari Noaki , pita biru dari Ajeng untuk Timika, tali sepatu berwarna hijau cerah hadiah dari Toby , poster pemain sepak bola idola Wamena dari Lady , lalu flash disk dari Seb. 
 
Mula-mula mesin cuci berputar perlahan, lama-lama semakin cepat, berderit menjerit-jerit, mengeluarkan bunyi seperti papan tulis yang dicakar-cakar. Keo dan lainnya menutup telinga, tak tahan dengan bunyinya. Beberapa detik kemudian, mesin itu mendadak berhenti . Keo melongok ke dalam, lalu memandang Tuan Handy dengan pandangan bertanya. Di dalam mesin cuci tidak ada yang aneh, semua benda tadi memang hancur berkeping-keping, tapi itu tidak aneh karena mesinnya tadi berputar sangat kencang.
 
“Sudah kuduga, mesinnya sudah rusak. ayo ikut aku.” Tanpa melihat isi mesin cuci, Tuan Handy membuka pintu lain.
Keo, Toby, Noaki, Lady dan Ajeng mengikuti. Seb menyusul sambil mengomel, kesal karena flash disknya hancur sia-sia.
 
Mereka masuk ke sebuah ruangan penuh dengan labu kaca. 
 
“Seperti alat destilasi” bisik Seb. “Kalian lihat tetesan air yang hampir jatuh itu?” Tuan Handy menunjuk rangkaian labu dengan pipa yang berbelit-belit. Di ujung rangkaian itu ada pipa dengan tetesan air yang makin lama makin besar, di bawahnya ada Labu kaca berisi cairan ungu keperakan yang menggelegak, asap putih tipis keluar dari dalamnya. 
 
“Begitu tetesan itu jatuh ke dalam labu, kalian punya waktu sepuluh detik untuk memberikan hadiah untuk sahabat kalian.  Letakkan asaja di pinggir Labunya. Ingat ya, sepuluh detik, lewat dari sepuluh detik, kalian pulang dengan tangan hampa.”
Keo dan lainnya berpandangan, “Hadiahnya sudah hancur tadi! Apa yang harus kami berikan sekarang” seru Seb. 
 
Tuan Handy mengangkat bahu lalu berbalik pergi. 
 
“Ayo cepatlah berpikir teman-teman, tetesannya semakin besar, sebentar lagi jatuh “ kata Ajeng panik.
“Berikan apa saja yang kita bawa sekarang, ikat rambut, peniti, pensil atau apa saja deh” usul Lady. 
 
“Tunggu! Tuan Handy tidak mengatakan tentang suatu benda, mungkin ada mantra yang harus diucapkan” Toby berjalan mondar-mandir, berulang kali melirik tetesan air di ujung pipa. 
 
“ Errr...Sim salabim?” sahut Seb. 
 
“Tidak lucu Seb!” kata Noaki jengkel. 
 
“ Aku tidak mau pulang dengan tangan hampa. Ayo berpikir...berpikir... hadiah untuk Wamena-Timika, apa yang bisa kita berikan untuk Wamena- Timika...tidak harus suatu BENDA “ Keo tersenyum lebar.
Tepat pada saat itu, tetesannya jatuh ke dalam labu.
 
1 detik, 2 detik..
 
“Hadiah kami untuk Wamena- Timika adalah kehadiran kami...” Keo Hadi Wibawanto memulai.
“disaat mereka membutuhkan...”lanjut Noaki Neomarica 
 
5 detik...
“Telinga kami, disaat mereka ingin didengarkan...” ujar Lovelie Ladie
 
“dukungan ketika mereka sedang bersedih.” Ajeng berbisik lirih
 
“saling menjaga...” kata Toby.
 
“satu dengan yang lain.” Seb mengakhiri. 
 
10 detik... 
 
Cairan di dalam labu berdesis, asap tebal muncul dari dalamnya bergulung-gulung memenuhi ruangan, membutakan mata Keo dan sahabat-sahabatnya. Beberapa menit kemudian angin berhembus pelan, membersihkan asap dari pandangan mereka. Tidak ada yang berubah dengan semua labu di dalam ruangan. Labu berisi cairan ungu keperakan sudah hilang. Sebagai gantinya, 2 buah charm perak berbentuk siluet anak kembar laki-laki dan perempuan tergeletak di meja. 
 
Keo mengambil dan mengamatinya. “Lihat, ini” Keo membalik charm itu dan menunjukkan tulisan F-8 yang diukir dengan sangat halus. 
 
“ Ayo pulang! Masih ada waktu untuk membersihkan diri dan membungkus kado ini sebelum tanggal 29 berakhir” ajak Toby. 
 
“Pergilah! Jangan lupa tutup pintunya!” Tuan Handy berteriak, entah dari mana. 
 
“Terima kasih Tuan Handy!” balas Keo sambil berlari keluar diikuti dengan yang lain. Menjelang gelap, Formasi 8 sudah berkumpul di rumah Wamena-Timika, merayakan ulang tahun mereka dengan acara sederhana.
 “Terima kasih teman-teman, hadiahnya indah sekali, sekarang ceritakan apa yang kalian lakukan sepanjang hari. Kami tidak bisa menemukan kalian di mana-mana.” kata Wamena.
 
 Lalu semuanya sama-sama membuka mulut, bercerita bersahutan satu dengan yang lain.
 
 “Seb, aku penasaran, apa isi flash disk yang kau masukkan dalam mesin cuci?” tanya Timika. 
 
 “ Errr... tidak ada isinya, itu flash disk rusak”. Mendengar jawaban Seb, sontak semuanya diam, memandang Seb tak percaya.
 
“Hey! tidak ada yang memberitahuku kalau aku harus membawa sesuatu untuk dimasukkan dalam mesin cuci Tuan Handy. Jadi apa yang ada di sakuku, itu yang aku masukkan” protes Seb. 
 
Lady langsung menghujani Seb dengan cubitan, disusul dengan Timika, Noaki dan Ajeng. Toby tersenyum meraih gitar dan memetiknya pelan. Keo spontan bersenandung. Malam itu perayaan ulang tahun Wamena- Timika ditutup dengan lagu ciptaan Toby yang dinyanyikan Keo dengan merdu. 
 
"Love each other, take care each other, protect each other"
Happy Birthday Wamena-Timika. Wish U All The Best.