Friday, October 14, 2016

Keo&Noaki #6 : Kalau Veve layang-layang, Mami adalah Anginnya


Veve histeris begitu tahu seri 6 datang. Tanpa membuka seragam, masih berkaos kaki, tanpa ijin langsung nyomot 1, masuk kamar.
Baru 10 menit, dia keluar kamar, duduk di dekat saya yang rempong packing. Dengan sengaja ber-uh-ah, berkyaaaa-kyaaaa..., ngikik-ngikik sambil tutup muka dengan buku. Sebel!
Malam itu, tidak ada hal serius yang kami bahas sambil gegulingan di kasur. Kami sibuk bersquee-squee, berkyaa-kyaaa, sambil membahas scene-scene favorit dia ( Akhirnya jadi spoiler buat saya , aaaack....).
Besoknya, saya niatkan membaca sampai ending.
Baru halaman 5, saya sudah mengalami mixed feeling. Seri KeoNoaki, terutama seri genap sering sekali membuat saya " jleb " dengan pemikiran Noaki tentang orang tua. Di seri 6 ini, saya "jleb" berkali-kali. Ketika membaca KeoNoaki series, biasanya saya larut. Ikut menjadi Keo atau Noaki. Ikut merasakan apa yang mereka rasakan. 
Tapi di seri 6 ini, saya mendua. Di satu sisi saya sangat mengerti apa yang dirasakan Noaki. Di sisi yang lain, saya merasa sering, sering banget melakukan apa yang dilakukan Ibu kepada Noaki. Sisi orang tua saya seolah diingatkan tentang apa yang saya rasakan dulu, sisi anak-anak saya seolah ingin mengingatkan agar level kesabaran dan pengertian saya kepada putri ABG saya dinaikkan. 
Ada banyak bab yang membuat terharu. Kuatnya persahabatan Formasi 8 terlihat dari penyelesaian setiap insiden yang menimpa Noaki. Tidak ada karakter yang tidak hidup atau sekedar lewat. Baik itu Formasi 8 atau kakak-kakak yang muncul, baik itu para pembina di camp atau karakter Triple A. Semuanya hidup dan mix blend dalam cerita. 
Ketika saya sudah selesai membaca, Veve masih belum lepas dari seri 6, membacanya ulang. Bukunya masih nempel sama dia. Dibaca sambil ganti baju, sambil makan, sambil nata buku pelajaran , sambil lipat baju, sambil..sambil lainnya.
Malam harinya barulah keluar pertanyaan serius dari dia.
“Mami, kenapa Noaki begini?”
Oh, I love this.
Cerita dalam setiap seri Keo&Noaki selalu menjadi kran yang membuka diskusi serius saya dengan dia. Seri 1-4 menjadi pembuka diskusi kami tentang persahabatan, tentang orang tua, tentang gadget, tentang pilihan-pilihan yang diambil tiap karakter. Seri 5 menjadi pembuka diskusi kami tentang perubahan fisik dan hormon, tentang pubertas, tentang Emisi Malam yang tidak pernah saya bayangkan bisa saya bahas dengan anak 11 tahun. Anak cewek pula!
Komen serius pertama yang meluncur dari mulut Veve adalah dia merasa LEGA. Lega karena kalau Bunda Ary bisa menuliskan buku yang “dia banget”, berarti ada banyak anak perempuan lain yang mengalami apa yang dia rasakan. Buku ini mewakili perasaan dan kegelisahan dia. 
Ketika dia bertanya kenapa Noaki seperti itu ? , saya tidak menjawabnya. Saya bertanya balik, menurut dia sebaiknya Noaki harus bagaimana.
Saya bertanya, kalau dia sedang mengalami crush pada seseorang, apa yang kamu rasakan? apa yang kamu lakukan?
Kalau sudah mengambil tindakan itu, apa manfaatnya? apa keuntungannya untukmu?
Lalu saya tunjuk deretan piala di atas meja belajarnya. Yang kamu raih itu karena apa? apakah perasaan crush itu membuatmu meraih semua itu? 
Dia diam, Veve mengakui bahwa suka dengan lawan jenis memang bisa menjadi candu, membuat ingin terus melihatnya, menariknya untuk terus berdekatan dengannya ( Veve langsung menunjuk di bab terakhir, bagian Noaki dan magnet ). Saya jawab kalau itu normal, tapi tubuhmu dan perasaanmu bisa kamu kendalikan. Veve mengerti, dia bilang ada jawabannya di penjelasan Tante dokter. Good.
Diskusi kami berlanjut dengan membahas banyak bagian dalam buku . Tentang perasaan suka, tentang pacaran , tentang masa depan, tentang Noaki - Keo.
Hasilnya kami sepakat. Noaki masih 12 tahun, Veve masih 11,5 tahun. Mereka berdua sama-sama masih punya mimpi, masih ingin bersahabat dengan banyak teman yang lain, masih ingin melihat dunia, masih banyak cita-cita yang pasti ingin mereka raih. Veve masih ingin menginap di hotel hasil jerih payahnya sendiri ( haha...), masih ingin menulis buku, masih ini dan itu.
“Tapi aku bisa bilang, sekarang persahabatanku dengan Keo sudah istimewa. Enggak perlu dibuat lebih istimewa lagi karena jadi enggak wajar, apalagi belum waktunya.” ( Noaki, Keo&Noaki#6).
Saya bilang, bertemanlah dengan siapa saja, bersahabatlah dengan siapa saja, jangan menjadi eksklusif hanya untuk satu orang, akan ada waktunya nanti, dan itu masih jauuuuuuuh. Punya perasaan suka dengan lawan jenis itu wajar. Tapi sukamu tidak harus kamu perturutkan sampai menjadi serius karena belum waktunya. Bisa jadi suka itu hanya sementara, ( dia langsung menyahut seperti Ajeng dan Lady ).
Sebagai orang tua, jujur saya takut dan khawatir, dan akan terus menjadi khawatir. Saya tidak selamanya bisa menjaganya secara fisik. Saya juga sudah pasti tidak bisa mengendalikan perasaannya. Jadi Veve harus punya pemahaman, dan pemahaman itu harus timbul dari dalam dirinya. Di akhir diskusi kami, dalam hati saya berdoa semoga pembicaraan kami membuat pemahaman itu tumbuh , membuat Veve mengerti dan bisa mengambil tindakan yang benar untuk kebaikan dirinya. Saya juga ingin dia kuat, percaya dengan kemampuannya sendiri dan tidak bergantung dengan orang lain. Kalau Veve adalah layang-layang, saat ini saya , orang-orang yang mengasihinya, juga sahabat dan teman-temannya yang akan menjadi anginnya. ( Supaya ngerti apa maksudnya ini, baca seri 6 yaaaa....). Hik, jadi mellow....
“..., tapi kamu tetap bisa menjelajahi langit dengan banyak cara lain dengan kekuatanmu sendiri. Bahkan di malam hari, saat hujan badai, atau di musim aduan....” ( Keo&Noaki#6 ).
Sekali lagi,dan lagi. KeoNoaki series menjadi jalan pembuka diskusi saya dengan Veve. Tidak ada ceramah yang menghakimi, tidak ada penjelasan yang tidak masuk akal. Pas. Perfect.
Pertanyaan terakhir Veve adalah : Nanti gimana Noaki sama Keo? apa nanti ada yang lain? seperti awalnya Ajeng sama Keo, terus Ajeng - Nata, enggak kan?
Jawaban saya : Ya enggak tahu, bukan mami yang nulissssss.....
Highly Recommended buat orang tua deh pokoknya.
#Diam-diam saya jadi mikir, kalau dulu saya 12 tahun, Bunda sudah 22 tahun. Kok ga nulis buku kaya gini sih? Kalau sudah ada KeoNoaki series, setidaknya ada buku yang mewakili saya ketika berumur 12 tahun, sehingga ketika jungkir balik kala itu serasa ada yang menemani. Haha.