Wednesday, November 23, 2016

MENJUAL CINTA ( PART 2 )


"Hai Sist, minta list harga aplikasi bunganya dong, makasih ya "
"Halo juga, maaf, sista ini golongan apa? Troll? peri? atau minion? Kami cuma melayani nenek sihir berhati emas dengan rambut gelombang yang berkibar-kibar ditiup angin."
Krik...krik...krik...

Chat di atas mempunyai resiko tinggi dicapture dan disebarluaskan di dunia maya. BTW, ada OS yang begitu? Penasaran.

Harusnya dan lazimnya, semua OS enggak memasang tanda "Hanya melayani pembeli golongan tertentu"
Siapapun dia, mau Peri, mau Troll, mau Minion, Mau Alien, mau matanya satu, kulitnya ijo, mau dia rambutnya ungu , golongan kanan , kiri, atas, bawah atau whateva lah. Prinsipnya sih dikau mbayar dan kasih alamat lengkap. Kalau saya tambahin satu lagi, manut. Haha.

OS ga memilih calon customernya, calon Customer lah yang memilih OS-nya. Etalase OS itu bukan hanya di lapaknya, tapi juga di wall pribadinya.
Biasalah, pembeli cerdas kan stalk-stalk dulu wall pribadi. Ini lagi ngomongin Facebook ya.
Jadi buat para pelapak, statusmu itu jualanmu.
Saya ogah   menulis status yang "menguntungkan" orang lain ( mis : gosip-gosip mencela atau membuat kepentingan orang lain jadi viral), share berita -berita hoax dari Fp yang minta like, share dan komen, atau status yang ngomongin kelakukan calon customer atau customer di wall pribadi ( rules number 3 ).

Saya selalu menarik garis tegas dengan calon customer dan yang nantinya menjadi customer.
Situ beli, saya jual. Situ berhak bertanya sedetail-detailnya, saya wajib menjelaskan sedetail-detailnya.
Mau jenis customer apa aja deh, saya udah pernah dapetin. Mulai dari yang cuma nanya doang, dari yang basa-basi dulu, yang transaksi nanya jawab sampai seminggu ga closing-closing sampai yang ga pake nanya langsung minta no rekening ( udah direkap sendiri plus ongkir dicek sendiri ) di menit itu juga langsung transfer. Kanjeng Dimas, bisa enggak customer yang terakhir ini digandakan?

Kalau ada yang aneh-aneh, ga mungkin saya ga bete atau baper, saya pan manusia juga, emak-emak lagi yang kadang , eh sering sih baper dan sensi. Kalau udah nemu yang aneh-aneh, rasanya pengen cakar-cakar tembok.
Untungnya ini jualan online, jadi bisa ditinggal dulu, ngapain kek sambil mikirin balasan chat yang tajam setajam silet tapi tetap sopan. Huwahahaha.
Chat saya dengan semua customer ga pernah menyimpang dari topik produk saya yang dibeli. Tapi, kadang kala ada juga customer yang menuntut service after sale. Biasanya ini yang beli karena pengin belajar. Saya ga keberatan. Pertanyaan susulan biasanya teknik membuat dan minta dikomenin hasil akhir yang dia buat setelah membongkar barang yang dia beli. Boleh, ayo sini.

Garis tegas itu enggak berlaku untuk pembeli buku.
Sekeras apapun saya step back, selalu balik ke situ-situ lagi.
Saya kerap terlibat emosional kalau lagi jualan buku.
Sapa yang enggak jadi terharu? kalau pembeli buku itu adalah anak-anak, yang harus jual buku koleksinya dulu demi membeli KeoNoaki's Series, yang patungan dulu sama teman-temannya, yang bolak - balik inbox ingentin supaya buku punya dia disimpan karena duit belum cukup.
Belum lagi kalau giliran cek ongkir, dan alamat dia jauuuuuuuh di pedalaman, harga ongkir lebih mahal dari harga bukunya. Sapa coba yang enggak terpengaruh? hik.
Pokoknya kalau urusan buku, saya selalu lemah hati deh.

Bersambung besok lagi yak.


Tuesday, November 22, 2016

MENJUAL CINTA ( Part 1 )



Jualan cinta ?
Iya dong. Semua produk yang saya jual selalu ada cinta di dalamnya.
Eaaaa.....
Beberapa waktu yang lalu ada yang minta diajarin  jualan. Lah apanya yang mau diajarin?
Mau jualan, ya jual aja. Teknik berjualan banyak di Google.
Bukan pelit , saya sendiri aja masih tertatih-tatih jualan di internet. Sampai sekarang cuma bisa jualan tradisional aja , tak lain dan tak bukan karena saya OS kere, hahaha... dana untuk iklan berbayar mah masih belum masuk anggaran.
Tapi kalau ditanya apa yang perlu disiapin, selain hape atau lappy atau apapun supaya bisa online ya harus cinta dengan yang dijual, dan cintanya harus cinta buta.

Saya mulai berjualan craft 4 tahun yang lalu, awalnya hanya upload di wall Facebook  hasil iseng jahit sisa-sisa flanel buat mengajar dulu, bentuknya bando ada bonekanya. Jangan ditanya gimana penampakannya. Mengerikan :D

Eh, kok ada yang komen dan mau pesan. Dari situlah, saya mulai menerima pesanan.
Karena modalnya dengkul, alias ga pernah nyetok bahan baku, jadi saya tidak pernah punya stok. Kalau transfer ya dikerjain, kalau enggak yang udah ( rules number 1 ).

Seiring berjalannya waktu,  friendlist mulai terisi dengan teman-teman crafter. Facebook sangat membantu karena kalau sudah berteman dengan satu orang crafter, Om Mark dengan sangat bersemangat merekomendasikan teman-teman crafter lain yang bisa di-add.
Setelah teman bertambah banyak, saya mulai mencari grup. Grup crafter tentu saja.
Dulu grup crafter tidak fokus untuk jualan, ngumpul aja saling curhat dan saling ngajarin. Jualan ada sih, tapi enggak seru-seru amat jualannya.
Waktu itu flanel masih berjaya, semua produk craft masih dikuasai sama kain satu ini. Jualan saya yang jadi best seller waktu itu bros hijab. Pangsa pasar saya reseller, jadi jualan di grup atau di wall sama-sama punya peluang yang bagus.
Setelah itu lanjut membuat Fp, awalnya sering dianggurin, lama-lama kami di grup saling support mengelola Fp, rajin sebentar, trus males lagi karena udah dikejar deadline melulu.
Selama hampir 2 tahun, saya enggak pernah berhenti menerima pesanan. Pangsa pasar tepat, saya nyemplung di komunitas yang tepat untuk jualan saya.

Setahun yang lalu saya mulai berjualan buku. Cuma 1 judul, tapi saya cinta mati. Cinta mati dan cinta buta. hahaha....
Jualannya juga karena enggak sengaja, just like that.
Dan jualan buku ini sama sekali enggak mudah. Dua puluh eksemplar pertama saya jual dalam waktu seminggu, dengan stres yang luar biasa.
Bukan salah bukunya. Saya frustrasi karena friendlist saya bukanlah pangsa pasar yang cocok untuk bukunya ( Rules number 2 : Jual di pangsa pasar yang tepat ).
Pangsa pasar bukunya sebenarnya  adalah anak-anak usia mulai 9 tahun ke atas, juga semua yang suka baca sih.
Karena friendlist saya sebagian besar adalah crafter, yang lebih tertarik menimbun kain dan sebangsanya, sudah pasti buku ini  paling cuma dilihat sekilas lalu  di scroll aja deh. Hik....
Putus asa? enggak dong.
Bukunya bagus, ceritanya oke. Penulisnya keren. Produknya udah mengkilap, sekarang gimana caranya supaya friendlist saya mulai melirik, paling tidak nanya atau komen kek biar postingannya naik.
Saya mulai meremove teman yang tidak aktif, yang ga ada foto profilnya, OS elektronik, anak-anak alay. Ga bisa sekaligus, pelan-pelan.
Selanjutnya, karena cinta, saya membuat boneka Pururu tiap karakter di dalamnya. Hasilnya? banyak yang inbox, kirain yang saya jual itu buku tutorial bikin boneka. Halaaaah....
Ga pa-pa, paling enggak udah salaman dan udah kenalan, jadi tahu kalau yang saya jual itu Novel, alias buku yang banyak tulisannya, ada ceritanya, bukan buku craft.
Sangat terbantu karena KeoNoaki punya FanPage yang isinya juga oke. Saya yang lebih suka cara tradisional meng-up Fanpage lebih suka likers diraih karena para likers ini benar-benar cinta dan nantinya akan jadi stalker, jadi likers bertambah pelan-pelan itu tidak masalah.
Penjualan langsung naik? Enggak. Hahaha....
Frustrasi? sangat.
Strategi selanjutnya adalah meng-add teman-teman Bunda Ary. Bagian ini bikin saya keder, karena teman-teman Bunda itu kebanyakan adalah penulis, dan Bunda sendiri adalah dewa eh Penulis tingkat dewa, lah siapa saya?
Beneran aja, saya diignore berbulan-bulan, kirain ini OS suka nyepam kali.
Oke, fine gpp. Terus saja promo, branding, pasti nanti ada jalannya.
Jalan mulai terbuka ketika Dhiya, salah satu diehard fans mula-mula mulai komen dan langsung membuat saya terhubung dengan teman-teman Dhiya. Add, add, remove, remove....
Lalu postingan FanPage juga mulai menjadi viral. Saya share ke mana aja, mulai dari grup craft sampai grup jual beli dan grup alumni. Di kick? sering...huwahahaha...
Sangat terbantu karena Bunda sendiri sering melimpahkan pesanan buku kepada saya.
Selanjutnya, sedikit-sedikit KeoNoaki mulai  dikenal, pembaca mulai banyak. Bunda Ary sendiri sangat layak "dijual" . Eh, maksudnya Bunda kan oke banget, di kalangan penulis udah ga ada tandingannya deh, sekarang keluarin aja semua prestasinya. Karena jualan buku enggak sama dengan jualan craft yang mengandalkan bentuk fisik menarik pembeli.
Kan enggak mungkin promoin isi bukunya, spoiler dong. Jadi yang dipromokan karakternya, sekilas ceritanya dan yang penting penulisnya. 

Gimana dengan jualan craft? enggak berpengaruh sih, karena customer sudah menjadi langganan, dan Facebook sejak 2 tahun terakhir bukan lagi pangsa pasar yang tepat buat jualan craft saya. Di facebook kebanyakan yang tertarik cuma cek harga dan nanya tutorial doang. Aplikasi craft seringkali closing dengan customer yang dari instagram dan yang nyasar di blog saya. :D

Lanjut nanti lagi yaa......
Selanjutnya tentang Customer dan Ekspedisi.