Wednesday, February 14, 2018

Craftologi








Karena terprovokasi dengan quote :

" Janganlah berjalan seperti gunting, meskipun lurus tapi memisahkan apa yang sudah menyatu, jadilah seperti jarum meskipun menusuk dan menyakitkan tapi dapat menyatukan apa yang sudah terpisah."


Saya sedang mengerjakan hampir 4 gross orderan bakar membakar.
Kerjaan yang ini membuat saya dipastikan enggak bisa menyambi. Jadi duduk diam saja sambil ngelamun menatap nyala api.
Biasanya lamunan berkisar tentang quote apa yang mau dishare dari kutipan-kutipan yang saya baca, atau ngelamun tentang karakter-karakter yang enggak lanjut-lanjut ceritanya..hehe..keplak.

Tapi tiba-tiba saja quote di atas melintas, bikin saya jadi mikir.
Benarkah gunting itu sedemikian jelek fungsinya? memisahkan apa yang sudah menyatu? bagaimana kalau yang utuh itu memang harus digunting demi suatu karya yang lebih bagus?
Dan jadilah saya memikirkan hal ini.

Seandainya hidup saya adalah setumpuk kain atau material craft lainnya, dan Tuhan adalah mastah Crafter, apa yang terjadi pada saya?

Dan imajinasi saya mulai meliar.
Saya membayangkan betapa Tuhan sangat menyayangi bahan-bahan craft itu, bukankah semua crafter gitu? kalau ada kain dengan motif dan warna yang oke, cuma pingin dipandang dan dielus-elus? enggak tega diapa-apain?
Tapi dengan mengapa-apain kain itu bukannya ntar malah jadi karya yang bermanfaat?

Jadi saya membayangkan Tuhan mengambil gunting dan mulai memotong  saya.
Ketika membakar kain itu satu-satu, pasti Tuhan juga seperti crafter lainnya, dengan penuh kesabaran dan konsentrasi penuh supaya lengkungannya sempurna dan  tidak gosong.
Saya juga membayangkan Tuhan pasti ikut merasa sakit ketika mencubit kelopak bunga kalau Ia sedang mempersiapkan kita seperti membuat mawar cubit.
Saya membayangkan betapa Tuhan harus luar biasa sabar ketika berhadapan dengan bubble crep yang susah banget dibakar.
Setelah semua kelopak siap, saya membayangkan Tuhan menyusun lembar demi lembar kelopak itu menjadi satu bunga yang indah. Disusun dan dihitung dengan teliti, supaya imbang.
Setelah itu Tuhan mempersiapkan segala sesuatunya untuk mempercantik bunga itu.
Ditambah juntai, mutsin atau bahkan Rhinestone.
Hasil akhirnya adalah karya yang indah. Diri kita yang lebih indah. Bukan hanya berupa lembaran kain saja.

Beberapa hari terakhir, saya terjebak dalam mood swing. Kadang-kadang jadi baper, kadang-kadang merasa empty. Jangan bilang saya tidak bersyukur. Saya bersyukur dengan semua yang terjadi dalam hidup saya.
Tapi adakalanya saya mencapai titik itu.
Kemarin ketika ngelamun tentang craftologi ini, saya jadi berpikir.
Tuhan adalah mastah crafter hidup kita.
Betapa sayangnya Dia kepada kita.
Betapa sakitnya Ia ketika harus mencubit kelopak kain supaya terbentuk karya yang indah.
Betapa Tuhan berkonsentrasi penuh ketika menyusun lembar demi lembar hidup kita.
Betapa Tuhan mendandani kita dengan cantik.

Mutsin, Rhinestone dan juntai mungkin adalah orang-orang di sekeliling kita yang mengasihi kita.
Hasil akhirnya adalah diri kita yang lebih baik, lebih cantik dan juga lebih bermanfaat.
Tidak pernah ada produk gagal kalau Tuhan adalah crafternya.
Ia akan membuat kita menjadi lebih indah dan berharga melalui serangkaian proses.
Baik kita yang rapuh serapuh sifon, atau ndablek dan keras hati seperti bubble crep yang susah dibakar. Tuhan memperlakukannya sama. Dengan hati-hati dan penuh kasih.

Tuhan juga tahu mana yang lebih baik untuk kita. 
Ia tahu kain mana yang bagus untuk mawar cubit, untuk bunga mangkok, untuk gardenia atau untuk membuat rosebud. Itulah sebabnya proses dan hasil akhir tiap manusia berbeda. 
Tuhan tahu mana yang paling sempurna untuk kita.

So crafters, hang on there. Mungkin kita sedang ada di tahap pemotongan, atau pembakaran yang bikin hidup jungkir balik. Atau sedang disusun per kelopaknya sehingga kita seringkali enggak mengerti apa yang sedang terjadi.
Keep faith dan jangan lepaskan tanganNya. Tuhan sedang bekerja. Membuat diri kita dan hidup kita menjadi sempurna.

Happy crafting my beloved crafters.
Keep strong!