Friday, June 3, 2016

SEMARANG



"Let's meet up "
" di semarang "
gitu bunyi inbox suatu hari di bulan Maret.
Saya diam sejenak. Pergi jauh dari rumah itu enggak nyaman buat saya, apalagi membawa anak-anak.
But somehow, saya langsung meng-iyakannya dengan semangat.

Saya bukan orang yang menyenangkan jika diajak jalan-jalan. Saya ribet dan ruwet. Pergi ke tempat manapun, maunya detail. Di mana? dekatkah dengan toko, apakah nyaman untuk anak-anak? dekat dengan atm? pergi ke tempat yang sudah rutin saya kunjungi seperti toko kain pun saya harus membawa banyak perlengkapan. Baju ganti Jevon, kain gendong, handuk kecil, tas plastik, jas hujan, snack, botol air minum, itu semua harus dibawa. Kebayang kan bagaimana ruwetnya kalau harus pergi jauuuuuh apalagi harus menempuh perjalanan selama 8 jam.
Kekhawatiran lainnya adalah, saya hobi tersesat. Haha...
Pergi kemana pun saya wajib tersesat. Apalagi ke tempat baru. Makanya ketika sudah mengiyakan ajakan kopdar itu, saya langsung searching Semarang, stasiunnya, jalur keretanya, cuacanya, mulai blogwalking semua yang dengan kata kunci " Semarang ".

Booking tiket kereta sebulan sebelum bulan Mei, itu pun saya harus ngerecoki seorang teman  yang suaminya kerja di KAI, nanya ini itu.
Saya terakhir kali naik kereta api jaman kuliah dulu. Itu berarti sudah 15 tahun yang lalu. Sistem pembelian tiket  dan operasional kereta sudah berubah, jadi mau enggak mau. biar enggak salah , saya nanya-nanya dulu, searching-searching dulu. 

Tiket bisa dibeli online dan tinggal diprint di stasiun. Semuanya oke. Hotel sudah dibook, dan saya sudah menghafalkan rute  perjalanan dari stasiun menuju hotel. Sekali lagi, karena takut nyasar.
Seminggu sebelum berangkat, kehebohan packing dimulai. Tuan Muda enggak mau meninggalkan dino kesayangannya, takut diculik katanya. Boneka itu yang pertama dimasukkan ke tas ranselnya sendiri,  baju dan mainan lainnya boleh menyusul. Bawaan saya sebagian besar  adalah buku dan beberapa craft supply untuk workshop nanti. Obat-obatan, beberapa tas plastik aneka ukuran, tempat nasi, alat makan, beberapa lembar kain , dan botol minum tidak boleh ketinggalan. Total ada 4 tas. Sudah di coba juga siapa bawa tas mana sebelum berangkat. Hahaha...

Papi, terus terang kuatir dan enggak rela kami pergi. Ketakutannya yang terbesar adalah saya nyasar dan membawa anak-anak. " Kalau kamu aja yang nyasar sih enggak masalah, kasihan anak-anak kalau dibawa ,terus kalian nyasar " gitu katanya . :D
Saya bilang. ada mulut dan ada uang, nyasar balik lagi ke malang. Walaupun sebenarnya saya juga takut :D

Hari Rabu 18 Mei, kami berangkat. Karena sekarang di stasiun steril pengantar, otomatis Papi hanya mengantar sampai pintu depan. Veve dan Jevon sudah heboh, bersemangat, karena ini adalah pengalaman pertama kali naik kereta. Saya deg-deg an karena ini pertama kalinya saya pergi jauh menempuh perjalanan lebih  dari 2 jam hanya bersama dengan anak-anak .

Begitu kereta berjalan, anak-anak itu dengan hebohnya berkomentar ini itu, untung saja penumpang masih sedikit, jadi saya enggak malu-malu amat. hahaha..
Saya yang belum tidur sejak malam hari sebelumnya, berusaha untuk terus berjaga, karena jadwal kereta sampai di Semarang pukul 3 pagi. Takut tertidur dan kelewat.
Jadi ketika hari mulai gelap, saya duduk dan berdiri berganti-ganti. Biar enggak pegel dan hilang ngantuk. Mengamati penumpang kereta yang waktu itu di dominasi bapak-bapak. Menjelang tengah malam, beberapa dari mereka melakukan hal yang sama. Mengeluarkan kotak makan kecil, menata tas kresek di bawah kaki, lalu mulai menyantap bekal yang mereka bawa. Apa yang saya lihat membuat saya trenyuh. Kebayang istri mereka menyiapkan bekal untuk mereka, lauk dipisah dengan nasi agar tidak bau, sendok dibungkus tersendiri, kertas tisu disiapkan untuk membersihkan sendok. Kantong plastik untuk tempat sampah. Tiba-tiba keinget papi di rumah yang entah sudah makan apa sore tadi. Haha.. mendadak mellow.

Kereta tiba sesuai jadwal jam 3 pagi.
Somehow, saya enggak grogi mau bertemu dengan Nana. Apa karena kami ngobrol terus tiap hari ya..
Kesan pertama begitu bertemu? ya.. apa ya?
emmm...seperti sudah mengenalnya bertahun-tahun yang lalu. Entah kenapa, pokoknya gitu deh.
Karena enggak nyasar , sampai di tempat sesuai jadwal dan enggak ada yang diluar perkiraan, saya lega dan rileks. Selanjutnya tinggal beresin ini itu, persiapan menjelang workshop.
Perjalanan pulang juga enggak masalah, yang ribet hanya harus angkat-angkat tas sambil menggendong Jevon yang sudah tidur duluan dari hotel karena kelelahan.
Kapok?
Enggak!
Ke mana lagi habis ini?
MALDIVES !
hahaha...