Thursday, July 13, 2017

Ngapain saya di Wattpad



Awalnya adalah kepo.
Selanjutnya sakit perut dan frustrasi, semakin ke sini semakin mengerti.
 
Wattpad adalah aplikasi untuk menulis atau hanya untuk membaca. Kurang lebih sama dengan blog.
Awalnya saya beneran kepo dengan apa yang ada di wattpad. Akun pertama saya buat ternyata tahun 2015. Digunakan untuk ngintip. Entah ngintip apa. Sudah lupa :p
Sama juga seperti blog. Semua bebas menulis apa saja. Hanya saja di wattpad ada penggolongan genre.
Wattpad bisa diakses siapa saja tanpa batasan umur. Makanya saya pribadi tidak menyarankan anak-anak, terutama yang dibawah 13 tahun untuk berkeliaran di Wattpad, karena ada banyak cover buku juga tulisan tanpa filter yang bisa diakses tanpa batas. Cerita yang ditulis juga beraneka macam, hal ini bisa dimaklumi karena penulis wattpad bisa jadi adalah seorang yang baru belajar menulis yang membaca tulisan yang tidak berkualitas sehingga tulisannya pun ikutan kacau.

Tidak semua cerita di wattpad kacau dan ngawur. Banyak cerita bagus bahkan lebih bagus dari yang dari yang diterbitkan penerbit mayor, tetapi cerita-cerita ini tenggelam dengan cerita yang populer dengan kualitas yang bleh.
 

Anyway, dari sisi promo dan popularitas, Wattpad bisa menjadi media yang mendekatkan penulis dengan pembacanya. Wattpad juga adalah kolam dengan ikan yang sudah tertarget. Kalau saya memandang dari sisi matre, Wattpad adalah pangsa pasar yang empuk. Makanya sekarang banyak novel terbit berdasarkan cerita yang dipublish di wattpad. Keterkaitan emosi dengan karakter, interaksi penulis dengan pembaca, juga fans yang saling fangirlingan sudah menjadi modal untuk industri buku. Tak heran, beberapa novel wattpad mulai siap-siap difilmkan.
 
Untuk saya pribadi, wattpad adalah tempat berlatih menulis. Pembaca yang serius membaca kadang memberi masukan yang bagus. Bukan hanya dari segi EYD dan EBI tapi juga bagian-bagian dari cerita. 
Dari sisi orang tua. Saya tidak akan mengijinkan anak saya ngider di wattpad tanpa pengawasan. 
Sebenarnya tergantung anaknya masing-masing sih, tapi anak saya cenderung tenggelam kalau tidak diawasi. Makanya dibanding tenggelam dengan smartphone, saya lebih suka dia tenggelam dalam buku bacaan.
 
Pengguna Wattpad masih didominasi remaja yang berumur 13-18 tahun. Tapi saya pernah nemu ada anak yang masih kelas 4 SD menjadi pembaca di situ. Sigh.
Miris setelah tahu alasannya karena ortu lebih suka membelikan kuota daripada membelikan buku.
Alasannya karena kuota bisa digunakan untuk mengerjakan tugas sekolah, dan anak yang tanpa pengawasan tentu saja jadi bebas keluyuran di dunia maya.
Jadi plis ortu, belikanlah putra-putrimu itu buku. Tidak ada anak yang tidak suka membaca. Asal disediakan dan dipermudah, mereka akan jatuh cinta kok.
 
Saya juga kesal kalau ada penulis yang nyinyirin penulis wattpad. Enggak nunggu jadi penulis wattpad deh kalau mau nulis yang ngawur-ngawur.
Lagian, daripada nyinyir, nyemplunglah ke sana. Kalau kamu merasa tulisanmu sudah suangat buagus. Berikanlah contoh tulisan buagusmu itu. Biar penulis wattpad punya referensi.  Berbagi ilmu toh ga akan membuatmu rugi. Ga usah ribut nyinyir, bergeraklah ikut memperbaiki.

Buat yang pengin tahu seperti apa dan ada apa saja di wattpad. Ngidernya di akun ini aja ya AryNilandari
Jangan ke tempat lain. Di Akun Bunda saja udah buanyak tulisan bagus.
Project terbaru selain Hexotic Cafe dan Write Me His Story, ada Twisted Indonesian Folktale Series
yang isinya cerita dongeng/legenda khas Indonesia yang di-twist.
 
Pandang sesuati dari segala sisi. Kalau ada yang bisa diperbaiki, langsung perbaiki. Ga usah ribut nyinyir dan menyalahkan. Oke! Yes!

Friday, June 16, 2017

Review : Siluet





Judul      : Siluet
Penulis   : Resti Dahlan
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tebal      : 208 halaman

Galen direkrut Ravana untuk suatu misi rahasia, membawa seorang gadis kembali berkumpul dengan keluarganya. Terdorong keinginannya masuk kampus impian di luar negeri, Galen menerima misi tersebut. Rea, gadis yang merupakan target misi ternyata adalah teman sekolah Kaley, sang adik yang juga seorang atlet renang. Galen menjalani misi rahasia dengan frustrasi karena Rea ternyata tidak mudah ditaklukkan.
Rea, gadis penerima beasiswa yang dijuluki Putri Es ternyata menyimpan banyak rahasia. Kaburnya Rea sejak umur 8 tahun ( bukan kabur juga sebenarnya ), hubungannya dengan Alda, kenapa Rea sibuk nyambi kerja sana-sini.
Di sisi lain, Galen juga harus memikirkan kalau ternyata Kaley menyimpan dendam terhadap Rea.

***********
Saya udah agak ga enak waktu Veve menjerit dari dalam kamar.
"Laaaah, kok ada karakter baru! bentar lagi udahan nih!" serunya.
Begitu selesai baca, Veve saya tanya,
"Gimana?"
Veve hanya mengedikkan bahu.
"Bagusan Mahardikans apa Siluet?"
"Mahardikans," jawabnya singkat.

**********

Sore, baru saya sempatkan baca, lanjut terus sampai malam. Bab awal sepertinya menjanjikan. Menarik. Tapi tiba-tiba, seperti disiram air es, saya langsung mules begitu nemu finding machine di halaman 54. Ini bukan lagi typo, tapi udah salah! gimanaaaaa editor dan proofreadernya.
Sontak saya berubah waspada, lama-lama jadi kebiasaan sih, begitu nemu yang ga bener di awal, biasanya ada lagi di belakang-belakang. Beneran aja, ada beberapa kalimat yang menurut saya aneh dan juga beberapa typo.

Mungkin sudah jadi ciri khas Resti atau gimana,  Resti suka sekali memakai Pov 3 subyektif di awal bab, lalu tiba-tiba ada karakter lain yang nyelonong di paragraf akhir. Menurut saya jadi mengganggu flow cerita karena perpindahannya sama sekali ga mulus.

Setelah halaman 54, saya mulai bingung. Ceritanya hanya sepenggal-penggal, seperti cuplikan berita.
Tiap karakter jadi tidak tergali dengan maksimal. Waktu mulai membaca, kirain  cerita akan fokus pada usaha-usaha  Galen mengembalikan Rea. Tetapi sepanjang buku, malah si Kaley yang lebih dominan interaksinya dengan Rea.

Ada beberapa kejadian yang menurut saya ga logis. Juga konflik yang sepertinya ga perlu. Konflik Rea dengan Merry misalnya.
Lalu hubungan Rea dengan keluarganya. Rea dijemput adik Bundanya ketika berumur 8 tahun, tapi Rea ga tahu sama sekali tentang masa lalu Bunda dengan Papanya?
Juga dengan Galen dan Kaley. Agak aneh karena Rea kok ga ada curiga-curiganya tiba-tiba dua cowok itu jadi dekat satu sama lain. Juga Kaley yang nggak bertanya kenapa Galen yang mendekati Rea. Kemunculan Rexy yang tiba-tiba di hampir akhir cerita juga terkesan dipaksakan.  Penyelesaian konflik just like that. Menurut saya terlalu mudah dan terlalu banyak kebetulannya. Resti suka sekali memasukkan banyak informasi secara tiba-tiba, enggak dijalin atau diselipin dikit-dikit dari awal. Pola yang sama juga saya rasakan sewaktu membaca Mahardikans.

Sejujurnya saya kecewa, tapi tetap baca terus sampai akhir hanya karena ini punya Resti. Saya kenal Resti sejak dia menjadi first reader Go Keo, no Noaki 4 karya Bunda Ary Nilandari.
Resti baik, sopan dan jelas seorang pekerja keras. Tetap optimis karya-karya lain akan jauh lebih baik dari Siluet.

Di sisi lain, saya jadi bertanya-tanya, apakah beneran ini beneran diedit? apakah memang sengaja cerita dipenggal-penggal seperti itu? apakah diajak brainstorming penulisnya? karena saya pikir penerbit sekelas GPU pasti sudah menyeleksi naskah dengan ketat. Kalaupun ada kekurangan di awal naskah yang sudah diterima, pasti akan dibenahi sebelum terbit.

Di halaman terakhir buku, saya menjerit frustrasi. Ada 3 lembar halaman kosong! ga ada isinya, cuma ada nomor halaman. Aaarrrrgh....kan sayang ( langsung matre mode on ), itu kan bisa diisi sama promo buku GPU lainnya biar ga sia-sia.

Anyway, besar harapan saya semoga editor-editor GWP batch 3 dengan teliti membaca semua naskah peserta ga cuma awalnya aja  sehingga menghasilkan buku yang bener-bener bagus.

Untuk Resti, keep fighting! Mami udah jadi fans Resti nih! pasti beli buku selanjutnya, malah ga sabar menunggu Resti menulis dengan setting di China. Pasti keren!





Monday, February 27, 2017

Mencuri Ilmu

Saya punya 2 akun Facebook. Satu akun utama yang separuh temannya target market untuk jualan buku, dan satu akun cadangan yang hampir seluruh temannya adalah crafter.
Seminggu belakangan, TL kedua akun seperti neraka buat saya. Isi TL penuh dengan status dan  share berita panas. Bukan lagi masalah Pilkada.

Di akun utama, masalah share ini membuat saya berpikir ulang tentang arti penulis. Bukan hanya dari sisi tulisan yang dihasilkan, tapi juga bagaimana pribadi seorang penulis, terutama dalam hal memanfaatkan media sosial. Yang ini biarlah, bukan urusan saya. Urusan saya hanya jualan buku. Titik. Udah tahu serial Keo&Noaki kan? serial yang booming di kalangan anak-anak pra remaja? Saya jual serinya lengkap ya, japri aja langsung ( iklan lewat ).

Oke, balik lagi.
Di akun cadangan, TL juga panas. Beda kasus tapi juga karena status dan share.
Di akun ini, marak status tentang....ya apalagi kalau bukan harga nyungsep dan foto yang diambil buat jualan. Masalah klasik dan berulang-ulang terus.
Saya gerah karena komentarnya  ya pasti itu-itu aja.

"Ih kok ga sayang pinggangnya ya?"
"Wah ngrusak pasaran nih"
"Wah saya aja jualnya segini, itu kalau segitu cuma dapat ini doang"
dsb...dsb...

Dari gerah menjadi geram karena ketika diingatkan supaya ignore aja ga usah dibully, jawabnya

"Biarin aja dibully, biar ga merusak harga pasaran"

Hello, situ waras? bully kok malah dilestarikan.

Saya tidak setuju dengan crafter yang dengan sengaja memainkan harga. Tapi sikap tidak setuju tidak harus ditunjukkan dengan membuat status provokatif yang memancing caci maki. Bisa kok dengan cara elegan, tulisan implisit, halus tapi nusuknya dalam.

Setelah itu ada lagi kasus foto produk yang dicuri. Ini juga klasik.
Meski ada WM masih aja yang nekat nyolong.
Ga usahlah ribut yang lebay, kalau fotomu dicolong, inbox yang nyolong dulu, konfirmasi, minta dia hapus atau apalah. Tunggu bentar. Kalau ga ada respon. Publishlah. Coret dulu identitas yang nyolong. Buat pengumuman kalau fotomu dicuri dan dibuat jualan pihak lain. Cantumkan kontakmu yang asli, kasih peringatan agar semua berhati-hati. Ga usah ditambahi tulisan memprovokasi, kalau ada yang nanya siapa, ga usahlah dijawab di publik. Penyelesaian begini meningkatkan citramu. Percaya deh. ( tips dari Hayati yang lelah dicolong fotonya berkali-kali ).

Gemes juga kalau status provokatif itu akhirnya menuai banyak komen dan jadi ajang ribut.
Tahu ga sih, kalau kalian ribut di situ, ada buanyaaaaak Crafter penjual yang menyalip di tikungan. Kalian sibuk  ribut, yang lain ada yang sibuk memperbesar kolam dagangan supaya ikannya banyak.
Energi dan kuota yang kalian keluarkan untuk ribut, pihak lain menggunakannya untuk memoles produknya dan memantapkan strategi marketing.
Daripada ribut, mending move on, cari pasar baru, tingkatkan promo, belajar bagaimana berjualan yang efektif.

Jadi , gimana dong?
Saya gaptek
Ga ada waktu untuk marketing
bal..bla...bla...

Klasik. Alasan yang klasik juga.

Ga ada alasan kaya gitu. Masalahnya hanya mau atau tidak mau.
Ada banyak cara belajar . Mau bayar atau mau yang gratis. Pilih aja.
Saya sendiri sampai sekarang belum pernah kursus online yang bayar. Alasannya? err...ga usah dipublish lah ya..ntar jadinya curhat. Hehe.
Yang pasti saya suka gratisan. Eh tapi, belajar sendiri juga pakai modal kali. Kan pasti nyedot  kuota dan ada waktu yang dipakai.
Jadilah pencuri, pencuri ilmu. Gimana caranya ?

1. Googling
Googling aja bagaimana cara....
 nambah follower Ig
 meningkatkan omzet
memanfaatkan medsos untuk berjualan, dsb...
Ada banyak artikel. Baca.

2.ATM
Amati, Tiru , Modifikasi
Amati OS yang itu, yang produk jualannya sama dengan kita menjual dagangannya. Bandingkan foto produknya, penataan lapaknya, bagaimana dia memperlakukan customer, lalu sesuaikan dengan branding personal kita.

3. Stalk
Stalk akun pribadi OS yang jualannya laris manis.
Lihatlah bagaimana dia membuat status.
Kepo kalau dia membuat status tentang jualan.
Kadang-kadang OS ini memberikan tips ketika membalas komentar di statusnya.
Tapi, tak jarang pula, akun pribadi si OS sepi update. Karena apa? ya karena sibuk ngurusin tokonya. Bukan sibuk nyetatus ga jelas.

4. Bertanya
Yang ini jalan terakhir ya. Kalau udah mentok.
Saya belum pernah bertanya tentang bagaimana cara supaya jualan laris, gimana promo ini itu.
Biasanya saya bertanya hal-hal teknis. Kenapa akun Ig saya gini, kenapa akun paypal saya gini, jadi pertanyaan lebih ke proses di luar masalah marketing.
Coba aja. Tapi jangan sakit hati kalau late respon atau ga dijawab sama yang ditanya.
Hak dia untuk memilih menjawab atau tidak. Kalau ga dijawab, ya cari sendiri dooong. Masa gitu aja nyerah.

Yang paling penting : ACTION 

Kalau udah semua, selanjutnya beraksi. Cuma baca doang, stalk aja, nanya melulu, ga beraksi ya sama aja boong. Rugi besar. Udah dapat semua ilmunya , kerjakan. move..move...

Belajar setiap hari, perbaiki diri, ga usah ngurusi yang bukan urusan kita. Ada yang banting harga, biarin, lihat saja dari pinggir. Ada yang fotonya dicolong, simpati dan empati sesuai porsinya. Jangan membuat suatu kasus jadi melebar dan memancing kasus lainnya.
Fokus. Kan mau dagangannya laris manis tanpa harus banting harga. Fokus branding dan tembak pangsa pasar yang tepat.
Kalau ga mau bayar, jadilah pencuri yang berkelas. Pencuri ilmu.







Monday, January 30, 2017

MENARIK NAPAS PANJANG

Setahun kemarin, saya tidak pernah benar-benar menarik napas panjang. Saya terlalu fokus pada satu titik. Dua puluh empat jam sehari, 7 hari dalam seminggu.
Saya  bekerja keras, mencari banyak celah, melakukan bounding, menjaga passion agar semangat tidak hilang.
Saya lupa. Lupa kalau manusia itu mudah sekali berubah.
Akhir tahun lalu. Tiba-tiba saja semuanya pergi satu per satu. Saya terlena karena terlalu percaya.
Bisnis is bisnis. Kalau sudah tidak menguntungkan, tinggalkan. Kalau ada yang lebih baik, ambil.
Saya lupa dengan prinsip itu.
Saya meletakkan hubungan pertemanan lebih daripada hubungan  bisnis. Silly me.
Dan it happened.
Jadilah saya mulai dari awal lagi. Sulit. Tentu saja sulit. No back up. No one help.
Semua sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Lupa kalau dulu saya juga membackup mereka kala jatuh.
Fine. Mari step back. Pertebal garis batasnya. Jangan lagi melibatkan emosi sekarang.
You sell they buy.
Kalau mereka sudah tidak butuh, dirimu akan ditinggalkan.
Jadi tarik napas panjang-panjang. Keluarkan hati dan basuh semua "rasa" itu.
Kembalikan ke awal. You're just a seller.
Take a deep breath and move on.


Friday, January 13, 2017

Maju Mundur Cantik






Jeng...jeng..akhirnya saya nekad.
Mikirnya udah lamaaaaaaa banget. Tapi seperti biasa, saya ga maju-maju.
Di awal tahun 2017, untuk sementara inilah tindakan  nekad yang saya lakukan.
Awalnya keinginan punya MJ cuma masuk wish list aja. Ga dipikirin serius-serius amat. Barulah di akhir 2016 tiba-tiba jadi keinginan yang menggebu-gebu.
Pemicunya ya pasti karena saya gelisah.

Dua tahun belakangan saya terlena. Fokus dengan yang lain dan lupa dengan upgrade skill sendiri.
Saya terlalu nyaman sebagai crafter aplikasi. Customer langganan sudah rutin memasukkan orderan. Branding aplikasi saya sudah lumayan bagus. Tapi satu hal yang saya lupa atau memang sengaja dilupakan. Pesaing saya, crafter aplikasi lain sudah jauh berlari. Yang satu angkatan dengan saya sudah merambah IG dengan follower luar biasa. Di sisi lain bermunculan crafter baru, membuat aplikasi dengan kualitas yang bagus tapi menjualnya dengan harga yang mengerikan.

Bisnis is bisnis. Karena terlalu sering menolak orderan di tahun kemarin, beberapa customer berpaling ke lain hati.

Normal. Bagaimanapun karena ini adalah industri, customer yang saya tolak-tolak itu pastilah  mencari supplier aplikasi lain yang bisa diandalkan dengan harga jauh lebih murah tapi dengan kualitas yang sama baiknya . Memang ada ? adaaaa....banyak. Sigh.

Di akhir tahun, ketika Devi datang berkunjung, kami ngobrol-ngobrol ringan tentang masa depan.
Tentang cicilan hutang, tentang masa depan anak, tentang keinginan kami pensiun dan jalan-jalan aja..haha..obrolan khas emak-emak.

Dari obrolan itulah saya jadi mikir. Apa yang menjadi awal saya nge-craft ini? apa yang ingin saya capai?
Duit. Itu yang terlintas pertama dalam benak saya. Saya Matre , ingat ? :D
Lalu kembali ke pemikiran rasional. Terus terang, menjual aplikasi itu uangnya cepat berputar. Untungnya banyak kalau dibandingkan dengan berjualan produk handmade buatan saya lainnya. Dari segi waktu, kecepatan saya membuat aplikasi sudah lumayan kencang. Satu hari saya bisa membuat 6 lusin aplikasi dari pita. Kalau bakar-bakar masih bertahan di 4 lusin tiap harinya.

Sarana berjualan saya udah ada pondasinya. Akun IG dan Fp market target sudah benar, walau masih nyampur-nyampur dengan market buku, tapi masih didominasi dengan market aplikasi.
Saya gelisah dan terus mikir. Tidak selamanya saya akan terus bertahan sebagai crafter aplikasi, walaupun saya yakin pasti akan ada customer baru asal terus promo dan mengelola medsos dengan benar.

Jadi saya maju, move on.

Langkah pertama adalah memisahkan akun jualan. Saya membuat lagi akun IG khusus untuk craft dan untuk jualan buku. Keduanya saya kaitkan dengan fp serupa.
Mulai lagi mencari follower dengan target market yang ga nyampur.
Di akhir tahun 2 akun IG ini berjalan dengan baik. Saya closing aplikasi di akun IG yang baru di follower 400.

Lalu apa?
Saya malas membuat jenis aplikasi lainnya. Ini ga benar.. hahaha...makanya bisnis aplikasi saya ga berkembang. Mandeg di varian yang itu-itu saja.
Saya balik lagi melihat-lihat karya saya beberapa tahun belakang. Melihat-lihat lagi Pururu-pururu saya, hoopart dan macam-macam pembatas buku atau apapun itu. Saya sadar, saya lebih suka dikenal sebagai dolls maker atau apapun yang berhubungan dengan boneka.  Dari segi kompetitor, saya pede karena karya saya kelihatan "saya banget" dan pasti ga pasaran. Ini awal dari keinginan membeli MJ.
Selanjutnya, saya nekad ikut belajar applique online yang merupakan basic dari quilt. Sejujurnya, saya ga suka quilt, tapi saya perlu tahu tekniknya. Dalam rencana saya, teknik ini bisa digunakan untuk hoopart saya.

Jadilah saya ikut, maju cantik.

Setelah lewat 10 blok, baru saya tahu kalau nanti ada tahapan sashing yang butuh mesin jahit. Bisa dijahit tangan tapi pasti lamaaaa...ya iyalah, hitung saja 20 x 4 pangkat banyak karena itu kan sambung menyambung. Keinginan punya MJ mulai naik lagi.
Saya sempat teralihkan karena menggalau dengan hal lain. Barulah ketika ada momen yang pas. Dalam hal ini ada duit sedikit, saya mulai lagi mikirin tentang MJ.


Berbagai pertimbangan datang dan pergi.

Uang saya sudah jelas tidak cukup. Harga mesin jahit portable yang sungguhan yang saya incar , bukan jenis yang kecil itu , sekitar 1,3 - 2 jutaan, masih jauuuuh duit saya.
Jadinya saya googling-googling saja. Sempat tergoda dengan MJ seharga 650 ribu yang merknya JSYM itu. Tapi masih sebatas googling aja, belum beli. Tapi ini kan investasi. Mesin Jahit bisa digunakan untuk apa aja, mau bikin baju, tas, atau project craft lainnya. Bisa disimpan bertahun-tahun dan ga basi.
Pemikiran itu datang silih berganti dengan keraguan saya karena duit ga cukup. Haha.

 Jadinya saya mundur lagi karena duit ini.

Suatu hari, karena anak-anak libur, kami main ke Malang. Awalnya karena mau pesan sticker untuk hadiah GA. Sambil menunggu Sticker antri dicetak, saya melipir ke toko elektronik yang juga menjual MJ.
Pertama nanya tentang MJ portable langsung dijawab dengan tidak ramah oleh Bos toko. Katanya toko dia tidak menjual MJ mainan, maksudnya yang harganya di bawah 1 juta itu. Saya kesal luar biasa, padahal saya pakai baju cakep lho. Cuma sih pakai sandal jepit. Tapi cara dia memperlakukan calon pembeli kan ga benar. Misi penjual , apalagi pedagang offline kan harusnya "Setiap orang keluar toko dengan belanjaan di tangan". Haissh.... saya keluar toko dengan ngomel-ngomel. Sepulang dari sana, sama masih ngomel dan sakit hati.

Besoknya saya nekad, tidak balik ke toko yang itu, tapi ke toko lainnya yang khusus menjual MJ.
Sama aja sih bosnya, nyebelin. Kirain saya ga ada duit kali ya karena penampilan begini.
Tapi pelayan tokonya baik dan ramah. Ketika saya melihat -lihat MJ yang bermerk, dia menyarankan MJ lainnya yang harganya selisih tapi kualitasnya sama. Si Mamas inilah yang membuat saya akhirnya membeli MJ merk Flyingman. Beliau juga dengan sabar mengajari dari awal bagaimana cara mengoperasikannya juga kelebihan-kelebihan dan trik-trik lain.
Penjelasannya lewat saja di telinga dan mata saya. Biasalah, langsung pusing kalau ada yang ngajari ga praktek sendiri. Kursus kilat di toko MJ diikuti serius oleh.....Veve.. hihihi.. Saya iya-iya aja padahal ga ngerti.

Duitnya? ya hutang... dari mana lagi. Ada satu hal lain yang menguatkan keinginan saya membeli MJ, yaitu bulan ini saya masih mendapat Royalti dari penjuan buku craft saya . Tidak banyak tapi uang yang sedikit itu sudah saya niatkan dijadikan barang yang menghasilkan dan harus digunakan sebagai pengembangan kemampuan saya. Dari craft untuk craft.

Awal Januari 2017, saya resmi punya MJ. Yippieeeee.....

Next,...hebohnya mencoba MJ baru di rumah.



Sunday, December 4, 2016

Sandal Jepit Berkelas


Saya pernah menulis tentang sandal jepit, klik disini

Itu sudah 3 tahun yang lalu, permintaan yang simpel dan absurd. Hahaha.
Saya cinta sandal jepit.
Pakai sandal jepit itu rasanya bebas, jari-jari kaki yang lebar kaya bebek bisa bebas ga harus umpel-umpelan di dalam sandal atau sepatu yang tertutup.
Sandal jepit juga ga ada hak-nya, trepes, ga bikin capek kalau harus diajak jalan ke mana-mana.

Saya tidak pernah membeli sandal jepit. Maksudnya khusus untuk saya sendiri. Pakai sandal jepit punya Papi aja, atau kalau Veve dapat rejeki dibeliin sandal jepit. Ukuran kaki saya kebetulan sama kaya ukuran kaki Veve.

Dulu, jaman masih jadi pengepul barang bekas, sering nemu sandal yang masih bagus, walau agak kusam, tapi kalau dicuci bersih masih bisa dipakai.
Kalau lagi beruntung, kadang nemu sandal yang masih gres, mungkin cuma cuil ujungnya jadi di reject, kadang juga nemu sepatu kets yang masih bagus banget.
Sandal atau sepatu yang bagus kelihatan dari solnya. Waktu jadi tukang rosok, sol-sol sepatu atau sandal dipisah dan dikelompokan berdasarkan jenisnya.
Jadi sepatu dan sandal yang mahal, biasanya solnya empuk, ditekuk-tekuk mendal, kalau diiris pori-porinya kelihatan rapat. Sandal atau sepatu bermerk susah melepaskan sol dari bagian atasnya, lemnya sangat kuat, kadang kalau males, saya gunting aja, satu dua biji hihihi.... nanti kalau ga lolos QC, paling juga dikembalikan lagi.

Sol untuk sandal/ sepatu yang ga awet, biasanya keras, kalau dikupas, ada lubang-lubang besar, kalau ditekuk ga bisa mendal, kalau dijual lagi harganya juga murah.
Sandal atau sepatu dari plastik bening harganya kalau dijual lagi solnya lebih mahal daripada sol yang keras, karena bisa didaur ulang untuk macam-macam produk plastik.
Veve dulu girang bukan kepalang kalau nemu sandal-sandal plastik yang lucu-lucu dan berwarna-warni.

Kembali ke sandal jepit berkelas

Sandal ini dibeliin Nana sewaktu ke Jerman.
Sebelum berangkat. Saya udah ribut nitip ini-itu hihihi..
Nitipnya enggak susah-susah amat kok, cuma minta difotoin daun-daun yang gugur sama rumah-rumah tua gaya Victorian, plus nitip sandal jepit yang berkelas , yang masih ada hang tagnya dan ada struknya ( gini kok dibilang ga susah // plak), dan nitipnya juga enggak serius kok, becanda aja, ga tahunya nemu sungguhan haha..

Begitu sandalnya sampai, langsung diklaim sama Veve karena nempel banget di kakinya, kaya lengket dan pas, buat saya malah kegedean dikit. Ya sudahlah, ntar dipakainya gantian.

Tapi sampai sekarang masih disayang-sayang. Mau dipakai kemana-mana kok eman. Sandalnya ringan, enggak ada sambungannya, ciri-ciri sandal mahal. Ya iyalah belinya aja dimana :D
Menunggu momen pas aja kali. Mungkin waktu premier film KeoNoaki, atau pembukaan Kafe atau Distro atau Galeri, atau KeoNoaki'S Shop atau...atau...

Harganya? jangan nanya. Sampai sekarang saya enggak berani mengkonversikan harganya ke mata uang rupiah, takut shock.




Friday, December 2, 2016

MENJUAL CINTA ( Part 3 )



REKAP DAN LUPAKAN

Rule 1 = Jangan pernah melakukan proses produksi atau pengiriman sebelum uang ditransfer.

Peraturan ini adalah harga mati buat OS.
Customer membayar dulu, baru produksi dimulai atau barang dikirim.

Proses transaksi OS bisa jadi panjaaaaang, seminggu ga closing-closing, atau bahkan dalam satu helaan napas, customer langsung transfer.
Untuk jualan saya yang aplikasi, saya biasa memberikan jeda 2-3 hari. Jeda waktu itu untuk mikir, kalau memang cocok ya lanjut transfer, kalau enggak cocok monggo cancel.

Jadi di akhir chat , setelah rekap selalu saya sertakan kalimat :

 " Ditunggu transferannya sampai tanggal sekian ya kak, lewat dari tanggal sekian kalau tidak ada kabar saya anggap cancel ya"

Setelah itu ya , lupakan, jangan lagi dipikirin. Cari customer lain lagi atau bikin ready stok.
Seringkali customer ga mematuhi perjanjian itu, kadang tiba-tiba ada 2 minggu kemudian transfer. Yang begini ini bikin jadwal saya kacau balau. Biasanya saya bilang kalau baru bisa dikerjakan tanggal sekian karena ada yang lagi dikerjain. Kalau mau lanjut, kalau enggak monggo di refund.

Saya sering nyolong start, kerjain dulu orderannya , padahal belum closing.
Nothing to lose karena kalau akhirnya cancel anggap saja ready stok.
Saya juga sering melanggar rule ini, terutama untuk customer yang langganan. Tapi tetap dengan niat bikin ready stok ya, walaupun akhirnya nanti kalau udah selesai, tiba-tiba customer cancel, jangan nelangsa, jangan juga menumpahkan kekesalan ke produknya.

Saya anti melabeli jualan saya dengan produk hit n run.

Korban Hit n Run itu kan pasti imagenya jelek, ngapain memberikan aura negatif ke produk yang kita jual dan dibikin dengan penuh Tjinta dan kasih sayang.
Difoto yang bagus dan jadikan ready stok. Promo terus. Tiap produk ada jodohnya, itu saya percaya.

Kalau buku, karena ga ada proses produksi, saya hanya prioritaskan jam transfer.
Jadi kalau transfer sebelum jam 2 masih bisa milih-milih ekspedisi yang berangkat hari itu.
Bersyukur rumah saya relatif dekat dengan macam-macam ekspedisi, jadi respon untuk buku plus pengiriman tidak pernah lebih dari 2 hari.

lanjut lagi besok....

Wednesday, November 23, 2016

MENJUAL CINTA ( PART 2 )


"Hai Sist, minta list harga aplikasi bunganya dong, makasih ya "
"Halo juga, maaf, sista ini golongan apa? Troll? peri? atau minion? Kami cuma melayani nenek sihir berhati emas dengan rambut gelombang yang berkibar-kibar ditiup angin."
Krik...krik...krik...

Chat di atas mempunyai resiko tinggi dicapture dan disebarluaskan di dunia maya. BTW, ada OS yang begitu? Penasaran.

Harusnya dan lazimnya, semua OS enggak memasang tanda "Hanya melayani pembeli golongan tertentu"
Siapapun dia, mau Peri, mau Troll, mau Minion, Mau Alien, mau matanya satu, kulitnya ijo, mau dia rambutnya ungu , golongan kanan , kiri, atas, bawah atau whateva lah. Prinsipnya sih dikau mbayar dan kasih alamat lengkap. Kalau saya tambahin satu lagi, manut. Haha.

OS ga memilih calon customernya, calon Customer lah yang memilih OS-nya. Etalase OS itu bukan hanya di lapaknya, tapi juga di wall pribadinya.
Biasalah, pembeli cerdas kan stalk-stalk dulu wall pribadi. Ini lagi ngomongin Facebook ya.
Jadi buat para pelapak, statusmu itu jualanmu.
Saya ogah   menulis status yang "menguntungkan" orang lain ( mis : gosip-gosip mencela atau membuat kepentingan orang lain jadi viral), share berita -berita hoax dari Fp yang minta like, share dan komen, atau status yang ngomongin kelakukan calon customer atau customer di wall pribadi ( rules number 3 ).

Saya selalu menarik garis tegas dengan calon customer dan yang nantinya menjadi customer.
Situ beli, saya jual. Situ berhak bertanya sedetail-detailnya, saya wajib menjelaskan sedetail-detailnya.
Mau jenis customer apa aja deh, saya udah pernah dapetin. Mulai dari yang cuma nanya doang, dari yang basa-basi dulu, yang transaksi nanya jawab sampai seminggu ga closing-closing sampai yang ga pake nanya langsung minta no rekening ( udah direkap sendiri plus ongkir dicek sendiri ) di menit itu juga langsung transfer. Kanjeng Dimas, bisa enggak customer yang terakhir ini digandakan?

Kalau ada yang aneh-aneh, ga mungkin saya ga bete atau baper, saya pan manusia juga, emak-emak lagi yang kadang , eh sering sih baper dan sensi. Kalau udah nemu yang aneh-aneh, rasanya pengen cakar-cakar tembok.
Untungnya ini jualan online, jadi bisa ditinggal dulu, ngapain kek sambil mikirin balasan chat yang tajam setajam silet tapi tetap sopan. Huwahahaha.
Chat saya dengan semua customer ga pernah menyimpang dari topik produk saya yang dibeli. Tapi, kadang kala ada juga customer yang menuntut service after sale. Biasanya ini yang beli karena pengin belajar. Saya ga keberatan. Pertanyaan susulan biasanya teknik membuat dan minta dikomenin hasil akhir yang dia buat setelah membongkar barang yang dia beli. Boleh, ayo sini.

Garis tegas itu enggak berlaku untuk pembeli buku.
Sekeras apapun saya step back, selalu balik ke situ-situ lagi.
Saya kerap terlibat emosional kalau lagi jualan buku.
Sapa yang enggak jadi terharu? kalau pembeli buku itu adalah anak-anak, yang harus jual buku koleksinya dulu demi membeli KeoNoaki's Series, yang patungan dulu sama teman-temannya, yang bolak - balik inbox ingentin supaya buku punya dia disimpan karena duit belum cukup.
Belum lagi kalau giliran cek ongkir, dan alamat dia jauuuuuuuh di pedalaman, harga ongkir lebih mahal dari harga bukunya. Sapa coba yang enggak terpengaruh? hik.
Pokoknya kalau urusan buku, saya selalu lemah hati deh.

Bersambung besok lagi yak.


Tuesday, November 22, 2016

MENJUAL CINTA ( Part 1 )



Jualan cinta ?
Iya dong. Semua produk yang saya jual selalu ada cinta di dalamnya.
Eaaaa.....
Beberapa waktu yang lalu ada yang minta diajarin  jualan. Lah apanya yang mau diajarin?
Mau jualan, ya jual aja. Teknik berjualan banyak di Google.
Bukan pelit , saya sendiri aja masih tertatih-tatih jualan di internet. Sampai sekarang cuma bisa jualan tradisional aja , tak lain dan tak bukan karena saya OS kere, hahaha... dana untuk iklan berbayar mah masih belum masuk anggaran.
Tapi kalau ditanya apa yang perlu disiapin, selain hape atau lappy atau apapun supaya bisa online ya harus cinta dengan yang dijual, dan cintanya harus cinta buta.

Saya mulai berjualan craft 4 tahun yang lalu, awalnya hanya upload di wall Facebook  hasil iseng jahit sisa-sisa flanel buat mengajar dulu, bentuknya bando ada bonekanya. Jangan ditanya gimana penampakannya. Mengerikan :D

Eh, kok ada yang komen dan mau pesan. Dari situlah, saya mulai menerima pesanan.
Karena modalnya dengkul, alias ga pernah nyetok bahan baku, jadi saya tidak pernah punya stok. Kalau transfer ya dikerjain, kalau enggak yang udah ( rules number 1 ).

Seiring berjalannya waktu,  friendlist mulai terisi dengan teman-teman crafter. Facebook sangat membantu karena kalau sudah berteman dengan satu orang crafter, Om Mark dengan sangat bersemangat merekomendasikan teman-teman crafter lain yang bisa di-add.
Setelah teman bertambah banyak, saya mulai mencari grup. Grup crafter tentu saja.
Dulu grup crafter tidak fokus untuk jualan, ngumpul aja saling curhat dan saling ngajarin. Jualan ada sih, tapi enggak seru-seru amat jualannya.
Waktu itu flanel masih berjaya, semua produk craft masih dikuasai sama kain satu ini. Jualan saya yang jadi best seller waktu itu bros hijab. Pangsa pasar saya reseller, jadi jualan di grup atau di wall sama-sama punya peluang yang bagus.
Setelah itu lanjut membuat Fp, awalnya sering dianggurin, lama-lama kami di grup saling support mengelola Fp, rajin sebentar, trus males lagi karena udah dikejar deadline melulu.
Selama hampir 2 tahun, saya enggak pernah berhenti menerima pesanan. Pangsa pasar tepat, saya nyemplung di komunitas yang tepat untuk jualan saya.

Setahun yang lalu saya mulai berjualan buku. Cuma 1 judul, tapi saya cinta mati. Cinta mati dan cinta buta. hahaha....
Jualannya juga karena enggak sengaja, just like that.
Dan jualan buku ini sama sekali enggak mudah. Dua puluh eksemplar pertama saya jual dalam waktu seminggu, dengan stres yang luar biasa.
Bukan salah bukunya. Saya frustrasi karena friendlist saya bukanlah pangsa pasar yang cocok untuk bukunya ( Rules number 2 : Jual di pangsa pasar yang tepat ).
Pangsa pasar bukunya sebenarnya  adalah anak-anak usia mulai 9 tahun ke atas, juga semua yang suka baca sih.
Karena friendlist saya sebagian besar adalah crafter, yang lebih tertarik menimbun kain dan sebangsanya, sudah pasti buku ini  paling cuma dilihat sekilas lalu  di scroll aja deh. Hik....
Putus asa? enggak dong.
Bukunya bagus, ceritanya oke. Penulisnya keren. Produknya udah mengkilap, sekarang gimana caranya supaya friendlist saya mulai melirik, paling tidak nanya atau komen kek biar postingannya naik.
Saya mulai meremove teman yang tidak aktif, yang ga ada foto profilnya, OS elektronik, anak-anak alay. Ga bisa sekaligus, pelan-pelan.
Selanjutnya, karena cinta, saya membuat boneka Pururu tiap karakter di dalamnya. Hasilnya? banyak yang inbox, kirain yang saya jual itu buku tutorial bikin boneka. Halaaaah....
Ga pa-pa, paling enggak udah salaman dan udah kenalan, jadi tahu kalau yang saya jual itu Novel, alias buku yang banyak tulisannya, ada ceritanya, bukan buku craft.
Sangat terbantu karena KeoNoaki punya FanPage yang isinya juga oke. Saya yang lebih suka cara tradisional meng-up Fanpage lebih suka likers diraih karena para likers ini benar-benar cinta dan nantinya akan jadi stalker, jadi likers bertambah pelan-pelan itu tidak masalah.
Penjualan langsung naik? Enggak. Hahaha....
Frustrasi? sangat.
Strategi selanjutnya adalah meng-add teman-teman Bunda Ary. Bagian ini bikin saya keder, karena teman-teman Bunda itu kebanyakan adalah penulis, dan Bunda sendiri adalah dewa eh Penulis tingkat dewa, lah siapa saya?
Beneran aja, saya diignore berbulan-bulan, kirain ini OS suka nyepam kali.
Oke, fine gpp. Terus saja promo, branding, pasti nanti ada jalannya.
Jalan mulai terbuka ketika Dhiya, salah satu diehard fans mula-mula mulai komen dan langsung membuat saya terhubung dengan teman-teman Dhiya. Add, add, remove, remove....
Lalu postingan FanPage juga mulai menjadi viral. Saya share ke mana aja, mulai dari grup craft sampai grup jual beli dan grup alumni. Di kick? sering...huwahahaha...
Sangat terbantu karena Bunda sendiri sering melimpahkan pesanan buku kepada saya.
Selanjutnya, sedikit-sedikit KeoNoaki mulai  dikenal, pembaca mulai banyak. Bunda Ary sendiri sangat layak "dijual" . Eh, maksudnya Bunda kan oke banget, di kalangan penulis udah ga ada tandingannya deh, sekarang keluarin aja semua prestasinya. Karena jualan buku enggak sama dengan jualan craft yang mengandalkan bentuk fisik menarik pembeli.
Kan enggak mungkin promoin isi bukunya, spoiler dong. Jadi yang dipromokan karakternya, sekilas ceritanya dan yang penting penulisnya. 

Gimana dengan jualan craft? enggak berpengaruh sih, karena customer sudah menjadi langganan, dan Facebook sejak 2 tahun terakhir bukan lagi pangsa pasar yang tepat buat jualan craft saya. Di facebook kebanyakan yang tertarik cuma cek harga dan nanya tutorial doang. Aplikasi craft seringkali closing dengan customer yang dari instagram dan yang nyasar di blog saya. :D

Lanjut nanti lagi yaa......
Selanjutnya tentang Customer dan Ekspedisi.



Friday, October 14, 2016

Keo&Noaki #6 : Kalau Veve layang-layang, Mami adalah Anginnya


Veve histeris begitu tahu seri 6 datang. Tanpa membuka seragam, masih berkaos kaki, tanpa ijin langsung nyomot 1, masuk kamar.
Baru 10 menit, dia keluar kamar, duduk di dekat saya yang rempong packing. Dengan sengaja ber-uh-ah, berkyaaaa-kyaaaa..., ngikik-ngikik sambil tutup muka dengan buku. Sebel!
Malam itu, tidak ada hal serius yang kami bahas sambil gegulingan di kasur. Kami sibuk bersquee-squee, berkyaa-kyaaa, sambil membahas scene-scene favorit dia ( Akhirnya jadi spoiler buat saya , aaaack....).
Besoknya, saya niatkan membaca sampai ending.
Baru halaman 5, saya sudah mengalami mixed feeling. Seri KeoNoaki, terutama seri genap sering sekali membuat saya " jleb " dengan pemikiran Noaki tentang orang tua. Di seri 6 ini, saya "jleb" berkali-kali. Ketika membaca KeoNoaki series, biasanya saya larut. Ikut menjadi Keo atau Noaki. Ikut merasakan apa yang mereka rasakan. 
Tapi di seri 6 ini, saya mendua. Di satu sisi saya sangat mengerti apa yang dirasakan Noaki. Di sisi yang lain, saya merasa sering, sering banget melakukan apa yang dilakukan Ibu kepada Noaki. Sisi orang tua saya seolah diingatkan tentang apa yang saya rasakan dulu, sisi anak-anak saya seolah ingin mengingatkan agar level kesabaran dan pengertian saya kepada putri ABG saya dinaikkan. 
Ada banyak bab yang membuat terharu. Kuatnya persahabatan Formasi 8 terlihat dari penyelesaian setiap insiden yang menimpa Noaki. Tidak ada karakter yang tidak hidup atau sekedar lewat. Baik itu Formasi 8 atau kakak-kakak yang muncul, baik itu para pembina di camp atau karakter Triple A. Semuanya hidup dan mix blend dalam cerita. 
Ketika saya sudah selesai membaca, Veve masih belum lepas dari seri 6, membacanya ulang. Bukunya masih nempel sama dia. Dibaca sambil ganti baju, sambil makan, sambil nata buku pelajaran , sambil lipat baju, sambil..sambil lainnya.
Malam harinya barulah keluar pertanyaan serius dari dia.
“Mami, kenapa Noaki begini?”
Oh, I love this.
Cerita dalam setiap seri Keo&Noaki selalu menjadi kran yang membuka diskusi serius saya dengan dia. Seri 1-4 menjadi pembuka diskusi kami tentang persahabatan, tentang orang tua, tentang gadget, tentang pilihan-pilihan yang diambil tiap karakter. Seri 5 menjadi pembuka diskusi kami tentang perubahan fisik dan hormon, tentang pubertas, tentang Emisi Malam yang tidak pernah saya bayangkan bisa saya bahas dengan anak 11 tahun. Anak cewek pula!
Komen serius pertama yang meluncur dari mulut Veve adalah dia merasa LEGA. Lega karena kalau Bunda Ary bisa menuliskan buku yang “dia banget”, berarti ada banyak anak perempuan lain yang mengalami apa yang dia rasakan. Buku ini mewakili perasaan dan kegelisahan dia. 
Ketika dia bertanya kenapa Noaki seperti itu ? , saya tidak menjawabnya. Saya bertanya balik, menurut dia sebaiknya Noaki harus bagaimana.
Saya bertanya, kalau dia sedang mengalami crush pada seseorang, apa yang kamu rasakan? apa yang kamu lakukan?
Kalau sudah mengambil tindakan itu, apa manfaatnya? apa keuntungannya untukmu?
Lalu saya tunjuk deretan piala di atas meja belajarnya. Yang kamu raih itu karena apa? apakah perasaan crush itu membuatmu meraih semua itu? 
Dia diam, Veve mengakui bahwa suka dengan lawan jenis memang bisa menjadi candu, membuat ingin terus melihatnya, menariknya untuk terus berdekatan dengannya ( Veve langsung menunjuk di bab terakhir, bagian Noaki dan magnet ). Saya jawab kalau itu normal, tapi tubuhmu dan perasaanmu bisa kamu kendalikan. Veve mengerti, dia bilang ada jawabannya di penjelasan Tante dokter. Good.
Diskusi kami berlanjut dengan membahas banyak bagian dalam buku . Tentang perasaan suka, tentang pacaran , tentang masa depan, tentang Noaki - Keo.
Hasilnya kami sepakat. Noaki masih 12 tahun, Veve masih 11,5 tahun. Mereka berdua sama-sama masih punya mimpi, masih ingin bersahabat dengan banyak teman yang lain, masih ingin melihat dunia, masih banyak cita-cita yang pasti ingin mereka raih. Veve masih ingin menginap di hotel hasil jerih payahnya sendiri ( haha...), masih ingin menulis buku, masih ini dan itu.
“Tapi aku bisa bilang, sekarang persahabatanku dengan Keo sudah istimewa. Enggak perlu dibuat lebih istimewa lagi karena jadi enggak wajar, apalagi belum waktunya.” ( Noaki, Keo&Noaki#6).
Saya bilang, bertemanlah dengan siapa saja, bersahabatlah dengan siapa saja, jangan menjadi eksklusif hanya untuk satu orang, akan ada waktunya nanti, dan itu masih jauuuuuuuh. Punya perasaan suka dengan lawan jenis itu wajar. Tapi sukamu tidak harus kamu perturutkan sampai menjadi serius karena belum waktunya. Bisa jadi suka itu hanya sementara, ( dia langsung menyahut seperti Ajeng dan Lady ).
Sebagai orang tua, jujur saya takut dan khawatir, dan akan terus menjadi khawatir. Saya tidak selamanya bisa menjaganya secara fisik. Saya juga sudah pasti tidak bisa mengendalikan perasaannya. Jadi Veve harus punya pemahaman, dan pemahaman itu harus timbul dari dalam dirinya. Di akhir diskusi kami, dalam hati saya berdoa semoga pembicaraan kami membuat pemahaman itu tumbuh , membuat Veve mengerti dan bisa mengambil tindakan yang benar untuk kebaikan dirinya. Saya juga ingin dia kuat, percaya dengan kemampuannya sendiri dan tidak bergantung dengan orang lain. Kalau Veve adalah layang-layang, saat ini saya , orang-orang yang mengasihinya, juga sahabat dan teman-temannya yang akan menjadi anginnya. ( Supaya ngerti apa maksudnya ini, baca seri 6 yaaaa....). Hik, jadi mellow....
“..., tapi kamu tetap bisa menjelajahi langit dengan banyak cara lain dengan kekuatanmu sendiri. Bahkan di malam hari, saat hujan badai, atau di musim aduan....” ( Keo&Noaki#6 ).
Sekali lagi,dan lagi. KeoNoaki series menjadi jalan pembuka diskusi saya dengan Veve. Tidak ada ceramah yang menghakimi, tidak ada penjelasan yang tidak masuk akal. Pas. Perfect.
Pertanyaan terakhir Veve adalah : Nanti gimana Noaki sama Keo? apa nanti ada yang lain? seperti awalnya Ajeng sama Keo, terus Ajeng - Nata, enggak kan?
Jawaban saya : Ya enggak tahu, bukan mami yang nulissssss.....
Highly Recommended buat orang tua deh pokoknya.
#Diam-diam saya jadi mikir, kalau dulu saya 12 tahun, Bunda sudah 22 tahun. Kok ga nulis buku kaya gini sih? Kalau sudah ada KeoNoaki series, setidaknya ada buku yang mewakili saya ketika berumur 12 tahun, sehingga ketika jungkir balik kala itu serasa ada yang menemani. Haha.