Friday, July 6, 2018

Epic Panic Dramatic Mudik

I'm Back.
Fuh..fuh..., update dengan drama haha..
Beberapa cerita di blog tetang perjalanan keluar rumah belum pernah se-epic mudik lebaran kali ini.
Seperti biasa, setelah menjadwalkan mudik tanggal 12 Juni, saya mulai hunting tiket kereta api diawal Mei.

Kok naik kereta? Malang-Mojokerto kan cuma 2 jam naik bis aja bisa. Enggak ada rute Malang-Mojokerto langsung. Ribet banget karena harus transit Surabaya atau Sidoarjo.
Demi anak-anak, jawabnya.
Setahun sekali kita naik kereta! Veve dan Jevon protes waktu  saya bilang ribet banget karena harus nyocokin jam oper kereta di Sidoarjo.
"Aku udah gede  mami, ntr di sesek-sesekin kayak tahun lalu, enggak mau kalau naik bis!" gerutu Veve.
Ya weslah, naik kereta kita pp tahun ini.

Awal Mei tiket belum tersedia untuk tanggal 12 Juni, tiket baru bisa dibooking 2 hari kemudian.
Tiket balik enggak masalah, tahun kemarin udah pengalaman. Tapi kali ini mau nyobain naik Mutiara Selatan.
Untuk mudik, perjalanan naik Jayabaya, transit 3 jam di stasiun Sidoarjo sebelum nerus pakai Jenggala ke Mojokerto. Duh! bayangin nunggu 3 jam di stasiun mau ngapain aja udah bikin bete. Saking stresnya, saya sampai bikin simulasi seandainya selama 3 jam itu kami main ke Transmart yang cuma 3 km dari stasiun bakal telat enggak. Hasilnya? coret Transmart. Enggak sanggup membayangkan dikejar-kejar perasaan ketinggalan kereta.


Dan seperti biasa, jelang keberangkatan saya udah nervous dan gelisah. Muter melulu dan jadi uring-uringan.
Tahun ini pelampiasannya ngejulid dan ngejahit seperti biasa.
Ngejulid tulisannya orang lain di wattpad. Hihi...., tapi enggak terbuka kok, di chat room grup rahasia aja. Jadi enggak bikin rusuh orang lain kan?
Puas ngejulid, saya njahit. Dapet tas rimpel cantik buat Aqila. Sebenarnya mau bikin sepatu baby juga buat Alisha adeknya, tapi sudah 3x trial kok enggak bagus dijahit pakai mesin. Kecil banget sih.

Hari H.
Tanggal 12 Juni, menuju Sidoarjo naik kereta Jayabaya. Ini baru pertama kali kami naik Jayabaya. Kelasnya sih ekonomi. Tapi dalamnya bagus, lebih lapang dan bersih dibanding Martamaja. Perjalanan Malang-Sidoarjo berjalan lancar.
Sampai di Stasiun Sidoarjo jam 1 siang lebih dikit. Sesuai rencana, kami akan ngeprint tiket balik dulu, terus beli tiket Go Show untuk Jenggala. Loket pembelian lebih dekat dengan pintu keluar, jadi saya belok masuk.
Nanya dulu ke satpam ada mesin nomer antrian enggak?
Mas Satpam nanya balik, mau beli tiket kereta tujuan mana? tanggal berapa?
Begitu saya jawab Jenggala, nanti sore jam 16.00, Mas Satpam menunjukkan pemberitahuan kalau JENGGALA TANGGAL 12 JUNI 2018 BATAL BERANGKAT KARENA ADA PERBAIKAN!

JENG!JENG! Lemas seketika. Saya tanya alternatif kereta yang langsung ke Mojokerto yang Go Show, disarankan untuk naik ke jurusan wonokromo trus oper kereta lagi.
Saya melongo, betapa tambah ruwetnya. Alternatif lain Mas Satpam bilang, naik mikrolet ke pasar Krian trus oper naik bus.

Saya minggir sebentar, diam. Minum. Seperti biasa kalau udah kena serangan panik, berusaha sebisa mungkin berpikir tentang anak-anak, jadi dalam hati bolak-balik merapalkan mantera.

Saya mami, jadilah orang tua. Orang dewasa, kendalikan diri, kendalikan diri.

Masih belum memutuskan, saya ajak anak-anak keluar stasiun dulu mencari makan. Masih bulan puasa, enggak banyak yang jualan, tapi ada warung bakso di ujung stasiun. Sambil pesan saya nanya-nanya sama ibu yang jualan.

Ibu penjual menyarankan kami naik mikrolet ke pasar Krian lanjut naik Bus (sama seperti saran Mas Satpam) sambil menunjuk mikrolet orange tua yang sedang ngetem. Saya minum lagi sambil memperhatikan banyak taksi dan mikrolet yang lalu lalang. Mikrolet ada yang jurusan Porong, ada  pula yang jurusan Krian.

Enggak yakin, saya tanya lagi bagaimana kalau naik jurusan Porong. Ibu penjualnya bilang, enggak usah naik jurusan Porong, beliau pernah ke Jombang ya naik dari Krian itu. Jadi yes, saya putuskan naik bus aja deh. Anak-anak saya ingatkan kalau ini akan jadi perjalanan panjang dan melelahkan karena bakal naik turun anngkot. Kemungkinan berdesakan di bus lagi seperti tahun lalu.

Sebelum naik angkot, nanya bapak sopir dulu. Bapak sopir setuju dan menawarkan langsung diantar ke By Pass biar bisa langsung naik bis. Saya mikir dalam hati, berarti di pasar Krian nanti enggak bisa langsung naik bis, oper lagi enggak tahu ntar yang mana. Jadi saya setuju aja ketika bapak sopir minta nambah 5 ribu per orang.

Kami berangkat.
Jarak Sidoarjo-Krian ternyata jauh juga, hampir sejam perjalanan. Sampai di pasar Krian, kami dioper sama bapak sopir.
Saya protes keras karena janjinya akan diantar sampai ke by pass, dioper lagi kami harus nunggu angkot yang ngetem, bisa-bisa tambah lama lagi deh.
Bapak sopir menyakinkan kalau angkot langsug jalan. Jadi sambil cemberut, mengomel saya turun, naik angkot operan dan nanya seberapa jauh.
Untunglah, angkot beneran langsung jalan. Enggak jauh sebenarnya, paling sekitar 15 menit udah nyampai by pass.

Begitu turun, saya tolah-toleh. Kami ada di perempatan by pass. Jadi di sisi mana kami harus nyegat bis yang lewat Mojokerto? Untung ada mbak yang juga lagi menunggu. Ketika ditanya, mbaknya menunjukkan sisi sebelah kiri, jadi kami jalan dulu sedikit belok ke kiri.
Di sisi kiri, ternyata banyak juga yang lagi nungguin bis. Saya sedikit lega. Nanya lagi ke ibu yang lagi gendong anak. Ibunya mau ke Madiun. Saya lega, karena bis menuju Madiun lewat terminal Mojokerto.

Menunggu beberapa menit,  minum lagi banyak-banyak, lewat bus jurusan Jogya dan Ponorogo. Tapi enggak berhenti karena keliahatannya udah sesak.
Gelisah, saya nanya lagi ke bapak yang baru datang. Beliau bilang bener, nyegat di sini. Jurusan Trenggalek, Ponorogo, Jogja lewat Mojokerto.

Beberapa menit kemudian, lewat bis jurusan Trenggalek. Bis berhenti dan kami naik.
Sudah bisa ditebak, bis penuh sesak. Untung ada satu kursi untuk Jevon duduk. Veve didorong sampai belakang bus. Saya sendiri bertahan di samping Jevon.

Bagaimana rasanya ya udah ga usah ditanya lagi. Bau keringat penumpang, campur bau parfum menyengat belum lagi anak kecil di depan bangku Jevon muntah-muntah. Rasanya mau pingsan. Tapi lagi-lagi lihat Veve yang risih berdiri di belakang dijepit ditengah-tengah kernet dan pengamen, juga penumpang cowok, saya menahan gejolak perut, cengkraman di kepala dan berdoa semoga ada yang cepat turun.

Mendekati Tjiwi, akhirnya ada yang turun dekat saya berdiri. Veve pindah dan duduk di sebelah saya. Anak-anak ngumpul, saya lega.
Tapi ternyata bus mendadak minggir. Kernet dan supir turun, lalu terdengar suara klang-klang besi, bis bergoncang. Beberapa penumpang turun, sebagian bergumam kesal. Bisnya nge-ban!
Huweee....saya minum lagi. Sumpah! ini tinggal dikit lagi sampai. Berusaha mengalihkan perhatian, saya ngobrol sama Veve,  bercanda bilang makanya ga nurut mami naik bis aja dari awal. Begini ujung-ujungnya juga naik bis juga.

Setalah sekitar 20 menit, bis jalan lagi. Sepuluh menit kemudian, sudah sampai di terminal.
Telpon papa minta jemput.
Ketika jemput, papa sampai di depan terminal sambil ngomel menunjukkan ban sepedanya yang kempes kena paku!
What a day!
Anak-anak diambil Om-nya naik beat. Saya ganti ban sama papa. Fiuh! sampai deh di rumah.
Sudah? belum.
Malamnya enggak bisa tidur walau badan remuk redam karena saya anyang-anyangan. Komplit deh!

Sejenak masalah perjalanan terlupakan tenggelam dengan kesibukan di rumah dan obrolan ngalor-ngidul dengan saudara. Sedikit menghibur hati, saya tekankan sugesti kalau Jenggala pasti jalan lagi tanggal 20 hari kami balik ke malang.

Setelah semua acara Lebaran sama keluarga selesai, tanggal 16 saya mulai stalk akun twitter @KAI21, mencermati tweet kalau-kalau ada perkembangan. Juga meneror dengan pertanyaan tentang Jenggala, jalan enggak?jalan enggak? hihi..maaf ya admin.
Jawaban admin bikin bete karena katanya tanggal 20 belum bisa dipastikan Jenggala jalan apa enggak karena masih dalam perbaikan.

Panic attack part 2. Saya langsung uring-uringan. Anak-anak yang berlarian dan menjerit-jerit bikin saya senewen. Sampai malam gelisah terus. Saya googling alternatif-alternatif, akhirnya baru tahu kalau KA Dhoho-Penataran bisa langsung turun Malang. Tapi perjalanannya 6 jam
Okelah, itu alternatif kedua. Yang pertama Jenggala jalan, perjalanan seperti biasa, kedua naik Dhoho-Penataran, ketiga terpaksa banget ya ngebis.
Kalau ada yang bilang, kok susah banget sih, kan sebenarnya gampang aja. Naik apapun tetap sampai pulang. Enggak harus naik kereta, enggak harus Jenggala dan Mutiara Selatan.

Karena saya enggak suka kalau ada yang melenceng dari rencana. Saya bisa senewen, salah-salah bisa histeris. Makanya untuk perjalanan keluar rumah lebih dari 2 jam, saya harus memikirkannya sedetil mungkin. Harus ada minimal plan B. Harus ada persiapan-persiapan lain.
Untuk Jenggala ini, saya enggak kepikir kalau Kereta Jenggala itu tenyata cuma sebiji! jadi kalau rusak ya enggak jalan. Saya pikir ada 2 kereta, milik Mojokerto dan Sidoarjo. Ternyata cuma satu itu aja yang jalan bolak-balik. Gila!

Singkat cerita, saya akhirnya beli 2 tiket.
Plan A : Naik Jenggala (Kalau Jenggala jalan) nerus pakai Mutiara Selatan.
Plan B : Naik Dhoho Penataran (kalau Jenggala enggak jalan).

Sykurlah, Jenggala jalan di hari H. Lega karena sesuai rencana. Ketika naik kereta baru tahu mungkin ada beberapa kerusakan teknis sehingga bolak-balik keretanya ga jalan. Lampu gerbong beberapa kali mati, dan pintu hidroliknya enggak bisa nutup otomatis, jadi harus pakai tangan nutupnya.

Sampai di Sidoarjo, lagi-lagi kejadian yang dramatis kami alami. Biasanya, boarding sejam sebelum kereta datang enggak apa-apa. Kali ini, petugas menfilter dulu penumpang yang masuk.
Ketika kami datang, penumpang yang diperbolehkan boarding adalah penumpang kereta BIMA, yang jadwal keberangkatan lebih awal sejaman sebelum Mutiara Selatan.
Jadi saya dan anak-anak mundur dulu keluar, cari sarapan dan nyemil-nyemil. Setengah jam kemudian, udah ada antrian. Saya pikir BIMA udah jalan, berarti antrian itu penumpang Mutiara Selatan. Kami ikut antri dan lolos boarding.

Begitu duduk, ngeluarin Hape mau dicharge, bapak penjaga menghampiri.
Beliau bilang penumpang Mutiara Selatan dipersilakan keluar lagi.
What!? ya ampuuun, berasa diusir deh. Bapak itu minta maaf bolak-balik, sembari bercerita kalau hari ini keberangkatan kereta tujuan Malang ada 3, dengan jeda enggak lebih dari 20 menit. Sudah ada penumpang yang salah naik. Jadinya mereka enggak mau kejadian lagi.

Kami keluar sambil ketawa-ketawa, beneran mudik yang dramatis.
Sampai di Malang dengan selamat.
Tahun berikutnya, saya nantangin Veve naik Dhoho-Penataran yuk!
Veve meringis.
Dalam hati saya kepikiran, tahun depan harus beli tiket dobel-dobel deh. Ntr tinggal batalin kalau salah satu kereta enggak jalan.

Saya ribet!
Iya, jalan sama saya selalu ribet.




Saturday, March 31, 2018

Qlapa.Com, Pusatnya Produk Handmade Pilihan yang Terkurasi



Selama berbisnis handmade custom order, tipe customer yang paling ngeselin adalah keluarga dan teman dekat.
Dua spesies ini terkenal banget dengan aksi nawar yang Afgan dan hobi ngebypass antrian.
Mau enggak dikerjain enggak enak karena keluarga dan temen dekat, dikerjain seringkali bikin makan ati deh.

Salah satu spesies itu nongol di workshopku a.k.a ruang tamu yang berantakannya ngalahin kapal pecah karena kain dan printilan tersebar di mana-mana.

Maria,  sahabat sejak orok datang sambil nyerocos. Begitu masuk, tanpa basa-basi langsung membongkar etalase tempat display produk. Sayangnya, enggak pernah ada ready stock di dalam situ. Maria pun gigit jari.
Dengan tampang memelas, cewek itu meminta aku membuat sesuatu, yang penting ada bau-bau etniknya dan asli handmade untuk cinderamata rekanan bosnya. Masih belum cukup memaksa, dia juga menambahkan dua syarat yang bikin aku sebal. Bagus dan cepat.
Aku mendelik. Mana ada produk handmade yang dibuat dengan cepat. Jadi aku menyarankan supaya membeli produk pabrikan saja.
 Maria tentu saja menolak. Handmade ya dibuat pakai tangan, bukan pakai mesin. Dia ingin memberi kesan yang mendalam kepada rekanan Bosnya sekaligus mengambil hati pimpinan perusahaannya itu. Sang rekanan yang berasal dari Aussie tergila-gila dengan kerjinan tangan khas Indonesia. Jadi demi persahabatan kami, aku menyalakan laptop dan langsung meluncur ke Qlapa.com



Kuceritakan kepada Maria kalau Qlapa.com adalah website keren tempat ngumpulnya barang handmade berkualitas Indonesia langsung dari pengrajin yang tinggalnya di Indonesia. Harga produk juga terjangkau sesuai dengan kualitas.
Di Qlapa.com Maria bisa memilih produk handmade yang dia inginkan. Ada banyak kategori. Mulai dari fashion, gadget, dekorasi rumah, sampai kuliner pun ada. Di Qlapa.com, pengunjung juga dimudahkan dengan kategori yang sudah disiapkan. Tinggal klik saja. Mau mencari hadiah untuk teman wanita, gebetan, hadiah ultah untuk ponakan atau untuk buah hati kita. Di setiap kategori sudah ada produk-produk yang oke punya.


Cara belanja juga gampang banget. Tinggal daftar pake akun Facebook, trus klik-klik pilihan. Bayar dan tunggu deh pesanan diproses.



Maria masih mengernyitkan dahi. Dia takut kalau produk yang dibeli nanti enggak sesuai dengan foto.
Kujelaskan lagi kalau Qlapa.com adalah pusatnya produk handmade pilihan yang terkurasi. Semua barang yang dijual pasti sudah dikurasi alias sudah diseleksi. Hanya produk yang memenuhi standar kualitas saja yang dijual di  Qlapa.com. Jadi jangan takut deh sama kualitas produk. Pasti oke dan sesuai dengan spesifikasi yang tertera di web. 


Maria manggut-manggut. Cewek itu langsung jatuh hati dengan scraft dari batik. Setelah bolak-balik mencermati foto dan spesifikasinya, Maria langsung membeli dan bertransaksi saat itu juga. Ketika tahu kalau ada PROMO PAYDAY, nafsu belanja Maria langsung bangkit. Dari niatnya yang hanya beli satu produk untuk cinderamata, Maria akhirnya memasukkan banyak item di keranjangnya, termasuk keripik dan sambal pecel!


Nah, enggak ragu lagi kan belanja di Qlapa.com. Semua produk handmade unik ngumpul di sini. One stop shopping buat kamu yang mencari oleh-oleh, kado atau item untuk mempercantik diri. Cara belanja gampang dan aman. Semua produknya terkurasi.  Ada aplikasi untuk android  juga. Kamu bisa download di Playstore jadi bisa belanja di mana saja.
Hanya Qlapa.com, produk handmade berkualitas terkurasi asli Indonesia yang dijual dengan proses transaksi cepat, enggak ribet, aman dan terpercaya.

*Ditulis berdasarkan kisah nyata penulis dan sahabatnya, Maria.



Wednesday, March 14, 2018

HOOP-La!



 HOOP-La! itu judul buku tentang embroidery hoops atau midangan bahasa jawanya.
Saya sukaaa bikin hoopart. Buku craft impor ini dikasih sama Nana Ai...:p
Saya enggak pernah beli buku craft sebenarnya. Karena pasti enggak dibaca. Saya kan tutophobia, langsung puyeng kalau baca step per step.
Di buku ini enggak ada steppingnya. Cuma contoh-contoh karya. Pada dasarnya sih Hoop ini sebagai kanvas. Bisa dibikin apa aja. Enggak harus buat sulam. Bisa dibuat karya lainnya.


 Bagian tepi hoop juga bisa divariasi. Ada yang dililit sama kain, sama washi-tape atau renda. Ada juga yang dirajut.
Selain itu, hoop disini ternyata bisa disambung jadi satu. Dibikin kayak album foto gitu


 BTW, masih belum nemu buku hoop dari crafter Indonesia. Bikin gih!
Saya? hahaha..entah deh.
Masih berharap penerbit bisa lebih mendukung crafter dengan menyediakan jasa foto produk dan stepping. Terus terang, setiap naskah saya selalu mentok di situ. Masak kirim foto yang dijepret pakai hape. Jadinya ya enggak banget.
Berharap juga buku craft Indonesia lebih mengedepankan unsur art-nya.
Dari buku-buku craft impor yang saya punya. Foto-foto karyanya itu handmade banget. Enggak sempurna dan kelihatan kalau buatan tangan.
Someday. Semoga.

Beberapa Hoopart yang sudah saya buat. Hoopart palling susah sebenarnya yang monokrom. Biasanya customer minta foto diri. Susahnya adalah memindahkan foto itu menjadi bentuk ilustrasi dengan ekspresi yang pas. Pasti mabok deh kalau ngerjain ini.
Ini salah satu contohnya. Lainnya lihat aja di IG: Vevesworld atau scroll postingan di blog ini.
Mau cobain bikin?
Bikin yuk!


Friday, March 9, 2018

Jenis Kain Bertekstur untuk Aplikasi


Sumber: Google

Di kalangan pengrajin aplikasi untuk bros, kain Ceruti, Diamond Crepe, dan Bubble Crepe menjadi salah satu pilihan utama untuk membuat aplikasi bunga bakar setelah kain sifon dan Asahi yag halus.
Kain Ceruti biasanya dipilih sebagai pengganti kain sifon karena lebih tebal dan lebih mudah untuk dibakar.
Bahan kain Crepe adalah bahan kain yang mempunyai tekstur kasar mirip kulit jeruk. Bahan kain Crepe ini sering digunakan sebagai bahan hijab atau gamis.
Crepe memiliki banyak pilihan tekstur dan jenisnya yang bervariatif. Tekstur paling kasar adalah Bubble Crepe sedangkan yang paling halus adalah Woly Crepe.
Selain digunakan untuk bahan hijab dan gamis, aksesori berupa bros juga sering menggunakan kain ini. Yang menjadi favorit para crafter adalah Diamond Crepe dan Bubble Crepe.


Kain Ceruti

 
Sumber: Google


Ceruti adalah turunan dari kain sifon. Dibandingkan dengan kasin sifon, kain Ceruti lebih tebal, tidak menerawang dan teksturnya terasa jika diraba. Kain ceruti juga tidak melar jika dibandingkan Diamond Crepe atau Bubble Crepe. Bahannya lebih berat dari kain sifon dan jatuh jika digunakan untuk hijab.

Kain Diamond Crepe


 Diamond Crepe disebut juga Diamond Georgette. Kain ini mempunyai tekstur lebih kasar jika dibandingkan dengan Kain Ceruti. Jika Ceruti tidak melar jika ditarik, Diamond crepe lebih lentur dan lebih tebal dibandingkan dengan kain Ceruti. Paling bagus digunakan untuk bunga bakar. Baik itu gardenia maupun bloomy karena "menurut" jika dibakar dan lebih tebal dibanding Ceruti.

 Kain Bubble Crepe



 Kain ini teksturnya sangat jelas. Bergelombang seperti gelembung (bubble). Lebih berat dari Diamond Crepe dan lebih lentur. Bubble Crepe merupakan pilihan terakhir crafter aplikasi bunga karena selain harganya mahal, teksturnya tidak cocok untuk bunga bakar atau aplikasi bakar lainnya.

Wednesday, February 14, 2018

Craftologi








Karena terprovokasi dengan quote :

" Janganlah berjalan seperti gunting, meskipun lurus tapi memisahkan apa yang sudah menyatu, jadilah seperti jarum meskipun menusuk dan menyakitkan tapi dapat menyatukan apa yang sudah terpisah."


Saya sedang mengerjakan hampir 4 gross orderan bakar membakar.
Kerjaan yang ini membuat saya dipastikan enggak bisa menyambi. Jadi duduk diam saja sambil ngelamun menatap nyala api.
Biasanya lamunan berkisar tentang quote apa yang mau dishare dari kutipan-kutipan yang saya baca, atau ngelamun tentang karakter-karakter yang enggak lanjut-lanjut ceritanya..hehe..keplak.

Tapi tiba-tiba saja quote di atas melintas, bikin saya jadi mikir.
Benarkah gunting itu sedemikian jelek fungsinya? memisahkan apa yang sudah menyatu? bagaimana kalau yang utuh itu memang harus digunting demi suatu karya yang lebih bagus?
Dan jadilah saya memikirkan hal ini.

Seandainya hidup saya adalah setumpuk kain atau material craft lainnya, dan Tuhan adalah mastah Crafter, apa yang terjadi pada saya?

Dan imajinasi saya mulai meliar.
Saya membayangkan betapa Tuhan sangat menyayangi bahan-bahan craft itu, bukankah semua crafter gitu? kalau ada kain dengan motif dan warna yang oke, cuma pingin dipandang dan dielus-elus? enggak tega diapa-apain?
Tapi dengan mengapa-apain kain itu bukannya ntar malah jadi karya yang bermanfaat?

Jadi saya membayangkan Tuhan mengambil gunting dan mulai memotong  saya.
Ketika membakar kain itu satu-satu, pasti Tuhan juga seperti crafter lainnya, dengan penuh kesabaran dan konsentrasi penuh supaya lengkungannya sempurna dan  tidak gosong.
Saya juga membayangkan Tuhan pasti ikut merasa sakit ketika mencubit kelopak bunga kalau Ia sedang mempersiapkan kita seperti membuat mawar cubit.
Saya membayangkan betapa Tuhan harus luar biasa sabar ketika berhadapan dengan bubble crep yang susah banget dibakar.
Setelah semua kelopak siap, saya membayangkan Tuhan menyusun lembar demi lembar kelopak itu menjadi satu bunga yang indah. Disusun dan dihitung dengan teliti, supaya imbang.
Setelah itu Tuhan mempersiapkan segala sesuatunya untuk mempercantik bunga itu.
Ditambah juntai, mutsin atau bahkan Rhinestone.
Hasil akhirnya adalah karya yang indah. Diri kita yang lebih indah. Bukan hanya berupa lembaran kain saja.

Beberapa hari terakhir, saya terjebak dalam mood swing. Kadang-kadang jadi baper, kadang-kadang merasa empty. Jangan bilang saya tidak bersyukur. Saya bersyukur dengan semua yang terjadi dalam hidup saya.
Tapi adakalanya saya mencapai titik itu.
Kemarin ketika ngelamun tentang craftologi ini, saya jadi berpikir.
Tuhan adalah mastah crafter hidup kita.
Betapa sayangnya Dia kepada kita.
Betapa sakitnya Ia ketika harus mencubit kelopak kain supaya terbentuk karya yang indah.
Betapa Tuhan berkonsentrasi penuh ketika menyusun lembar demi lembar hidup kita.
Betapa Tuhan mendandani kita dengan cantik.

Mutsin, Rhinestone dan juntai mungkin adalah orang-orang di sekeliling kita yang mengasihi kita.
Hasil akhirnya adalah diri kita yang lebih baik, lebih cantik dan juga lebih bermanfaat.
Tidak pernah ada produk gagal kalau Tuhan adalah crafternya.
Ia akan membuat kita menjadi lebih indah dan berharga melalui serangkaian proses.
Baik kita yang rapuh serapuh sifon, atau ndablek dan keras hati seperti bubble crep yang susah dibakar. Tuhan memperlakukannya sama. Dengan hati-hati dan penuh kasih.

Tuhan juga tahu mana yang lebih baik untuk kita. 
Ia tahu kain mana yang bagus untuk mawar cubit, untuk bunga mangkok, untuk gardenia atau untuk membuat rosebud. Itulah sebabnya proses dan hasil akhir tiap manusia berbeda. 
Tuhan tahu mana yang paling sempurna untuk kita.

So crafters, hang on there. Mungkin kita sedang ada di tahap pemotongan, atau pembakaran yang bikin hidup jungkir balik. Atau sedang disusun per kelopaknya sehingga kita seringkali enggak mengerti apa yang sedang terjadi.
Keep faith dan jangan lepaskan tanganNya. Tuhan sedang bekerja. Membuat diri kita dan hidup kita menjadi sempurna.

Happy crafting my beloved crafters.
Keep strong!






Friday, September 1, 2017

Menjemput Halia

7 Agustus 2017.
Hari itu saya nekat lagi. Pergi jauh ke tempat yang belum dikenal, menempuh 18 jam perjalanan.
Misinya : Ngambil Teh Halia sama ngembaliin kaos kaki yang dipinjam setahun lalu ( sampai yang punya aja udah lupa). Hahaha...
Berangkat dari Malang sekitar jam 5 sore, perkiraan sampai Bandung sekitar jam 9 pagi.
Exicted? BANGET!

Ga cerita banyak ya, cerita foto-foto aja yang ada.


Surprise! sampai di Bandung disambut sama Mie Koclok... Ya ampun, coba kalau sendirian, udah nangis saking kangennya makan yang ini.
Hari pertama saya nyaris ga tidur karena langsung persiapkan paket craft yang masih kurang untuk workshop tipis-tipis besok harinya.
Cerita gimana seru dan asyik WS ntar di bagian lain deh.


 Pepes Dage!!! YAY!!!
Hari kedua dibikinin Bibi pepes oncom ini. Hik, baunya, pedesnya, kemanginya.....makan sama nasi panas-panas...nom..nom...
Siang sampai sore kami ada di SDHT, bersenang-senang dengan guru yang asyik banget.
Pulang dari WS kami sempat makan Nasi Jamblang sih, tapi ga mau upload fotonya ah.. Haha.. nanti ilmunya hilang :p



Hari ketiga jadwal kami main ke Dusun Bambu dan Waduk Cirata. Hari itu, pertama kalinya sandal jepit berkelas yang disimpan setahun akhirnya dipakai. YAY!

Ibu Bos yang juga pertama kali nyetir setelah vakum 3 tahun.

 Tuan Muda yang girang nemu sungai kecil dan mulai nanyaaaaaa mlulu soal ikan. Ikannya MANAAA?

Hasil arahan penata gaya. Cakep kan yak?!


Someday, balik lagi ke sini waktu malam ya, pasti cantik bin romantis.


Dari sekian banyak foto yang diambil, saya paling suka foto ini. Ini diambil dalam perjalanan pulang  dari Waduk Cirata. Kami mampir di mushola dan memuaskan diri memandang cantiknya waduk dari halaman belakang mushola. Sementara Kak Diana sibuk jeprat-jepret sana sini, kami pun sibuk rumpiin Hya, Wynter daaaaaaaan Neru! hahaha...


Hari berikutnya kami rempong, bungkusin paket! hihi..yang nulis tetap menulis, yang jualan tetap jualan. Hari jumat kami ga kemana-mana. Saya main sama tang,  peniti dan juntai.

Yang satunya, rencananya nulis plot yang kami obrolin semalaman di kertas itu. Entah sampai sekarang udah ditulis apa belum :p


CIRENG! dianter sama Kak Diana di hari Jumat.  Hahay...disantap hangat, Crispy dan sambel cocolannya uenak banget.

Sabtu kami pulang sambil ketar-ketir karena kejebak macet menuju stasiun. Alhasil, cuma sempat salam-salaman aja sama Kak Diana. Hik....trus berlari sebelum ditinggal kereta. Hosh..hosh..
Sampai di Malang baru nyadar kalau banyak yang belum dikerjain, belum ini, belum itu.
Ga punya juga foto berdua, bertiga, rame-rame.
Ngapain aja 5 hari itu.
Baiklah, saya sudah baper.
Next time balik lagi.
Bener-bener libur, ga jualan deh :p

Friday, June 16, 2017

Review : Siluet





Judul      : Siluet
Penulis   : Resti Dahlan
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tebal      : 208 halaman

Galen direkrut Ravana untuk suatu misi rahasia, membawa seorang gadis kembali berkumpul dengan keluarganya. Terdorong keinginannya masuk kampus impian di luar negeri, Galen menerima misi tersebut. Rea, gadis yang merupakan target misi ternyata adalah teman sekolah Kaley, sang adik yang juga seorang atlet renang. Galen menjalani misi rahasia dengan frustrasi karena Rea ternyata tidak mudah ditaklukkan.
Rea, gadis penerima beasiswa yang dijuluki Putri Es ternyata menyimpan banyak rahasia. Kaburnya Rea sejak umur 8 tahun ( bukan kabur juga sebenarnya ), hubungannya dengan Alda, kenapa Rea sibuk nyambi kerja sana-sini.
Di sisi lain, Galen juga harus memikirkan kalau ternyata Kaley menyimpan dendam terhadap Rea.

***********
Saya udah agak ga enak waktu Veve menjerit dari dalam kamar.
"Laaaah, kok ada karakter baru! bentar lagi udahan nih!" serunya.
Begitu selesai baca, Veve saya tanya,
"Gimana?"
Veve hanya mengedikkan bahu.
"Bagusan Mahardikans apa Siluet?"
"Mahardikans," jawabnya singkat.

**********

Sore, baru saya sempatkan baca, lanjut terus sampai malam. Bab awal sepertinya menjanjikan. Menarik. Tapi tiba-tiba, seperti disiram air es, saya langsung mules begitu nemu finding machine di halaman 54. Ini bukan lagi typo, tapi udah salah! gimanaaaaa editor dan proofreadernya.
Sontak saya berubah waspada, lama-lama jadi kebiasaan sih, begitu nemu yang ga bener di awal, biasanya ada lagi di belakang-belakang. Beneran aja, ada beberapa kalimat yang menurut saya aneh dan juga beberapa typo.

Mungkin sudah jadi ciri khas Resti atau gimana,  Resti suka sekali memakai Pov 3 subyektif di awal bab, lalu tiba-tiba ada karakter lain yang nyelonong di paragraf akhir. Menurut saya jadi mengganggu flow cerita karena perpindahannya sama sekali ga mulus.

Setelah halaman 54, saya mulai bingung. Ceritanya hanya sepenggal-penggal, seperti cuplikan berita.
Tiap karakter jadi tidak tergali dengan maksimal. Waktu mulai membaca, kirain  cerita akan fokus pada usaha-usaha  Galen mengembalikan Rea. Tetapi sepanjang buku, malah si Kaley yang lebih dominan interaksinya dengan Rea.

Ada beberapa kejadian yang menurut saya ga logis. Juga konflik yang sepertinya ga perlu. Konflik Rea dengan Merry misalnya.
Lalu hubungan Rea dengan keluarganya. Rea dijemput adik Bundanya ketika berumur 8 tahun, tapi Rea ga tahu sama sekali tentang masa lalu Bunda dengan Papanya?
Juga dengan Galen dan Kaley. Agak aneh karena Rea kok ga ada curiga-curiganya tiba-tiba dua cowok itu jadi dekat satu sama lain. Juga Kaley yang nggak bertanya kenapa Galen yang mendekati Rea. Kemunculan Rexy yang tiba-tiba di hampir akhir cerita juga terkesan dipaksakan.  Penyelesaian konflik just like that. Menurut saya terlalu mudah dan terlalu banyak kebetulannya. Resti suka sekali memasukkan banyak informasi secara tiba-tiba, enggak dijalin atau diselipin dikit-dikit dari awal. Pola yang sama juga saya rasakan sewaktu membaca Mahardikans.

Sejujurnya saya kecewa, tapi tetap baca terus sampai akhir hanya karena ini punya Resti. Saya kenal Resti sejak dia menjadi first reader Go Keo, no Noaki 4 karya Bunda Ary Nilandari.
Resti baik, sopan dan jelas seorang pekerja keras. Tetap optimis karya-karya lain akan jauh lebih baik dari Siluet.

Di sisi lain, saya jadi bertanya-tanya, apakah beneran ini beneran diedit? apakah memang sengaja cerita dipenggal-penggal seperti itu? apakah diajak brainstorming penulisnya? karena saya pikir penerbit sekelas GPU pasti sudah menyeleksi naskah dengan ketat. Kalaupun ada kekurangan di awal naskah yang sudah diterima, pasti akan dibenahi sebelum terbit.

Di halaman terakhir buku, saya menjerit frustrasi. Ada 3 lembar halaman kosong! ga ada isinya, cuma ada nomor halaman. Aaarrrrgh....kan sayang ( langsung matre mode on ), itu kan bisa diisi sama promo buku GPU lainnya biar ga sia-sia.

Anyway, besar harapan saya semoga editor-editor GWP batch 3 dengan teliti membaca semua naskah peserta ga cuma awalnya aja  sehingga menghasilkan buku yang bener-bener bagus.

Untuk Resti, keep fighting! Mami udah jadi fans Resti nih! pasti beli buku selanjutnya, malah ga sabar menunggu Resti menulis dengan setting di China. Pasti keren!





Monday, February 27, 2017

Mencuri Ilmu

Saya punya 2 akun Facebook. Satu akun utama yang separuh temannya target market untuk jualan buku, dan satu akun cadangan yang hampir seluruh temannya adalah crafter.
Seminggu belakangan, TL kedua akun seperti neraka buat saya. Isi TL penuh dengan status dan  share berita panas. Bukan lagi masalah Pilkada.

Di akun utama, masalah share ini membuat saya berpikir ulang tentang arti penulis. Bukan hanya dari sisi tulisan yang dihasilkan, tapi juga bagaimana pribadi seorang penulis, terutama dalam hal memanfaatkan media sosial. Yang ini biarlah, bukan urusan saya. Urusan saya hanya jualan buku. Titik. Udah tahu serial Keo&Noaki kan? serial yang booming di kalangan anak-anak pra remaja? Saya jual serinya lengkap ya, japri aja langsung ( iklan lewat ).

Oke, balik lagi.
Di akun cadangan, TL juga panas. Beda kasus tapi juga karena status dan share.
Di akun ini, marak status tentang....ya apalagi kalau bukan harga nyungsep dan foto yang diambil buat jualan. Masalah klasik dan berulang-ulang terus.
Saya gerah karena komentarnya  ya pasti itu-itu aja.

"Ih kok ga sayang pinggangnya ya?"
"Wah ngrusak pasaran nih"
"Wah saya aja jualnya segini, itu kalau segitu cuma dapat ini doang"
dsb...dsb...

Dari gerah menjadi geram karena ketika diingatkan supaya ignore aja ga usah dibully, jawabnya

"Biarin aja dibully, biar ga merusak harga pasaran"

Hello, situ waras? bully kok malah dilestarikan.

Saya tidak setuju dengan crafter yang dengan sengaja memainkan harga. Tapi sikap tidak setuju tidak harus ditunjukkan dengan membuat status provokatif yang memancing caci maki. Bisa kok dengan cara elegan, tulisan implisit, halus tapi nusuknya dalam.

Setelah itu ada lagi kasus foto produk yang dicuri. Ini juga klasik.
Meski ada WM masih aja yang nekat nyolong.
Ga usahlah ribut yang lebay, kalau fotomu dicolong, inbox yang nyolong dulu, konfirmasi, minta dia hapus atau apalah. Tunggu bentar. Kalau ga ada respon. Publishlah. Coret dulu identitas yang nyolong. Buat pengumuman kalau fotomu dicuri dan dibuat jualan pihak lain. Cantumkan kontakmu yang asli, kasih peringatan agar semua berhati-hati. Ga usah ditambahi tulisan memprovokasi, kalau ada yang nanya siapa, ga usahlah dijawab di publik. Penyelesaian begini meningkatkan citramu. Percaya deh. ( tips dari Hayati yang lelah dicolong fotonya berkali-kali ).

Gemes juga kalau status provokatif itu akhirnya menuai banyak komen dan jadi ajang ribut.
Tahu ga sih, kalau kalian ribut di situ, ada buanyaaaaak Crafter penjual yang menyalip di tikungan. Kalian sibuk  ribut, yang lain ada yang sibuk memperbesar kolam dagangan supaya ikannya banyak.
Energi dan kuota yang kalian keluarkan untuk ribut, pihak lain menggunakannya untuk memoles produknya dan memantapkan strategi marketing.
Daripada ribut, mending move on, cari pasar baru, tingkatkan promo, belajar bagaimana berjualan yang efektif.

Jadi , gimana dong?
Saya gaptek
Ga ada waktu untuk marketing
bal..bla...bla...

Klasik. Alasan yang klasik juga.

Ga ada alasan kaya gitu. Masalahnya hanya mau atau tidak mau.
Ada banyak cara belajar . Mau bayar atau mau yang gratis. Pilih aja.
Saya sendiri sampai sekarang belum pernah kursus online yang bayar. Alasannya? err...ga usah dipublish lah ya..ntar jadinya curhat. Hehe.
Yang pasti saya suka gratisan. Eh tapi, belajar sendiri juga pakai modal kali. Kan pasti nyedot  kuota dan ada waktu yang dipakai.
Jadilah pencuri, pencuri ilmu. Gimana caranya ?

1. Googling
Googling aja bagaimana cara....
 nambah follower Ig
 meningkatkan omzet
memanfaatkan medsos untuk berjualan, dsb...
Ada banyak artikel. Baca.

2.ATM
Amati, Tiru , Modifikasi
Amati OS yang itu, yang produk jualannya sama dengan kita menjual dagangannya. Bandingkan foto produknya, penataan lapaknya, bagaimana dia memperlakukan customer, lalu sesuaikan dengan branding personal kita.

3. Stalk
Stalk akun pribadi OS yang jualannya laris manis.
Lihatlah bagaimana dia membuat status.
Kepo kalau dia membuat status tentang jualan.
Kadang-kadang OS ini memberikan tips ketika membalas komentar di statusnya.
Tapi, tak jarang pula, akun pribadi si OS sepi update. Karena apa? ya karena sibuk ngurusin tokonya. Bukan sibuk nyetatus ga jelas.

4. Bertanya
Yang ini jalan terakhir ya. Kalau udah mentok.
Saya belum pernah bertanya tentang bagaimana cara supaya jualan laris, gimana promo ini itu.
Biasanya saya bertanya hal-hal teknis. Kenapa akun Ig saya gini, kenapa akun paypal saya gini, jadi pertanyaan lebih ke proses di luar masalah marketing.
Coba aja. Tapi jangan sakit hati kalau late respon atau ga dijawab sama yang ditanya.
Hak dia untuk memilih menjawab atau tidak. Kalau ga dijawab, ya cari sendiri dooong. Masa gitu aja nyerah.

Yang paling penting : ACTION 

Kalau udah semua, selanjutnya beraksi. Cuma baca doang, stalk aja, nanya melulu, ga beraksi ya sama aja boong. Rugi besar. Udah dapat semua ilmunya , kerjakan. move..move...

Belajar setiap hari, perbaiki diri, ga usah ngurusi yang bukan urusan kita. Ada yang banting harga, biarin, lihat saja dari pinggir. Ada yang fotonya dicolong, simpati dan empati sesuai porsinya. Jangan membuat suatu kasus jadi melebar dan memancing kasus lainnya.
Fokus. Kan mau dagangannya laris manis tanpa harus banting harga. Fokus branding dan tembak pangsa pasar yang tepat.
Kalau ga mau bayar, jadilah pencuri yang berkelas. Pencuri ilmu.







Monday, January 30, 2017

MENARIK NAPAS PANJANG

Setahun kemarin, saya tidak pernah benar-benar menarik napas panjang. Saya terlalu fokus pada satu titik. Dua puluh empat jam sehari, 7 hari dalam seminggu.
Saya  bekerja keras, mencari banyak celah, melakukan bounding, menjaga passion agar semangat tidak hilang.
Saya lupa. Lupa kalau manusia itu mudah sekali berubah.
Akhir tahun lalu. Tiba-tiba saja semuanya pergi satu per satu. Saya terlena karena terlalu percaya.
Bisnis is bisnis. Kalau sudah tidak menguntungkan, tinggalkan. Kalau ada yang lebih baik, ambil.
Saya lupa dengan prinsip itu.
Saya meletakkan hubungan pertemanan lebih daripada hubungan  bisnis. Silly me.
Dan it happened.
Jadilah saya mulai dari awal lagi. Sulit. Tentu saja sulit. No back up. No one help.
Semua sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Lupa kalau dulu saya juga membackup mereka kala jatuh.
Fine. Mari step back. Pertebal garis batasnya. Jangan lagi melibatkan emosi sekarang.
You sell they buy.
Kalau mereka sudah tidak butuh, dirimu akan ditinggalkan.
Jadi tarik napas panjang-panjang. Keluarkan hati dan basuh semua "rasa" itu.
Kembalikan ke awal. You're just a seller.
Take a deep breath and move on.


Friday, January 13, 2017

Maju Mundur Cantik






Jeng...jeng..akhirnya saya nekad.
Mikirnya udah lamaaaaaaa banget. Tapi seperti biasa, saya ga maju-maju.
Di awal tahun 2017, untuk sementara inilah tindakan  nekad yang saya lakukan.
Awalnya keinginan punya MJ cuma masuk wish list aja. Ga dipikirin serius-serius amat. Barulah di akhir 2016 tiba-tiba jadi keinginan yang menggebu-gebu.
Pemicunya ya pasti karena saya gelisah.

Dua tahun belakangan saya terlena. Fokus dengan yang lain dan lupa dengan upgrade skill sendiri.
Saya terlalu nyaman sebagai crafter aplikasi. Customer langganan sudah rutin memasukkan orderan. Branding aplikasi saya sudah lumayan bagus. Tapi satu hal yang saya lupa atau memang sengaja dilupakan. Pesaing saya, crafter aplikasi lain sudah jauh berlari. Yang satu angkatan dengan saya sudah merambah IG dengan follower luar biasa. Di sisi lain bermunculan crafter baru, membuat aplikasi dengan kualitas yang bagus tapi menjualnya dengan harga yang mengerikan.

Bisnis is bisnis. Karena terlalu sering menolak orderan di tahun kemarin, beberapa customer berpaling ke lain hati.

Normal. Bagaimanapun karena ini adalah industri, customer yang saya tolak-tolak itu pastilah  mencari supplier aplikasi lain yang bisa diandalkan dengan harga jauh lebih murah tapi dengan kualitas yang sama baiknya . Memang ada ? adaaaa....banyak. Sigh.

Di akhir tahun, ketika Devi datang berkunjung, kami ngobrol-ngobrol ringan tentang masa depan.
Tentang cicilan hutang, tentang masa depan anak, tentang keinginan kami pensiun dan jalan-jalan aja..haha..obrolan khas emak-emak.

Dari obrolan itulah saya jadi mikir. Apa yang menjadi awal saya nge-craft ini? apa yang ingin saya capai?
Duit. Itu yang terlintas pertama dalam benak saya. Saya Matre , ingat ? :D
Lalu kembali ke pemikiran rasional. Terus terang, menjual aplikasi itu uangnya cepat berputar. Untungnya banyak kalau dibandingkan dengan berjualan produk handmade buatan saya lainnya. Dari segi waktu, kecepatan saya membuat aplikasi sudah lumayan kencang. Satu hari saya bisa membuat 6 lusin aplikasi dari pita. Kalau bakar-bakar masih bertahan di 4 lusin tiap harinya.

Sarana berjualan saya udah ada pondasinya. Akun IG dan Fp market target sudah benar, walau masih nyampur-nyampur dengan market buku, tapi masih didominasi dengan market aplikasi.
Saya gelisah dan terus mikir. Tidak selamanya saya akan terus bertahan sebagai crafter aplikasi, walaupun saya yakin pasti akan ada customer baru asal terus promo dan mengelola medsos dengan benar.

Jadi saya maju, move on.

Langkah pertama adalah memisahkan akun jualan. Saya membuat lagi akun IG khusus untuk craft dan untuk jualan buku. Keduanya saya kaitkan dengan fp serupa.
Mulai lagi mencari follower dengan target market yang ga nyampur.
Di akhir tahun 2 akun IG ini berjalan dengan baik. Saya closing aplikasi di akun IG yang baru di follower 400.

Lalu apa?
Saya malas membuat jenis aplikasi lainnya. Ini ga benar.. hahaha...makanya bisnis aplikasi saya ga berkembang. Mandeg di varian yang itu-itu saja.
Saya balik lagi melihat-lihat karya saya beberapa tahun belakang. Melihat-lihat lagi Pururu-pururu saya, hoopart dan macam-macam pembatas buku atau apapun itu. Saya sadar, saya lebih suka dikenal sebagai dolls maker atau apapun yang berhubungan dengan boneka.  Dari segi kompetitor, saya pede karena karya saya kelihatan "saya banget" dan pasti ga pasaran. Ini awal dari keinginan membeli MJ.
Selanjutnya, saya nekad ikut belajar applique online yang merupakan basic dari quilt. Sejujurnya, saya ga suka quilt, tapi saya perlu tahu tekniknya. Dalam rencana saya, teknik ini bisa digunakan untuk hoopart saya.

Jadilah saya ikut, maju cantik.

Setelah lewat 10 blok, baru saya tahu kalau nanti ada tahapan sashing yang butuh mesin jahit. Bisa dijahit tangan tapi pasti lamaaaa...ya iyalah, hitung saja 20 x 4 pangkat banyak karena itu kan sambung menyambung. Keinginan punya MJ mulai naik lagi.
Saya sempat teralihkan karena menggalau dengan hal lain. Barulah ketika ada momen yang pas. Dalam hal ini ada duit sedikit, saya mulai lagi mikirin tentang MJ.


Berbagai pertimbangan datang dan pergi.

Uang saya sudah jelas tidak cukup. Harga mesin jahit portable yang sungguhan yang saya incar , bukan jenis yang kecil itu , sekitar 1,3 - 2 jutaan, masih jauuuuh duit saya.
Jadinya saya googling-googling saja. Sempat tergoda dengan MJ seharga 650 ribu yang merknya JSYM itu. Tapi masih sebatas googling aja, belum beli. Tapi ini kan investasi. Mesin Jahit bisa digunakan untuk apa aja, mau bikin baju, tas, atau project craft lainnya. Bisa disimpan bertahun-tahun dan ga basi.
Pemikiran itu datang silih berganti dengan keraguan saya karena duit ga cukup. Haha.

 Jadinya saya mundur lagi karena duit ini.

Suatu hari, karena anak-anak libur, kami main ke Malang. Awalnya karena mau pesan sticker untuk hadiah GA. Sambil menunggu Sticker antri dicetak, saya melipir ke toko elektronik yang juga menjual MJ.
Pertama nanya tentang MJ portable langsung dijawab dengan tidak ramah oleh Bos toko. Katanya toko dia tidak menjual MJ mainan, maksudnya yang harganya di bawah 1 juta itu. Saya kesal luar biasa, padahal saya pakai baju cakep lho. Cuma sih pakai sandal jepit. Tapi cara dia memperlakukan calon pembeli kan ga benar. Misi penjual , apalagi pedagang offline kan harusnya "Setiap orang keluar toko dengan belanjaan di tangan". Haissh.... saya keluar toko dengan ngomel-ngomel. Sepulang dari sana, sama masih ngomel dan sakit hati.

Besoknya saya nekad, tidak balik ke toko yang itu, tapi ke toko lainnya yang khusus menjual MJ.
Sama aja sih bosnya, nyebelin. Kirain saya ga ada duit kali ya karena penampilan begini.
Tapi pelayan tokonya baik dan ramah. Ketika saya melihat -lihat MJ yang bermerk, dia menyarankan MJ lainnya yang harganya selisih tapi kualitasnya sama. Si Mamas inilah yang membuat saya akhirnya membeli MJ merk Flyingman. Beliau juga dengan sabar mengajari dari awal bagaimana cara mengoperasikannya juga kelebihan-kelebihan dan trik-trik lain.
Penjelasannya lewat saja di telinga dan mata saya. Biasalah, langsung pusing kalau ada yang ngajari ga praktek sendiri. Kursus kilat di toko MJ diikuti serius oleh.....Veve.. hihihi.. Saya iya-iya aja padahal ga ngerti.

Duitnya? ya hutang... dari mana lagi. Ada satu hal lain yang menguatkan keinginan saya membeli MJ, yaitu bulan ini saya masih mendapat Royalti dari penjuan buku craft saya . Tidak banyak tapi uang yang sedikit itu sudah saya niatkan dijadikan barang yang menghasilkan dan harus digunakan sebagai pengembangan kemampuan saya. Dari craft untuk craft.

Awal Januari 2017, saya resmi punya MJ. Yippieeeee.....

Next,...hebohnya mencoba MJ baru di rumah.