Wednesday, August 24, 2016

MENCARI IDE DI LUAR PINTEREST


Crafter yang belum pernah ke Pinterest ayo angkat tangan !
Hihi...pasti enggak ada yang belum pernah ke surga para crafter ini.
Pinterest itu sebenarnya adalah salah satu media sosial. Buat crafter, pinterest ibarat buku pintar, atau googlenya crafter. Bukan buat crafter juga sih, lainnya banyak.  Cari apapun ada deh, mau pola boneka flanel, mau pola rajutan, tutorial beading, tutorial jahit, tas, baju, apaaaaaa... aja ada.
Saya juga sering main ke pinterest, biasanya sih karena nyasar. Awalnya blogwalking, lalu klik..klik..sampailah di pinterest.
Buat yang lagi kering ide, Pinterest adalah sumber ide berlimpah ruah, mau buat craft model apa aja ada. Tapi buat saya, Pinterest adalah tempat nomer satu yang enggak boleh dikunjungi kalau lagi membuat Pururu. Sadar diri aja sih, saya mudah terbawa, walaupun saya enggak pernah bisa duplikasi, tapi kalau untuk Pururu, saya mau yang saya buat adalah pure hasil mikir sendiri (  sok Idealis ).
Bisakah? bisaaaaa.....
Ide enggak hanya datang dari Pinterest aja. Enggak juga harus googling. Ide ada di sekitar kita. Masing-masing crafter punya cara sendiri untuk menggali ide. Saya sendiri lebih suka membaca atau nonton film. Seringnya ide datang karena nonton drama korea. Ini beberapa karya  yang dibuat setelah nonton drama atau membaca buku.




 Baby Healer.
Dibuat karena enggak bisa move on dari Drakor " Healer " yang udah nonton, pasti tahu deh. Saya juga sempat bikin pururu Young Shin.


Ajeng.
As a Diehard Fan Keo-Noaki, semua tentang Keo-Noaki sudah pasti banyak yang saya bikin. Karakternya kuat dan khas. Tiap personel GKNN sudah saya buat semuanya. Stalk aja wall saya deh, tiap hari ada kayaknya ..ha..ha..ha..


 Rosaline.
Ini bukan karena nonton. Tapi karena promo drama berseliweran di Instagram. Saya suka sama artis ini. Wajahnya ayu, sweet, tapi kesannya strong. Waktu itu juga baru selesai membaca Matilda Roald Dahl. Jadilah saya membuat Pururu Rosaline. Gadis cantik gila baca. Cerita lengkap ada di sini



 Ini karena terinspirasi drama Fate to Love You. Di salah satu scene,  pakai baju orange yang simpeeeel banget.


Cutie Pinchu.
Dibuat untuk ikutan Craft Challenge di salah satu grup. Idenya muncul karena ngider di Soompi, melihat fan art gadis korea pakai hanbook yang menggendong gentong di belakang. Jadilah Si Cutie. Karya ini menang lho..setelah saya ikutan selama 3 tahun dan ga pernah menang. Cutie Punchie ini yang memecahkan telur saya.


Raphelia.
Inspirasi dari Soundtrack Gumiho
lagunya itu OST drama korea My Girlfriend is a Gumiho judulnya Fox Rain, yang main Lee seung gi sama ga tau ceweknya siapa. Karena saya ga nge-fans sama Lee Seung Gi.. saya sebenarnya ga terlalu ingat ceritanya. Cuma ingat kalau Gumiho itu siluman rubah yang beekor sembilan. Seingat saya, yang jadi gumiho itu wajahnya polos dan tanpa dosa...jadinya cantik yang sederhana, dari sinilah Raphelia lahir.
Nama Raphelia ini juga terinspirasi dari OST-nya..jadi di lirik lagunya yang terakhir, ada lirik yang simpel..tubi du bi du rafa tubi du bi du rafa tu bidu bidu tu bidu bidu tu bidu bidu rafa.... nah rafa itulah yang akhirnya jadi Raphelia...


Review Bartimeus Trilogy








 Seri 1 : The Amulet of Samarkand
Dikasih Nana bareng sama Lockwood yang seri 2. Karena in English, bacanya luamaaaaa banget. Apalagi banyak istilah baru dan catatan kaki yang sebenarnya bikin pusing.

Dikasih Mei, baru akhir Agustus kelarnya. Baca ini sehari cuma dapet 3-4 lembar, habis kalau enggak dibaca pelan-pelan enggak ngerti . Maklum Enggeris saya  level cekak bin kasta Sudra.
 
Seri 1 ceritanya tentang awal Nathaniel menjadi penyihir. Dijadikan murid dulu sama Mr. Underwood.
Suatu hari karena dipermalukan di depan umum oleh para pejabat temannya Mr. Underwood, jadilah Nathaniel ini dendam. Karena pinter, Nathaniel memanggil Jin untuk mewujudkan balas dendamnya itu. Bukan Jin ecek-ecek, yang dipanggilnya itu Bartimeus. Konon, menurut Barty, ia ( Bartimeus ) itu termasuk Jin papan atas, enggak pantas dipanggil-panggil sama pemula macam Nathaniel. Wkwkwkwk... Jin pede.

Nathaniel ini Broody, mengingatkan saya sama karakter Nathan dan Nata punya Nana. 
Dan cinta mendalam saya persembahkan untuk Bartimeus. Jin ini walau suka bersungut-sungut tapi kerasa banget kemanusiaannya. Gimana dia melindungi masternya ( Nathaniel ) atau bahkan melakukan tugas lebih dari yang dikasih kepadanya. Cerita Bartimeus ini enggak dark dan mistis. Meskipun jadi membandingkan dengan Jin-jin model Indonesia, tapi tetep aja enggak serem. Ada gambar pentakel sama rosemarry, kalau versi Indonesia mungkin kertas jimat sama dupa itu kali ya. 

Oh ya, saya cheating sebenarnya. Baru dapat separuh, saya malah baca yang seri 3 duluan. Reviewnya ada di bawah. 
Sekarang  lagi hunting yang seri 2. Agak susah karena sama OS biasanya dijual sepaket seri 1-3. Yang lepasan masih belum nemu.

Seri 3 : Gerbang Ptolemy

Jadi, ceritanya saya melanggar aturan. Nemu buku Trilogi bartimeus ketiga di rak buku diskon Gramedia, harganya selisih jauh sama yang beredar di online shop, jadi saya beli aja.
Nana bilang, jangan dulu baca yang ketiga. Baca dari awal agar  terasa perkembangan karakternya.

Buku 1 yang dibeliin Nana edisi bahasa inggris. Bahasa Inggrisnya banyak yang kromo inggil pulaaaa..belum lagi ada catatan kaki yang hampir di setiap halaman. Terus terang saya jadi pusing bacanya.

Jadi, waktu mudik, seri ketiga ini yang saya bawa, pikirannya sih enggak mungkin kebaca juga, soalnya jadwal udah penuh dengan acara kunjung sana kunjung sini. Tak tahunya body saya yang udah terbiasa bangun tengah malam, tetap menolak flesibilitas yang saya peritahkan. Tengah malam terbangun di tengah udara gerah yang enggak memungkinkan saya ngecraft, satu-satunya cara agar bisa balik tertidur adalah membaca. Sialnya pilihan ini malah membuat saya terjaga semalaman, lalu bablas.  Malam-malam berikutnya saya habiskan untuk membaca sampai pagi.
Total 3 malam saya habiskan untuk membaca buku ini.

Seperti biasanya, saya suka karakternya. Karakter Bartimeus mengingatkan saya pada Skull di lockwood 2. Suka dengan kitty jones yang enggak menyerah, yang tekun selama bertahun-tahun dan berani mengambil segala resiko.
Nathaniel, well, bunda benar. Sepertinya harus baca dari awal, terutama karena saya penasaran dengan putus sambung hubungan Nathaniel dengan Bartimeus. Sama seperti hubungan dengan sahabat, pertemannan mereka juga mengalami pasang surut. Suka saya.
Endingnya,...hmmm.. itu memang ending yang rasional sih. Walaupun Mr. Stroud harusnya bisa aja membuat nasib Barty dan Nathaniel menjadi lebih baik. Terjebak di dunia lain, pergi ke masa lalu kek atau apa aja gitu.

Sunday, August 7, 2016

AGAR KELAK KARYAMU JUGA DIHARGAI

Sedih.
Mungkin crafter di Facebook udah mulai jenuh ya, crafter-crafter lama sudah jarang beredar lagi di facebook. Saya percaya mereka tetap berkarya, namun sudah enggak seperti dulu lagi yang sering menyemangati lewat postingan di fesbuk.

Banyak crafter baru bermunculan, bagus sih. Yang bikin gerah, makin banyak juga yang rupanya hanya sekedar ingin memuaskan rasa penasaran. Craft is not really their passion.

Jadi belakangan semakin sering nemu postingan yang ngambil foto orang lain, postingan yang ngecrop foto di situs  craft lalu diakui karyanya, postingan yang mengupload hasil paket belajar, tapi tidak menyebutkan sama sekali, siapa crafter penjualnya.

Oke, fine. Kategori plagiat untuk karya craft memang enggak ada. Desain sama, komposisi sama, warna? ( bisakah warna disamakan dalam satu pandangan mata dengan mata lainnya?), bagaimana dengan presisi?
Enggak mungkin suatu karya dibuat sama persis presisi. Makanya enggak bisa disebut plagiat. Paling pol dinyatakan sebagai karya ATM ( Amati Tiru Modifikasi ).

Saya tidak keberatan dengan ATM, yang membuat saya gerah adalah, kalau crafter yang melakukan ATM secara sadar mengakui ide karyanya itu adalah pure dari kepalanya sendiri. How come?

Crafter dengan passion, terlihat sangat jelas dari karyanya. Selalu ada "sidik jari" yang ditinggalkan. Bahkan crafter yang menjual paket belajar. Karena dengan menjual paket belajar, crafter itu mengikutkan stylenya.
Salahkah pembeli paket belajar mengakui kalau hasil paket belajar itu adalah karyanya? TIDAK.
Yang tidak benar adalah mengakui dan mengambil semua pujian itu untuknya. Jujurlah, katakan kalau itu hasil paket belajar, desain bukan punyamu, enggak perlu menyebutkan nama crafternya.

Lain hari, saya terpaksa meng-unfriend seorang crafter yang saya kenal lama. Crafter ini brandingnya melekat sangat kuat. Karyanya simpel , sederhana dan benar-benar handmade, alias enggak perfect. Saya suka. Suatu hari, tiba-tiba saja dia mengupload foto di sebuah grup dan mengakui kalau itu adalah karyanya. Dalam seklai lihat, saya sudah tahu kalau dia berbohong. Style foto yang diupload bukan stylenya, karyanya juga terlalu rumit untuk dia yang cinta sederhana. Benar saja, foto yang diupload diambil dari suatu situs berbahasa Mandarin. Saya sangat sedih. Tidak ingin melanjutkan polemik ( karena ternyata ada crafter lain yang sempat bertanya-tanya ), unfriend saja.

Untuk apa melakukan itu? mengharapkan pengakuan, mengumpulkan pujian. Oh come on, untuk apa mencari saksi dunia dengan perbuatan yang membohongi diri sendiri.
Craftmu itu kamu. Lihat lagi ke dalam dirimu deh, sungguhkah craft itu passionmu?
Kalau iya, mengerjakannya bukan karena ingin diakui, kamu melakukannya karena kamu mencintainya. Mencintainya sampai ke tulang-tulangmu. Dipuji atau tidak, seharusnya kamu enggak peduli.

Proses pertama belajar adalah meniru. Saya pun demikian. Tidak masalah. Asal jangan keterusan jadi mengakui setiap desain adalah pure milikmu.
Please, hargai karya orang lain, agar kelak karyamu juga dihargai. Kalau craft memang passionmu.

Curhat sedih.
No hard feeling.

Saturday, July 23, 2016

INBOX, PLEASE....

Jualan di Fesbuk banyak seninya. Karena enggak berhadapan langsung dengan customer, waktunya suka-suka, belum lagi kucing-kucingan dengan satpol pp Fesbuk ( kalau jualan di wall pribadi di fesbuk ). Haha...

Beberapa hari yang lalu, ada status yang nongol terus di timeline saya. Temanya : Inbox, please...
Tema ini jadi perdebatan panjang setiap waktu, berulang-ulang. Gosipnya sama aja ya tiap-tiap tahun.
Well, IMHO dalam berjualan,  apalagi di medsos, tiap penjual punya rules sendiri-sendiri. Punya alasan sendiri ketika melakukan sesuatu yang bersangkutan dengan tokonya. Termasuk dalam hal menyantumkan harga.

Ada banyak OS yang  memang  memilih enggak menyantumkan harga ketika sedang promo. Beberapa alasan mereka : Ingin lebih dekat dengan customer ( hehe.. ini alasan yang agak aneh sih ), menjaga perasaan OS lainnya ( hmm...mungkin karena selisih harga  ). Alasan yang menurut saya paling masuk akal adalah,  biar postingannya up dan menarik perhatian. Biasalah, yang penuh rahasia biasanya jadi gula untuk para kepoers.

Tidak mencantumkan harga juga ada resikonya. Resiko paling nyebelin adalah, banyak yang cuma nanya doang, cek dan membandingkan  harga aja karena kepo, bukan karena niat beli.
Buat OS yang punya team. Cara seperti ini ampuh untuk menarik perhatian, apalagi kalau posting di grup yang trafficnya rame. Postingan promonya naik terus karena komen : "Inbox harga", "sudah diinbox", :"cek pesan terfilter", etc..etc...

Salah ? enggak dong. Silahkan aja. Kalau ada yang rese, ya wajar, namanya juga jualan ke orang banyak. Ada yang suka ada yang enggak.
Saya sendiri lebih memilih memberitahukan harga detail, karena saya bukan gadis ( eh..emak ) berkalung hape yang on terus, yang harus stand by buat meng- inbox yang nanya harga.
Selain itu, sebagai customer, kadang males juga kalau harus nunggu inbox lagi dari yang jualan, apalagi kalau slow respon.

Pengalaman saya, kalau promo dengan jelas harga dan detail barang, transaksi biasanya lebih cepat dan potensi closing lebih besar, karena yang menghubungi kita biasanya emang niat beli, enggak ribet dan customer seperti ini biasanya menjadi customer setia.

Mau blind promote atau vulgar promote, pilih sendiri.

Friday, June 3, 2016

SEMARANG



"Let's meet up "
" di semarang "
gitu bunyi inbox suatu hari di bulan Maret.
Saya diam sejenak. Pergi jauh dari rumah itu enggak nyaman buat saya, apalagi membawa anak-anak.
But somehow, saya langsung meng-iyakannya dengan semangat.

Saya bukan orang yang menyenangkan jika diajak jalan-jalan. Saya ribet dan ruwet. Pergi ke tempat manapun, maunya detail. Di mana? dekatkah dengan toko, apakah nyaman untuk anak-anak? dekat dengan atm? pergi ke tempat yang sudah rutin saya kunjungi seperti toko kain pun saya harus membawa banyak perlengkapan. Baju ganti Jevon, kain gendong, handuk kecil, tas plastik, jas hujan, snack, botol air minum, itu semua harus dibawa. Kebayang kan bagaimana ruwetnya kalau harus pergi jauuuuuh apalagi harus menempuh perjalanan selama 8 jam.
Kekhawatiran lainnya adalah, saya hobi tersesat. Haha...
Pergi kemana pun saya wajib tersesat. Apalagi ke tempat baru. Makanya ketika sudah mengiyakan ajakan kopdar itu, saya langsung searching Semarang, stasiunnya, jalur keretanya, cuacanya, mulai blogwalking semua yang dengan kata kunci " Semarang ".

Booking tiket kereta sebulan sebelum bulan Mei, itu pun saya harus ngerecoki seorang teman  yang suaminya kerja di KAI, nanya ini itu.
Saya terakhir kali naik kereta api jaman kuliah dulu. Itu berarti sudah 15 tahun yang lalu. Sistem pembelian tiket  dan operasional kereta sudah berubah, jadi mau enggak mau. biar enggak salah , saya nanya-nanya dulu, searching-searching dulu. 

Tiket bisa dibeli online dan tinggal diprint di stasiun. Semuanya oke. Hotel sudah dibook, dan saya sudah menghafalkan rute  perjalanan dari stasiun menuju hotel. Sekali lagi, karena takut nyasar.
Seminggu sebelum berangkat, kehebohan packing dimulai. Tuan Muda enggak mau meninggalkan dino kesayangannya, takut diculik katanya. Boneka itu yang pertama dimasukkan ke tas ranselnya sendiri,  baju dan mainan lainnya boleh menyusul. Bawaan saya sebagian besar  adalah buku dan beberapa craft supply untuk workshop nanti. Obat-obatan, beberapa tas plastik aneka ukuran, tempat nasi, alat makan, beberapa lembar kain , dan botol minum tidak boleh ketinggalan. Total ada 4 tas. Sudah di coba juga siapa bawa tas mana sebelum berangkat. Hahaha...

Papi, terus terang kuatir dan enggak rela kami pergi. Ketakutannya yang terbesar adalah saya nyasar dan membawa anak-anak. " Kalau kamu aja yang nyasar sih enggak masalah, kasihan anak-anak kalau dibawa ,terus kalian nyasar " gitu katanya . :D
Saya bilang. ada mulut dan ada uang, nyasar balik lagi ke malang. Walaupun sebenarnya saya juga takut :D

Hari Rabu 18 Mei, kami berangkat. Karena sekarang di stasiun steril pengantar, otomatis Papi hanya mengantar sampai pintu depan. Veve dan Jevon sudah heboh, bersemangat, karena ini adalah pengalaman pertama kali naik kereta. Saya deg-deg an karena ini pertama kalinya saya pergi jauh menempuh perjalanan lebih  dari 2 jam hanya bersama dengan anak-anak .

Begitu kereta berjalan, anak-anak itu dengan hebohnya berkomentar ini itu, untung saja penumpang masih sedikit, jadi saya enggak malu-malu amat. hahaha..
Saya yang belum tidur sejak malam hari sebelumnya, berusaha untuk terus berjaga, karena jadwal kereta sampai di Semarang pukul 3 pagi. Takut tertidur dan kelewat.
Jadi ketika hari mulai gelap, saya duduk dan berdiri berganti-ganti. Biar enggak pegel dan hilang ngantuk. Mengamati penumpang kereta yang waktu itu di dominasi bapak-bapak. Menjelang tengah malam, beberapa dari mereka melakukan hal yang sama. Mengeluarkan kotak makan kecil, menata tas kresek di bawah kaki, lalu mulai menyantap bekal yang mereka bawa. Apa yang saya lihat membuat saya trenyuh. Kebayang istri mereka menyiapkan bekal untuk mereka, lauk dipisah dengan nasi agar tidak bau, sendok dibungkus tersendiri, kertas tisu disiapkan untuk membersihkan sendok. Kantong plastik untuk tempat sampah. Tiba-tiba keinget papi di rumah yang entah sudah makan apa sore tadi. Haha.. mendadak mellow.

Kereta tiba sesuai jadwal jam 3 pagi.
Somehow, saya enggak grogi mau bertemu dengan Nana. Apa karena kami ngobrol terus tiap hari ya..
Kesan pertama begitu bertemu? ya.. apa ya?
emmm...seperti sudah mengenalnya bertahun-tahun yang lalu. Entah kenapa, pokoknya gitu deh.
Karena enggak nyasar , sampai di tempat sesuai jadwal dan enggak ada yang diluar perkiraan, saya lega dan rileks. Selanjutnya tinggal beresin ini itu, persiapan menjelang workshop.
Perjalanan pulang juga enggak masalah, yang ribet hanya harus angkat-angkat tas sambil menggendong Jevon yang sudah tidur duluan dari hotel karena kelelahan.
Kapok?
Enggak!
Ke mana lagi habis ini?
MALDIVES !
hahaha...


Saturday, May 7, 2016

Tips Untuk Single Crafter



Sudah hampir setahun saya kehilangan asisten saya. Mencari asisten baru yang berjodoh itu seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Susah karena tidak banyak yang telaten mengerjakan printilan seperti ini, sekarang kebanyakan ibu-ibu di sekitar saya lebih suka bekerja di pabrik dengan gaji yang pasti. Enggak borongan seperti kalau membantu saya.
Mau enggak mau, agar aliran dana si rekening lancar terus , saya ya move on. Jalan tanpa asisten, resmi menyandang gelar single crafter.
Mengerjakan orderan tanpa mengabaikan tugas sebagai emak dan istri memang berat, apalagi kalau menerima orderan dengan deadline mepet-mepet. Agar semuanya tugas selesai ditunaikan, ini beberapa tips yang saya lakukan selama ini.

1. Kenali kemampuan Anda.
Dalam sehari, saya paling pol menyelesaikan 1 gross rosebud mini atau 4 lusin gardenia atau 6 -8 lusin rolled/round/rosebud. Jadi sewaktu menentukan jadwal orderan, waktu untuk mengerjakan 1 list orderan saya sesuaikan dengan kemampuan saya, tentu saja saya lebihkan 1-2 hari sebagai hari untuk berjaga-jaga. Walaupun matre akut bin kronis, tetap kendalikan diri ketika menerima orderan ya. Jangan menerima di luar kemampuan kita, karena sekali deadline meleset, nama baik OS juga ikut ternoda.

2. Kerjakan dulu semua urusan domestik
Sebelum mulai nge-craft, saya pastikan dulu semua urusan domestik kelar. Masak, cuci, membersihkan rumah, menyiapkan mainan untuk Tuan Muda, semuanya saya kerjakan lebih dahulu, agar iklan enggak terlalu banyak  ketika sudah mulai bekerja. Saya juga berhenti mengerjakan orderan ketika Papi sudah pulang kerja. Jadi sore sampai malam jam 10, waktu full untuk keluarga. Meladeni Tuan muda membaca, menemani Veve mengerjakan Pe-er, atau ngobrol sama Papi. Makanya dari magrib sampai tengah malam saya off gadget.

3. Lakukan persiapan.
Sebelum maju ke list orderan berikutnya, biasanya saya nyolong waktu barang 15-30 menit untuk menyiapkan list berikutnya.
Misalnya saat ini saya sedang mengerjakan gardenia, list berikutnya adalah rolled rose. Jadi saya break 15 menit bakar-bakar, ganti menggunting pita untuk list berikutnya.

4. Gunakan sosmed sebijak mungkin.
Ini yang susah. Sekali membuka sosmed, paling tidak 1 jam saya habiskan, lebih-lebih kalau ada urusan dengan jualan buku saya.
Selama ini bisa disiasati dengan mengupdate semua sosmed pagi hari. Saya upload perkembangan orderan, mengatur jadwal tayang di Fp, update di instagram, lalu saya tinggal menyapu, menyuap tuan muda, memandikan dia disambi cek ulang paket yang akan dikirim.
Hape tetap on ketika saya mengerjakan orderan. Tapi saya selalu menahan diri untuk tidak membuka sosmed. Yang saya cek hanya BB dan WA. Makanya orderan saya selalu via BBM dan Wa, itu salah satu cara supaya saya enggak tergoda ngintip Fesbuk.

Berhasilkan tips ini diterapkan? enggak....hahaha.. Enggak 100% berhasil, terutama bagian urusan domestik dan sosmed. Memang fleksibel aja sih, asal target diselesaikan dalam satu hari. Kadangkala target saya 4 lusin enggak tercapai di pagi-sore, jadi mau tidak mau malam saya lembur. Atau kadang malah saya gas poll, target terlampaui sebelum hari berakhir. Jadi di sesuaikan saja, makanya ada lebihan 1-2 hari untuk jadwal yang ditentukan bersama customer, jadi enggak terlalu diburu-buru.
Baiklah single crafter, selamat berjuang. Semangat !!!

Wednesday, May 4, 2016

( bukan ) Tutorial Bloomy



 Warning Alert!
Enggak ada tutorial di sini ya, jadi yang ngarepin tuto model 1,2,3...silahkan balik kucing.

Saya akhirnya belajar serius juga bikin ini. Kali ini bukan karena matre. Tapi karena jengkel diinbox melulu minta tutorial bloomy. Lha saya kan belum bisaaaaaaa...
Yang inbox biasanya habis nyasar di postingan Gardenia dan Bloomy. Memang kalau googling yang ke detect ya itu. Hihihi...
Baiklah, ayo deh, belajar. 2 jam tiap hari ( prakteknya sih enggak sampai 2 jam, karena banyak iklannya ).
Cerita aja ya, sama seperti waktu belajar roseburn dulu. Jurus mautnya juga sama, pakai ilmu memandang. Yang baru kenal saya, saya tutophobia, jadi kalau lihat tutorial, mata langsung berkunang-kunang. :p
Yang mau sekalian belajar, boleh sambil memandang tutorial yang banyak beredar, biar makin ngerti maksudnya.



Karena saya matre dan kerehore, saya beli perca sifon kiloan, sekilo 15 ribu. Tujuannya sih biar dapat macam-macam sifon dan warna, enggak satu jenis aja. Dapat satu kresek, siap di cincang.
Bloomy dan Gardenia  sebenarnya sama aja sih. Sama -sama dibakar, yang membedakan hanya pola dan cara nyusunnya. Kalau Gardenia kan dipotong satu-satu kelopaknya, kalau bloomy, kelopaknya bentuk lingkaran dibagi empat  aja seperti ini.




Dari dulu, menggunting simetris itu nightmare buat saya, bahkan ngunting sederhana aja itu sudah susaaaah banget. Inilah guntingan saya, lingkaran dibagi empat, gunting ujungnya dikit-dikit. Penceng ? jangan kuatir, nanti dibakar biar ga penceng.




Senjata rahasia. Pinggiran kain tadi kalau dibakar biar melengkung cantik, saya pakai cetakan dari kertas tebal  untuk membentuknya.Nah tuh, bisa bikin simetris. Jangan terkecoh dengan penampakan cetakan ini. Ini 5 atau 6 kali saya gunting baru bisa simetris.



  BAKAR. Ingat, membakar kelopak bloomy enggak perlu dibakar sampai melengkung habis. cukup melengkung dikiiit aja, jadi waktu meletakkan cetakan sewaktu membakar, jangan jauh-jauh jaraknya.
(kalau bingung bagian ini, praktekin aja, bakar pakai cetakan dibawahnya, jangan terlalu jauh jarak cetakan dengan pinggir  kain ).






 Tuh, enggak melengkung amat kan. Untuk bloomy ini, saya pakai 7 kelopak. 3 kelopak untuk kuncup, dan 4 kelopak untuk yang mekar. Waktu bengong di awal-awal sambil memandang bloomy punya teman-teman yang sudah jadi, saya pikir mereka pakai ukuran yang berbeda-beda . Tapi asli, karena males gunting banyak ukuran, saya samakan aja semua ukurannya. Kita lihat nanti . jadi enggak.
Setelah dibakar, maju ke step berikutnya. NYUSUN. Hueeek...

FORMASI PELUK 
Kelopak 1-3
Menyusun ini bagian mengerikan yang kedua. Dulu waktu pertama kali belajar, saya stuck di bagian ini. Lalu males, mandeg, ngambek dan milih bikin gardenia aja, wong duit gardenia juga datang duluan :p.
Kali ini saya diem dulu, mikir dulu biar enggak frustrasi. Dilihat aja enggak ngaruh. Ya iyalah masa kelopaknya bergerak sendiri? awalnya saya lem aja ngawur, sebelah dengan sebelah, pokoknya jadi kuncup. Hasilnya ya kuncup, tapi enggak bagus, lipat-lipatanya ga teratur seperti kuncup asli. Mandeg di sini.

Ada 4 kelopak, coba sebelah dengan sebelah enggak bagus, berikutnya coba saling berpelukan, hasilnya? enggak bagus juga ! hahaha.....
Tapi saya sudah di jalan yang benar. Formasi Peluk ini adalah cara nyusun yang benar. A berpelukan dengan A, jangan selingkuh dengan B, enggak jadi nanti. Terbukti kan selingkuh itu tidak indah. Hihihi.....
Bagian ngelem ini juga harus penuh kasih sayang, pelan-pelan, biar bagus kuncupnya. Sampai di sini saya mikir, crafter yang menjual bloomy dengan harga di bawah 30 ribu itu mungkin kurang kasih sayang ya. Lha wong bikin kuncup aja loh makan waktu lebih dari 15 menit.















 Jadi kuncup ! kuncup pakai 3 kelopak ya, yang bagian melengkung yang menghadap ke atas. Next, bikin roknya yang mengembang.
Kelopak ke - 4 .
 Kuncup bloomy yang udah jadi, dibalik, pantatnya dikasih lem dan ditumpuk pakai kelopak yang lain. Kali ini kelopaknya dibalik, nanti bagian roknya ini, kelopak yang melengkung menghadap ke bawah.
Jangan lupa dengan formasi peluk, A dan A ditekan dulu, baru B dan B



 kalau sudah, sekarang pakai jurus CUBIT DIKIT. Lihat gambar di bawah yang ada panah kuningnya, kelopak bloomy yang udah dilem di pantat kuncup, dimiringkan, kasih lem dikit, cubit antar kelopak, biar menempel.




 Nih jadinya, mekar kan...


 Kelopak 5-7 
Lanjut dengan kelopak lainnya ya, step sama dengan yang di atas



 Di kelopak 5 dan selanjutnya, enggak perlu cubit miring, cubit-cubit aja pantatnya sambil di pas-kan dengan penampakan atas. Menyusunnya saling silang.


 Jeng..jeng.. jadiiiiii



Ini adalah foto bloomy yang saya buat di minggu pertama. Tentu saja masih enggak bagus, tapi karena semua trik sudah diketahui, selanjutnya tinggal latihan aja sambil perhatikan bahan apa yang paling bagus untuk bloomy.
Sama seperti roseburn satin  yang paling cocok pakai satin jeruk,  buat saya bloomy juga paling cocok pakai sifon ceruti. Kainnya tebal, dibakarnya agak lama, tapi nurut, melengkungnya pas, enggak berlebihan.
Ini contoh bloomy terbaik selama 2 minggu. Yang jelek??? buanyaaaaak ..udah diremas-remas dan dibuang. Yang pasti saya habis setengah kilo perca sifon tadi.
Kalau sudah ngerti, enggak sulit kok, enggak ribet juga. Kalau masih belum bisa ya frustrasi. Enggak apa-apa normal, proses, kalau masih enggak bisa. Ngambek, mandeg juga ga pa-pa, nanti coba lagi. Kan crafter, masa nyerah?
Fotonya enggak saya watermark ... masa foto jelek bin burem di copas? ckckckck... kalau suka share aja postingan ini. kalau di save jangan buat jualan ya.
Selamat berpelukan dan cubit-cubit sayang, semangat !!!


Monday, May 2, 2016

Berduka

Berduka.
Sepanjang siang sampai dini hari tanggal 3 Mei, wall di FB masih di dominasi dengan ucapan berduka atas perginya Mb. Budi IIn Indriyani.

Saya tidak kenal dekat dengan mb. Iin. Hanya duluuuuu...sewaktu grup crafter masih  beberapa yang mendominasi dan bros masih belum booming, waktu itu sesama crafter masih dalam suasana saling menyemangati, saya dan teman-teman seangkatan masih sering berinteraksi dengan beliau lewat postingan di grup.

Saya paling ingat bagaimana mb. IIn membranding Keimosh. Selalu disertakan keterangan kalau Keimosh full jahit, setiap kali share, beliau selalu mengingatkan untuk mengeksplorasi kelebihan karya masing-masing.
Saya juga ingat, bagaiman mb. Iin dengan rendah hati mengatakan, bahwa memang tidak mungkin suatu karya adalah pure pemikiran sendiri, selalu ada inspirasi dari sana-sini, lalu bagaimana beliau mengatakan bahwa tiap crafter punya kelebihan dan ciri khas masing-masing, ada yang bermain di warna, ada yang bermain di komposisi, ada juga yang bermain di detail.

 Setelah bros booming, dan grup mulai sepi, status mb. Iin jarang saya ikuti. Tapi ada satu status yang sungguh meneduhkan hati. Kala itu marak dengan postingan nyinyir tentang persaingan harga, mb. Iin dengan sangat bijak tidak menghakimi mereka yang membanting harga. Sangat menyejukkan, karena memang kita tidak pernah tahu alasan dibalik penghitungan harga oleh crafter yang bersangkutan.
Ketika Mb. Iin mengeluarkan buku, masih terasa betapa humblenya mb. Iin, dijawabnya satu per satu komen dengan sangat sabar, bahkan saya ingat ada komentar tentang buku yang sudah dikirim padahal belum ditransfer.

Mb. Iin pergi meninggalkan banyak ilmu dan contoh betapa humblenya mb. Iin. Semuanya berduka, termasuk saya.
Kepergian mb. Iin  ketika sedang dirawat membuat saya berpikir lagi.
Mb. Iin memang sering mengeluh tentang vertigo dan darah rendah. Beberapa kali memposting sedang di rawat di RS. Ini sudah terjadi sejak beberapa tahun yang lalu.
Saya jadi melihat diri sendiri,  tapi tidak hendak membandingkan dengan mb. IIn.
Bagaimana ketika saya berpulang nanti? apakah yang diingat teman-teman tentang saya?
Lebih dalam lagi, apakah yang diingat oleh Papi,, anak- anak dan keluarga  tentang saya?
Apakah diingat sebagai crafter nokturnal yang hobi bergadang?
atau diingat sebagai crafter yang mellow?
atau diingat sebagai ibu yang berlari ke sana-sini, terburu-buru setiap kali menyiapkan sesuatu?
Crafter identik dengan kerja lembur, apalagi yang bermain di pasar grosir. Saya termasuk di dalamnya.
Kepergian Mb. IIn mengingatkan saya dengan postingan saya dulu, ketika saya sakit :

 " Selama sakit, saya sadar betapa saya hidup seperti diburu. Saya menentukan target setiap hari yang harus saya capai. Saya mematok batas orderan yang harus saya raih. Bagaimanapun, saya butuh uang. Setiap hari, saya rasanya seperti dikejar deadline. Target yang kadang meleset, ketika numpuk untuk hari berikutnya, saya paksakan kelar. Bergadang ? ya udah setiap hari. Saya tahu, saya menyiksa tubuh saya sendiri.
Sampai di titik ini, saya sadar, betapa lemahnya iman saya. Ini hal lain ya. Begitu takutnya saya kalau Dia tidak akan mencukupkan kebutuhan saya. Betapa sombongnya saya , sehingga tidak percaya akan Kuasa Pemeliharaan-Nya. Banyak yang diberikan-Nya setiap hari. Tidak harus full order untuk merasa bahagia , bersyukur dan merasa terjamin. Saya merasa ditampar. Benar, saya nyaris tidak pernah lagi berjalan-jalan dengan tuan muda ( tugas ini diambil alih oleh veve ), tidak pernah lagi mengorak-ngorek tanah bersama papi, sudah jarang minum kopi secangkir berdua di sore hari. Saya hidup dikejar deadline. Saya kurang bersyukur. So true.... "

Beberapa bulan kemudian, pola yang sama terulang kembali. Saya kembali berkejaran dengan deadline.
Sigh.  
Waktu di dunia memang tidak ada yang tahu. Tapi satu hal yang saya ingin, pergi dengan meninggalkan kebaikan. Saya tidak sempurna, tapi sangat ingin menjadi lebih baik tiap harinya, ingin berbagi lebih banyak tiap harinya.
Mb. Iin memberikan contoh, betapa banyak yang mencintai mb. IIn karena apa yang dibagikan semasa hidup.
Selamat jalan mb. Iin. Terima kasih atas semua yang mb. IIn tinggalkan. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan . Rest in Peace.





Thursday, April 21, 2016

Menginap di Hotel





Ini koleksi Veve. Tanda peserta dari berbagai macam lomba yang sudah diikutinya sepanjang tahun ini. Beberapa kalah , beberapa menang.

Sebulan terakhir, Veve jarang sekali mengikuti pelajaran di sekolah, jadwal kegiatannya adalah mengikuti lomba. Mulai dari penyisihan tingkat kecamatan sampai tingkat kota. Lomba yang diikutinya juga bermacam-macam, mulai dari lomba mendongeng sampai lomba pramuka. Anaknya sangat menikmati. Saya sendiri yang kadang uring-uringan. Maklum sebagian besar lomba baru diinformasikan beberapa hari sebelum pelaksanaan. Saya enggak suka berlomba tanpa persiapan, tapi Veve memang ajaib. Kadangkala hanya dengan 3 hari persiapan, Veve sudah pe-de ikut lomba, walau hasilnya tentu saja tidak sama dengan yang berlomba dengan persiapan yang matang, tapi lumayanlah pulang membawa piala. 

Dulu, Veve dikenal dengan spesialis juara harapan. Awal-awal mengikuti lomba, di sebagian besar lomba, Veve hanya membawa piala juara harapan. Juara Harapan 1, 2, atau 3, tak jarang dia hanya masuk dalam daftar finalis lalu gugur di tahap selanjutnya. Kala itu saya bilang, jangan jadikan kemenangan sebagai tujuan, anggaplah sedang bersenang-senang, mencoba hal-hal baru. Veve memang tidak terbeban, dia santai saja. Ketika sudah kelas 4 dan semua lomba sudah pernah dia cicipi, piala yang dibawa pulang mulai beragam, sebagian besar juara 2 atau 3 ,hanya beberapa yang juara 1. 

Pengalaman mengikuti lomba menjadi modal dasar untuk mengikuti lomba-lomba berikutnya. Kemarin dia membawa pulang Piala juara 1 lomba cipta dan baca puisi. Buat Veve lomba ini adalah lomba yang paling berkesan. Menurutnya, lomba ini murni dinilai dari kemampuan anaknya.

Pada lomba cipta dan baca puisi, anak diminta membuat puisi dari rumah, puisi dikumpulkan sebelum lomba. Lomba dimulai dengan memberikan tema untuk dibuat puisi, peserta lomba bebas membuat puisi sesuai tema yang diberikan. Hasil puisi yang dibuat di saat lomba akan dibandingkan dengan puisi yang dibuat dari rumah. Cara penilaian yang cerdas.

 Puisi Veve yang dibuat di rumah, diedit habis oleh gurunya, jadi sudah pasti puisi itu bukan murni hasil pemikiran Veve. Juri tidak menilai puisi yang dibuat di rumah, yang dinilai adalah puisi yang dibuat di tempat lomba. 
Hasilnya, menurut Veve, banyak peserta yang sudah menghafal puisi dari rumah, mereka menyalin apa yang sudah dihafalkan, mirip-mirip dengan puisi yang mereka kumpulkan di awal lomba. 
Di tahap final, juri sempat rapat selama hampir 3 jam sebelum menentukan juara. Rupanya banyak peserta yang melakukan kecurangan. Sebelum lomba, mereka sudah mempersiapkan puisi yang akan ditulis dari rumah. Mereka menghafalkan syairnya. Parahnya ada juga yang copas dari internet. Juri  sangat jeli, ketika melakukan penilaian, mereka melakukan kroscek dengan puisi yang ada di internet. Beberapa anak menjiplak secara utuh puisi itu, ada  yang mengambil beberapa bait, ada juga yang hanya mengganti judulnya saja, bahkan ada beberapa anak yang puisinya sama persis.

Kata Veve, puisiku buatanku sendiri, wong aku ga pernah internetan. Memang benar, modal Veve hanya melihat dan membaca. Waktu saya tanya darimana dia mendapat ide untuk puisinya? kata Veve dia pernah melihat tari Remo sewaktu lomba Pramuka ( Veve memilih tema Tari Remo ), yang dia lihat , itu yang dia tulis. Sempat mendapat pujian dari Juri kalau kalimat yang Veve gunakan memang bagus, menunjukkan "kenakalan" khas anak-anak. Saya sendiri memang sering terkejut dengan apa yang ditulis Veve. Memang, buku yang dibaca Veve lebih banyak daripada buku yang saya baca, hahaha..sok sibuk. Diksinya bagus dan beragam, enggak seperti saya yang sering stuck memilih kata-kata. 

Tahun ini adalah tahun terakhir dia boleh mengikuti lomba, kalau sudah kelas 6, dia sudah tidak boleh lagi mengikuti lomba-lomba.. Waktu saya tanya apa yang ingin dia kejar, jawabnya : Aku pengin menginap di hotel, pengin merasakan apa itu karantina. Hahaha...
Baiklah, ayo berusaha, mudah-mudahan.

Monday, April 18, 2016

KARENA GAGAL BERKREASI

 Setahun belakangan banyak crafter baru yang muncul di medsos . Pertanda baik, katanya berkesenian itu dapat menyeimbangkan otak kiri dan otak kanan sehingga niat berbuat jahat itu bisa disingkirkan. Haha...


Makin banyak kreasi yang dihasilkan, yang jualan juga makin banyak. Bros yang booming sudah hampir 3 tahun ini tetap menjadi idola sebagai item yang paling sering dipromokan. Sayangnya, harga nyungsep juga  ikut menjadi trend. Belum lagi semakin banyak foto-foto yang dicuri dan digunakan untuk promo.

Semakin ke sini saya semakin bertanya-tanya. Yang berjualan dengan harga nyungsep itu, benar enggak sih craft itu adalah passionnya? kalau berdagang adalah passionnya, sudah pasti enggak akan membanting harga dengan ngawur seperti itu.
Kalau craft adalah passionnya, tidakah ia menghargai buah karya tangan dan jiwanya sendiri?
Atau jangan -jangan dia hanya senang dengan hal-hal baru, yang ujung - ujungnya membuat jenuh, bosan lalu gagal berkreatifitas kemudian balik kanan, berhenti. Kalau cuma sekadar coba-coba sih oke, enggak ada yang dirugikan kalau dia berhenti. Tapi kalau sudah sempat berjualan, sudah kadung memilih membanting harga sebagai strategi awal berdagang, ho..ho.. lihatlah apa yang sudah dia tinggalkan.

Memang, selama masih ada yang namanya jual beli di muka bumi ini, persaingan harga tidak terelakkan, ketersediaan barang yang dijual juga mempengaruhi harga. Buat yang berdiri di luar lingkaran, seperti saya. Harga-harga ngawur ini sebenarnya enggak ngaruh juga. Apalagi buat kami yang enggak hanya berjualan di fesbuk aja.

Mungkin yang berjualan dengan harga nyungsep itu hanya fokus di satu pasar, walau alasannya agak aneh, karena komunitas ini yang paling rame.
Mungkin yang berjualan dengan harga nyungsep itu memilih strategi awal dengan menawarkan barang murah. Ini strategi bunuh diri.
Mungkin yang berjualan dengan harga nyungsep itu hanya coba-coba berjualan aja. Nothing to lose. 
Apapun alasannya, kalau di dasari dengan passion, semua unsur pasti akan dipikirkan dengan baik. Saya enggak habis pikir, dengan barang handmade yang dijual setara dengan harga bahan mentahnya. 
Lha apa yang berjualan itu mendadak amnesia, kalau banyak hal lain yang harus dimasukkan dalam menghitung harga? atau mungkin penjualnya itu seorang peri dengan tongkat sihir yang mengubah sekumpulan pita menjadi aplikasi dalam sekali ayun?
Atau mungkin dia hanya tergiur dan tergoda untuk mencoba, melihat postingan crafter lain yang sudah punya "nama" yang orderannya luar biasa, lalu begitu mencoba merasa lelah dan gagal.

Ah, whateva lah.

Menjadi crafter itu proses. Awalilah setiap proses dengan cinta, dengan passion. Hal-hal lain akan mengikutinya. Kalau sudah cinta pasti akan sayang. Kalau sudah sayang pasti enggak akan membully karyanya sendiri. Gagal berkreasi dan merasa lelah? Sebelum kalimat itu terucap setelah mencoba ini-itu, pikir lagi deh, bener enggak craft itu adalah passionmu.