Thursday, January 29, 2015

GHOSIPICT : Hantu Pencuri Foto






Setahun yang lalu , saya ikut Kuis yang di adakan di  Paberland oleh Bunda Ary Nilandari . Kuisnya adalah membuat kata-kata baru. Saya membuat beberapa kata baru tentang dunia craft dan OS . Ini beberapa kata-kata yang saya buat :
Feltonic : Gonjang ganjing di dunia Flanel
Ghosipict : Hantu pencuri foto
Minungitis : Migren karena customer nawar sampai nyungsep
Ekomot : Ekspedisi Lemot
Satu lagi saya lupaaaa...
Dan kata-kata ini membuat saya memenangkan kuis itu lo... Untuk kuis yang diadakan penulis sekaliber Bunda Ary Nilandari, memenangkan kuisnya rasanya bangga banget. hahahaha.

*******
Menurut kepercayaan orang Tionghoa, bulan ke-4 dipercaya sebagai bulan sial. Alasannya, angka 4 kalau di ucapkan seperti kata shi ( mati ) dalam bahasa Tionghoa. Di bulan ini, katanya semua hantu dilepaskan dan tidak ada hal yang baik terjadi di bulan ini. Itulah sebabnya mengapa tidak ada orang Tionghoa yang menikah di bulan 4 pada  penaggalan Tionghoa.

*******

Mungkin bulan ini adalah bulan ke-4 dalam dunia crafter, banyak hantu yang lepas dan mencuri foto para crafter. Saya salah satunya yang sempat merasakan di curi fotonya.
Pagi-pagi sekali , saya banjir inbox dan notif, saya pikir teman-teman mengucapkan selamat karena cerpen saya akhirnya di muat di Bobo, hehehehe.. ge-er

Ternyata oh ternyata, inbox yang masuk adalah tentang foto Pururu saya yang digunakan untuk berjualan di salah satu grup.
Sejujurnya saya tidak merasakan apa-apa waktu tahu. Setelah meluncur ke TKP, saya inbox yang bersangkutan.

Tidak... saya tidak marah dan memakinya karena mengambil foto saya. Saya hanya bilang, bahwa sayang sekali kalau baru mulai berjualan Online harus di black list atau bahkan di bully sama yang lain. 
Mbak yang mengambil foto saya, merespon saya dengan cepat. Dia meminta maaf dan langsung menghapus semua foto saya baik yang di grup maupun di berandanya.

Bukan kali ini saja foto saya diambil untuk berjualan. Hanya saja saya tidak heboh untuk memposting di sana-sini. Untuk Pururu, saya sebenarnya senang, karena berarti karya saya udah mancep di kalangan Fesbuker, jadi jika ada yang mengambil, walau foto saya tidak ada watermarknya pasti sudah banyak yang tahu kalau itu Pururu saya, intinya branding saya ada gunanya.

Terlepas dari kontroversi boleh atau tidak mengambil foto, In My Humble Opinion, pencuri adalah pencuri. Kalau semua pencuri dan penjahat bisa dengan mudah dilupakan hanya dengan kata maaf, apa gunanya ada hukum dan polisi ( Jiaaaahhhh... ini quote terkenal di drama Boys Before Flower .. )

Saya sama sekali tidak setuju menggunakan foto milik orang lain untuk berjualan, itu namanya menipu diri sendiri, meletakkan dasar yang rapuh untuk memulai bisnis.

Tidak semerta-merta menghakimi, kalau mau dipandang dari sisi lain pun tetap saja mengambil foto orang lain untuk berjualan itu  tidak benar, kalau ada yang berdalih foto kita mendatangkan rejeki untuk yang memasangnya, oh ya ? rejeki halal darimana berjualan menggunakan sesuatu yang bukan haknya?
Berjualan menggunakan foto orang lain memberikan beban yang berat. Tidak semua crafter bisa menduplikasi persis..sis foto yang dipasang. Contoh Pururu saya.. saya sendiri saja tidak bisa menduplikasinya lagi, akan ada banyak presisi jika ingin menduplikasinya , karena crafter itu manusia, sudah pasti ada selipnya. Dan saya ragu crafter yang punya kemampuan duplikasi tingkat tinggi mau menduplikasi karya crafter lain tanpa ijin, gengsi bok....

Ada pula yang beranggapan kalau semua yang sudah ada di internet adalah milik bersama. Ini pemahaman yang terlalu dangkal.

Kita manusia, dilengkapi dengan akal budi. Sedari kecil kita diajarkan mana baik, mana buruk. kita hidup di lingkungan ( dunia nyata ) dengan berbagai batasan moral.

Jadi kalau dengan berkeliaran di dunia maya, apakah akal budi kita seketika hilang sehingga tidak ada lagi batasan antara baik dan buruk? benar atau salah?
Bagaimana jika dibandingkan dengan contoh ini :
Sepeda motor yang diparkir di depan swalayan yang nota bene adalah ruang publik adalah sepeda motor milik bersama, siapapun boleh mengambilnya tanpa ijin. Bolehkah kita mengambilnya ? mengakui kalau itu millik kita ? tidak kan...meskipun kita lalu mengambil fotonya dengan kamera hp lalu memasangnya sebagai dp lalu kemudian  mengakui kalau sepeda itu milik kita, apakah itu tidak membohongi diri kita sendiri?
Dan kalau sampai tahap ini masih ada yang beranggapan bahwa tindakan seperti ini adalah baik dan benar...i give up... maybe the end of the world is just begin...

Dan yang terakhir, crafter itu diperlengkapi dengan etika,baik itu crafter lama atau crafter wanna be. Saya tidak suka sebenarnya dengan label crafter baru dan crafter lama. Setiap orang yang dengan bangga menyebut dirinya crafter seharusnya sudah menempel rambu etika, di hati, tangan dan pikirannya. Seorang crafter seharusnya sudah tahu bagaimana proses kreatif yang dilalui ketika membuat suatu karya, menghargai setiap perjuangan untuk membuatnya. Jadi ketika hendak melakukan yang di luar etika, seorang crafter sudah tahu di mana dia harus berhenti dan menahan diri.

Mungkin harus ada Craftbuster untuk menangkap para ghosipict ini... any volunteer ?



Wednesday, January 28, 2015

Makan Kemenyan dan Membakar Dupa

Craft is a mood thing....
Susye ya kalau pekerjaan itu tergantung sama mood. Ga bisa di on-off, dipencet seenaknya.
Kalau lagi males pencet off kalau lagi rajin pencet on.. enaknya kalau ada yang jual alat mood controlling.. hahahaha..
Saya juga sering hilang mood, every crafter have their own bad day. Yang bikin ngeri itu kalau hilang mood di kala dateline memanggil-manggil.
Membuat aplikasi rose  bisa aja dikerjakan meski bad mood day datang, karena bentuknya ya itu -itu aja, kecuali kalau rosebud versi lipat, makanya saya ga jual, susye dapet feelnya . Kalau rosebud jahit, mau bad mood, mau lagi kesurupan, hasilnya ya seperti itu, that's why i luvvvv this version. :p
Yang jadi masalah kalau membuat Pururu, saya sama sekali tidak bisa mengerjakan kalau moodnya ga ada, makanya saya ga membuat Pururu versi Request, seenaknya saya aja.
Jadi ketika saya menyanggupi orderan Pururu ( customer harus dengan ikhlas manut apapun bentuknya ) saya harus membangun atau bahkan menjaga mood dulu. Jadi inilah yang saya lakukan :

1. Kerjakan dulu urusan Domestik
Saya nge-craft sambil nyambi. Nyambi masak, nyapu, ngepel, main sama tuan muda, nyambi nulis, nyambi bantu veve kerjakan pe-er, setrika, nyuci, nungguin veve les, so on...so on...
Kalau mau membuat Pururu, semua urusan domestik harus diselesaikan dulu. Masak, nyapu, ngepel, menyuapi tuan muda, plus menyiapkan "sesajennya" ( mainan dan biskuit buat ngemil ), harus sudah selesai supaya saya bisa nemu ide dengan tenang.

2. Clear mind and body
Membuat Pururu ga bisa dalam keadaan galau, nemu idenya seriiing banget kalau lagi galau, tapi eksekusinya nunggu galaunya hilang dulu.
Caranya, makan, minum, tidur... hahahahaha... kapan ngecraftnya.
Sejujurnya , saya jarang banget membuat Pururu di malam hari ( yang menurut para crafter jam paling efektif karena semua penghuni masih tidur ).
Saya justru paling sering membuat Pururu siang sekitar jam 2-4 sore, karena pada jam segitu, saya sudah kenyang, sudah nyolong ikutan tidur siang sama tuan muda, veve sudah pulang sekolah, dan waktunya anak-anak keluar rumah, main di sawah.
Jadi ketika body dah oke, pikiran dan enak, ide udah ada, tinggal eksekusi ide.

3. Kalau tidak berhasil, pergi dari dunia craft
Yang ini sering banget saya lakukan. Kebanyakan Pururu lahir bukan dari stalking di site craft, blog crafter atau stalking crafter lainnya.
Ide seringkali saya dapatkan ketika main di dramabeans ( padahal blog ini ga ada gambarnya looo), inspirasi dari fan art di soompi, dari ilustrator di devianart, bahkan dari mendengarkan lagu.
Kalau itu pun sudah mentok, saya pergi keluar, ngerumpi-ngegosip, main di sawah, nyari uban papi, atau sekadar ngopi sambil ngelamun..enak to jadi crafter, ngelamun pun bagian dari proses kreatif.
Meskipun demikian, kadangkala saya juga cuma diem aja, memandang tumpukan kain, benang, dakron dan lainnya like a dumb doing nothing. Ikut tangan aja.. terserah deh mau jadi apa. Makanya konsep selalu tidak sejalan dengan eksekusi.
Inilah sebabnya mengapa saya cinta craft, ga ada pedoman, ga ada aturan, ga harus lurus, ga harus urut. Yang harus hanya passion, that's it.
Jadi kerjakan saja berdasarkan naluri, ga perlu makan kemenyan dan membakar dupa untuk memaksa mood supaya "on".
Eh, tapi saya suka lho sama bau dupa di pagi hari. Jangan salah ya, dupa itu termasuk aromaterapi.
Happy crafting !

Wednesday, January 21, 2015

3 Kesalahan Saya Ketika Membuat Roseburn



Alasan utama saya akhirnya membuat Roseburn adalaaaaaah... karena saya matre..hahaha.
Customer setia saya yang ga pake rempong kalau order, sebenarnya sudah meminta saya membuatnya sejak tahun lalu.
Tapi you know, membuat roseburn itu ribet, membayangkan harus memotong per kelopak, membakarnya satu-satu belum lagi nyusunnya, aduh pokoknya ga banget deh.., jadinya dulu saya ogah membuatnya secara serius.
Ketika customer saya repeat order dan sekali lagi meminta saya membuat roseburn, kali ini saya iyakan.
Saya mengambil jatah 2 jam yang biasanya saya gunakan untuk menulis ( ga selalu 2 jam juga..banyakan bengongnya hahahaha ), untuk mulai belajar membuatnya.
And the journey is..amazingly made me got headache hahahaha...
Sama seperti ketika belajar membuat rosebud, tentu saja frustasi itu adalah wajib untuk dinikmati.
Dan inilah 3 kesalahan saya ketika belajar membuatnya :

1. Tutorial itu adalah SOP ( Standard Operation Procedure )
Karena saya hanya punya waktu 2 jam x 15 hari untuk membuatnya, mustahil kalau saya pakai ilmu memandang, selain ga ekonomis, alias sudah pasti membuang banyak bahan ( crafter pelit ), jadi saya potong kompas saja, membuat sesuai tutorial. Kalau membuat seturut tutorial pasti menghemat waktu dan bahan pikir saya waktu itu.

Tutorial banyak bertebaran di mana-mana, tapi saya memilih yang kelihatannya paliiiiiiing gampang, yaitu yang menggunakan pola lingkaran dibagi 8 sebagai kelopaknya.
Untuk Tuto-phobia seperti saya, mengikuti tutorial itu seperti terpaksa makan brotowali, pahitnya amat sangat...susyeeee banget.

Proses awalnya sih lancar.. kan cuma motong kain berbentuk lingkaran trus dibagi 8, sama seperti membuat cream, selanjutnya adalah membakarnya...bahkan ketika membakar saya tidak kesulitan, ujung kelopaknya melengkung semua.. tapi hasil akhirnya kok lepeeeeeekkkk... huwaaaaa..what's wrong ? cek..cek...cek.. coba...coba... teteup aja lepeeek.

nah.. lepek kan.. ga bisa berdiri cantik...


Saya stalking crafter yang juga membuat roseburn versi ini, jadinya kok buaaaaagus dan kelopaknya bisa tegak berdiri ..sempurna, sempat juga terlintas di pikiran saya, apa itu kelopaknya di hairspray ya... hahahahaha....

Give up versi yang ini, saya ganti pakai versi lainnya, roseburn yang dibuat per kelopak  yang menggunakan kertas untuk menahan lengkungannya. Hasilnya, kertasnya berulang kali terbakar..huwahahahahaha.


ini yang terbakar...ssst, jangan bilang-bilang yaa, kertasnya itu saya nyomot kartu mainannya tuan muda

Jadinya saya singkirkan kertasnya, saya bakar biasa aja ujungnya, tapi ketika di susun, masih aja lepeeek.. hiks..hiks.. napa ya? frustasi? jelaaaaassss, i'm running of time....

Balik lagi saya stalking, bukan stalking tutorial, karena di tutorial ga dijelaskan secara detail bagaimana kelopaknya bisa berdiri.. saya stalking koment-komentnya.. biarpun puluhan atau ratusan komen saya baca dehhh, ternyata rahasianya adalah, jangan hanya bakar ujungnya aja..bakar agak ke dalam atau bakar juga semua pinggirnya..voila..lulus saya di tahap ini...

Kesimpulannya, Tutorial itu sebenarnya adalah panduan yang bersifat fleksibel, tidak sama seperti membuat kue atau SOP di Laboratorium Kimia yang harus diikuti urut dan persis, karena craft itu ga ada batasan, perjalanan membuat suatu karya tidak bergantung dari tutorial yang ada, tapi tergantung dari bagaimana seorang crafter "menemukan " perjalanannya sendiri.
Buat saya, yang paling cocok untuk saya sebenarnya adalah ilmu memandang...i'll find my own way to make all of that..

2. Mawar Bakar itu ya di bakar..
Kalau orang awam diminta memberi pengertian apa itu mawar bakar, pasti jawabannya kalau mawar bakar itu ya mawar yang dibuat dengan dibakar.

Dulu ketika awal booming roseburn ini, saya sempat belajar sedikit, waktu itu tantangannya adalah membuat kelopaknya melengkung dengan sempurna.

Sama seperti pemahaman orang awam, saya langsung aja membakar kain tepat di atas nyala api.. hasilnya ya gosong, bahkan seringkali terbakar... hihihihi..

Jadi ketika belajar lagi, saya perhatikan benar-benar bagaimana  " membakarnya ".
Kelopak roseburn sebenarnya dibuat tanpa di bakar, karena yang membuatnya melengkung adalah radiasi panas dari sumber api. Saya sempat penasaran, bisa ga kalau uap air mendidih membuatnya melengkung, jadi saya coba dengan uap air ketika merebus air ( crafter nganggur ..hihihi ), ternyata tidak bisa melengkung, jadi kesimpulannya, panas yang dibutuhkan adalah panas radiasi.

Membuatnya dengan nyala lilin dan nyala api dari lampu minyak ternyata tidak sama, maksud saya kalau pakai lampu minyak kan lebih ngirit :p

Saya mencoba dengan keduanya, hasilnya nyala api dari lilin mempunyai radiasi paling bagus, kalau nyalanya besar, jarak 2 cm saja kainnya sudah melengkung, ga pake gosong.
Kalau dari lampu minyak, harus sedekat mungkin dan kadangkala meninggalkan bekas hitam terkena asapnya. Saya tidak pintar mengendalikan nyala api dari lampu minyak. Di tahap ini berasa jadi avatar deh... pengendali api...

3. Nyusunnya ? gampaaaaaaang....
Sejak awal, saya seharusnya sadar kalau ini akan jadi bagian yang paling sulit , karena saya ini crafter yang unsimetris, alias selalu penceng kalau harus menyusun, menggunting, menggaris sesuai aturan.

Ketika sudah lulus membuat kelopaknya melengkung, saya mulai menyusunnya, awalnya saya susun biasa melingkar menggunakan alas, hasilnya.. ya seperti biasanya..menceng ga karuan kanan dan kiri.

Bongkar lagi, kali ini alasnya saya beri jarak, saya garis dan saya bagi menjadi delapan, hasilnyaaaaa...masih saja ga simetris.
Streesss saya... mandeg wes, saya ngambek dua hari.

But somehow, suatu malam atau dini hari ya... ada postingan bumping tutorial membuat roseburn punyanya mbak Anisa Hisbulloh ini linknya klik di sini ..dari situ saya mulai ngeh..ga bisa nyusun satu-satu, saya susun per 4 kelopak... hohohoho.. hasilnya.. simetris melingkar.
Kalau saja waktu itu bukan dini hari, saya sudah melompat-lompat sambil berteriak berhasil ! berhasil ! hahahahaha....

See.... motong kelopaknya saja besar-kecil, saya ini crafter unsimetris


Jadilah roseburn perdana saya yang kelihatan benar-benar roseburn. Selanjutnya practice make perfect. Beberapa crafter yang satu angkatan dengan saya ketika pertama kali membuat roseburn, lama kelamaan roseburnnya semakin cantik. Jadi ayo berlatih dan berlatih.
pe-er berikutnya adalah membuat acuan baku tentang ukuran kelopak yang berpengaruh pada ukuran roseburn.

Baru 20 jam sejak saya belajar , masih ada sisa 10 jam untuk menentukan ukuran dan berlatih...mudah-mudahan cukup membuat roseburn yang lebih cantik.

Ini dia, kegagalan saya, ada beberapa juga sebenarnya, tapi dah saya buang.. habisnya frustasi banget.. hahahaha..
Oh ya, saya akhirnya memutuskan kalau membuat roseburn lebih cucok pakai kain satin ( ada yang bilang pakai satin jeruk lebih bagus, belum saya coba ), karena melengkungnya bisa pas, kalau pakai pita, saya kesulitan membuatnya melengkung penuh, soalnya bagian pinggir pita sudah keras. Nah yang biru itu percobaan saya memakai pita.

Beberapa yang gagal, yang biru satu-satunya yg pakai pita











Friday, January 16, 2015

Drama Review : Pinocchio




Drama Lee jong suk yang terbaru. Saya agak ilfill waktu pertama lihat teasernya, soalnya rambutnya jong suk nggak banget, lagian pairing sama shin hye.. ga suka sebenarnya sama shin hye...
Setelah episode kedua, banyak adegan yang memorial , secara penulisnya sama dengan penulis I hear Your Voice, jadinya saya memutuskan untuk percaya pada dia dan mulai stalking ini drama.

Pemainnya

Lee Jong Suk itu CUTE... di drama ini Lee Jong Suk dan Park Shin Hye jadi DOUBLE CUTE


Jong suk selalu nyaman kalau karakternya cute, beda sama di Secret Garden sama School 2013 yang agak-agak cool, rasanya kok terpaksa, di sini  he is adorable, cute dan cool pada tempatnya. Ekspresinya di setiap emosi, priceless.
Beda dengan karakter di drama-drama sebelumnya, Park Shin Hye bagus banget main di sini, kayanya dia nyaman sama Jong suk, jadi mainnya lepas, oh dan karakter In ha di sini saya suka.

Pemain yang lain ga seberapa terkenal atau saya yang kurang update ya ? hahahaha, tapi ada Yoon Kye Sang yang jadi kakaknya jong suk, dia pernah main di Faith bareng Lee Min Ho.

Ceritanya
Setting ceritanya adalah tentang kehidupan seorang reporter , tentang motivasi dan tanggung jawab yang diemban seorang reporter, bagaimana suatu berita, sesederhana apapun, kalau sudah melibatkan media, bisa mengubah hidup seseorang.
Team produksi Pinocchio sama dengan team produksi I hear Your Voice, jadi sudah jelas saya suka setiap detailnya.
Sama seperti di I hear your Voice, penulis dan sutradaranya sangat detail, seperti biasa, saya suka memperhatikan hal-hal kecil, seperti kebiasaan dalpo yang menukar kuning telur dengan In ha, sama seperti kebiasaan Su-ha membukakan tutup botol untuk Hye Sung. Suka juga dengan Piggy banknya Dalpo yang ternyata kakaknya juga punyaaa...

Lainnya, saya suka scene-scene adegannya. Sebenarnya saya benci kalau ada drama yang settingnya winter, karena bajunya itu -itu aja, latar belakang shootnya juga putiiiihhh... ga ada ijo-ijonya. Tapi di sini sutradaranya pinter banget ambil angle-angle dengan pencahayaan yang soft... aaah.. pokoknya rasanya " hangat "
Adegan-adegan yang di ambil, memorable menurut saya, bahkan penulis juga membuat semua pemain yang terlibat di dalamnya punya "cerita" sendiri, jadinya penonton akan ingat terus.




Fans-nya
Karena ga ada yang bikin live recap, jadi mau ga mau saya ngider di soompi, dan you know, soompi itu tempatnya Fans yang rada-rada " gila " hahahaha, fan art yang cute bertebaran di mana-mana




Awww.... lutchu-lutchu kaaaaaannnnnn....belum lagi kalau ada yang buat meme... hahahaha.. pokoknya creative abis deh..
Diskusi di dramabeans saya juga suka.
Ada satu yang paling saya ingat, ketika mereka sedang berdiskusi tentang mamanya Beom Jo, dan mereka membandingkannya dengan In Ha yang dibesarkan dengan keluarga tanpa ibu, ada yang posting kata-kata yang touching banget

“As a parent, I want my children to be able to do this :
When they think of respect, they think of me.
When they think of dignity, they think of me.
When they think of integrity, they think of me.
When they think of compassion, they think of me.
When they think of kindness, they think of me.

In short, I need to become the symbol and example of all that is good and proper in this world for my children.
THAT is the kind of parent I HAVE to be. Or nothing at all.”
Untuk menjadi orang tua yang baik, jadilah orang baik...that's the point...nice..
Drama ini juga dipermanis dengan konflik antara dalpo dengan keluarga angkatnya, saya suka dengan kehangatan keluarga angkat dalpo di drama ini, bagaimana ayah/kakek begitu mencintai dalpo yang padahal bukan anak kandungnya, bagaimana dilema dalpo dengan perasaannya terhadap kakaknya dan in ha.., dan menurut saya, ceritanya realistis.. well kecuali bagian investigasi yang dilakukan reporter selalu lebihcepat dari polisi, atau memang karena fokusnya pada reporternya ya ?

Anyway, drama ini heartwarming, menghangatkan hati, saya suka dari awal sampai akhir, plotnya bergerak cepat, setiap episode ga ada yang  ngebosenin, dan yang pasti.. jongsuk-shin hye , they are adorable cute pairing together...

Terakhir, adegan wedding scene-nya menginspirasi saya membuat Pururu yang ini.. simple.. i luvvvv simple





Dramanya recommended .... ga nyesel deh pokoknya, habis ini berubah jadi binnie fangirl.. oh dan Healer juga masih running.. Healer itu membuat saya kangen sama Hans..
Hans .. miss u so much...









Wednesday, January 14, 2015

THE ROSVERO THEORY ( PART 2 )


 I'm not in a good mood now, but try my best to finish this article..

Rumus untuk membuat rosebud satin versi jahit juga bisa digunakan untuk membuat rosebud roll. Tutorialnya klik di sini
Sekali lagi, teknik menggulung mempengaruhi panjang pita, jadi untuk menghasilkan rosebud roll diameter 3 cm menggunakan rumus, menggulungnya jangan terlalu rapat.
Oh ya, untuk membuat rosebud versi lem, rumus yang digunakan juga sama, hanya hilangkan saja +5nya karena biasanya pita yang dibutuhkan lebih pendek.
Saya tidak menjual yang versi lem atau versi jumput. Alasannya klik di sini

Rolledrose

Rumus rosebud tidak bisa digunakan untuk membuat rolled rose, tapi saya menggunakan acuan panjangnya. Untuk membuat rolled rose dengan diameter 4 cm seperti gambar, saya menggunakan pita uk. 2,5 cm dengan panjang 60-70 cm.
Yang harus diperhatikan adalah frekuensi lipatan, rolled rose versi saya lipatannya berjarak rapat satu sama yang lain, sehingga dalam 1 pcs rolled rose kelopaknya ada kurleb 6 tumpuk.
Tapiiii.. kalau mau lebih ekonomis, alias ngirit pita, jarak lipatannya bisa dibuat agak jauh, sehingga pita yang dipakai untuk membuat rolled dengan diameter 4 cm, kurang lebih 50 cm.
Saya tidak sreg dengan versi ekonomis ini, lebih suka versi asli milik saya.
Untuk membuat rolled dengan diameter lebih besar, ya gunakan pita yang lebih lebar, biar porposional.
Pick your own style..





Rolledrose two tone
Paling suka membuat yang ini.
Alasannya, pitanya pendek, cepat selesai, warna-warni pula..hahaha crafter males.
Membuat two tones, pita yang digunakan separuh dari pita yang digunakan untuk membuat rolled rose.
Jadi untuk membuat two tone dengan diamete 4 cm, panjang pita 30-35 cm untuk masing-masing warna.

                                                                                                                                                                                  
Add caption                                                                                           



 Round Rose
Ukurannya sama dengan ukuran pita yang digunakan untuk membuat rolled rose. Untuk round rose ukuran 4 cm, panjang pita 2,5 cm yang digunakan kurleb 60-70-75 cm. Sekali lagi tergantung cara menggulungnya.
Khusus untuk yang berukuran 5 cm saya menggunakan pita 4 cm dengan panjang 80 cm.




That's all... untuk membuat aplikasi rose, saya hanya fokus pada satu titik. Porposional, membuat berbagai ukuran aplikasi menggunakan 1 jenis pita bisa saja, tapi hasil akhirnya tidak cantik dari segi besarnya, bisa saja jadinya terlalu mancung atau  terlalu gepeng.
Saya percaya tiap crafter punya acuan dan perhitungan sendiri, mudah-mudahan sharing saya bisa menjadi acuan untuk crafter yang baru mulai belajar membuat aplikasi rose.
Terima Kasih untuk ikut berkonspirasi dengan saya di Rosvero Theory.. selamat mencoba. Happy crafting !!


Saturday, January 10, 2015

THE ROSVERO THEORY ( PART 1 )




Keren ya judulnya? hehehehe...

Oh ya, sebelumnya saya sangat berterima kasih untuk semua reader yang setia mampir di blog saya.
Terus terang, blog saya ini isinya ge-je, mungkin lain dari blog crafter lainnya yang isinya dominasi tutorial atau tips dan trik.
Blog saya lebih sering berisi cerita di balik kegiatan craft saya. Bagi saya banyaaak hal menarik dari suatu karya yang di hasilkan, dan tak jarang cerita di balik kegiatan itu, malah menghasilkan karya yang lain... nah makin ge-je kan...
Jadi buat reader Veve's World, Terima Kasih banyak atas kunjungannya, jangan kapok dan terus stalking di sini yaaaaa...

Back to topic.

Saya terus terang jarang beredar di Facebook, satu kali sehari update status, biar customer tahu saya masih "hidup" jadi mereka ga ketar-ketir dengan orderan mereka yang sudah masuk list saya.
Seringkali saya hanya mengupdate status terus saya tinggal, makanya kadang banyak komen atau inbox yang tidak langsung saya balas. Tapi saya online tiap malam-dini hari kok, sebisa mungkin semua komen dan inbox saya balas.

Akibat jarang beredar ini, saya jadi sering ketinggalan gosip di kalangan crafter. Tapi sebenarnya gosipnya ya itu-itu aja.
Kalau bukan hit n run, customer bawel, OS ga amanah, pencuri foto, habis itu tentang "banting harga", iyaaa kaaaannnn????
Adalah tidak bijak membandingkan harga OS satu dengan yang lain tanpa memperhatikan latar belakang si OS ketika memasang harga. Tapi customer mana ada waktu membandingkan itu, namanya customer selalu menginginkan harga yang Teerrrrmurah dengan kualitas teeerrrrrbaik, that's why they was called CUSTOMER.

Padahal, saya yakin crafter penjual mempunyai perhitungan masing-masing dalam menentukan harga jual.
Sebagai contoh :
Adalah tidak bijak membandingkan aplikasi rosebud yang dilem menggunakan pita 2,5 cm dengan rosebud 3 cm yang dijahit dengan menggunakan pita uk. 4 cm. See, harga bahan mentahnya saja lain. Itu tidak apple to apple.
Tentu saja belum tentu semua customer mau dengan teliti memperhatikan sebelum membeli, belum tentu juga penjual memberi keterangan sedetail mungkin ketika promo. Jadi tulisan ini mungkin bisa menjadi rujukan untuk customer atau bahkan penjual ketika akan menentukan harga, sekaligus juga jawaban buat teman-teman yang bertanya-tanya berapa ukuran setiap aplikasi rose yang saya buat.

So here we go, THE ROSVERO THEORY ( Teori Aplikasi Rose versi Veve's World )

ROSEBUD
Saya pertama kali belajar membuat rosebud menggunakan kain kaos, yang penasaran ceritanya, scrool aja cerita di blog ini ya..
Waktu itu, saya potong saja sesuka hati saya, tidak peduli jadinya berdiameter berapa, ga kepikiran juga mau dijual, wong bahannya saja saya dapet sebagai hadiah...:p
Ketika sudah berhasil memecahkan misterinya, barulah saya mencobanya dengan pita.
Nah, kali ini saya baru berhitung, pita satinnya kan beliiii, rugi dong kalau harus dipotong-potong tanpa perhitungan.
Jadilah saya membuat beberapa percobaan,  bak Einstein, saya potong pita dengan berbagai ukuran panjang, waktu itu acuan saya rosebud hasil hadiah Kuis di grup CMN, jadi lebarnya kurleb 4 cm panjangnya 40 cm.
Setelah beberapa kali mencoba, ternyata membuat rosebud dengan kain kaos dan pita satin membutuhkan kain dengan ukuran yang berbeda, hal yang paling mempengaruhi adalah ketebalan kain. Kain kaos yang lebih tebal dari  satin tentu saja ukurannya lebih pendek dibandingkan dengan satin jika digunakan untuk membuat rosebud dengan ukuran yang sama.
Waktu itu, karena saya pikir kain kaos masih jarang yang menjual, jadi saya fokuskan saja perhitungannya menggunakan pita satin, setelah mengulik-ngulik perhitungan pita, jeng...jeng.. saya menemukan formula yang pas  menghitung panjang dan lebar pita untuk membuat rosebud.

Dan inilah rumusnya ( sudah ada di Postingan saya benci rosebud part 3 )
Diameter rosebud satin versi jahit yang diinginkan : z cm
Lebar pita yang dibutuhkan : 1 + z
Angka 1 di sini bukannya sembarang saya tentukan, pertimbangan saya kala itu, untuk membuat rosebud yang di jahit, ketika merapikan bagian bawahnya, rosebud ini nanti dijhit zig zag atau di serut, nah agar Rosebudnya tetap porposional, tidak terlalu mancung dan tidak terlalu ceper, saya tambahkan 1 cm sebagai bagian yang akan dijahit nanti.
Panjang pita : ( 15 x Z ) + 5 cm
Angka 15 saya dapatkan dari berbagai percobaan, kala itu saya memotong pita dengan kelipatan 5 cm. Mulai dari 40 cm, 45 cm, 50 cm, dan 65 cm. Ketika semuanya dijahit. Rosebud paling porposional adalah yang dibuat dengan panjang pita 45cm , 50 cm , 65 cm.
Tapiiii.... ketika diuji ulang, saya hanya membutuhkan 50 cm untuk membuat rosebud dengan diameter yang sama, semuanya saya ulang lagi sampai 3 kali. Yang 2 hasilnya sama, yang satu hasilnya pitanya kurang panjang.
Dari sinilah saya menyimpulkan kalau teknik menggulung juga mempengaruhi, jadinya angka 5 saya tambahkan untuk sebagai angka untuk berjaga-jaga, tapi ini tidak mutlak juga, tapi bolehlah dijadikan acuan.


Jadi jika ingin membuat Rosebud ( versi jahit ) dengan diameter 3 cm maka :
Lebar pita : 3 +1 = 4 cm
Panjang pita : ( 15 x 3 ) + 5 = 50 cm, dengan toleransi kurang lebih 5 cm panjang atau pendek.

Setelah menentukan rumus, saya uji lagi masih dengan satin. Ternyata hasilnya sama satu dengan yang lain menggunakan rumus ini Whalaaaaa....lumayan kan, daripada terlanjur motong pita dan membuang sisanya :)
Setelah itu saya coba juga dengan material yang lain. Kalau sudah punya rumus rujukan, saya jadi bisa langsung  memotong kain tanpa khawatir, yang harus diperhatikan adalah ketebalan kain. Untuk kain katun, flanel ( versi lem ) atau kaos, angka +5 saya hilangkan karena ketebalan kain, untuk kain sifon, tile, atau lainnya yang lebih tipis, angka 5 saya tambahkan menjadi 10, tapi saya give up deh bikin dari kain yang tipis tipis, licin dan susye bin ribet.

Rumus ini juga menjadi acuan saya ketika membuat aplikasi rose yang lain, penasaran ??? ntar ya part 2 nya...TO BE CONTINUE

Wednesday, January 7, 2015

Melankolis Realistis







Judule ga nyambung...

Alkisah, ada seorang sanguin yang ingin menjadi pianis. Kebanyakan pianis adalah seorang melankolis. Si sanguin berusaha begitu keras belajar supaya bisa memainkan piano sama lihainya dengan si melankolis. Bisakah ? bisaaaa.. Si sanguin berusaha demikian keras, menahan semangat sanguin yang meluap-luap agar tetap cool seperti si melankolis .
Sanguin merasa puas, tapi juga lelah, meskipun permainan pianonya sama cantiknya seperti si melankolis, sanguin tetap merasa bukan dirinya sendiri.
Itulah sebabnya suatu hari sanguin merubah gayanya memainkan piano, bukan lagi tenang dan cool seperti si melankolis, tetapi sanguin memainkan piano dengan penuh bersemangat mengikuti kata hatinya. 

*********

Nyambung ga sama ilustrasi di atas ?tapi itulah yang saya rasakan sewaktu membuat boneka jari seri Profesi ini, ketika membuatnya saya menjadi seorang melankolis yang harus realistis.

Ini adalah request sejak bulan november. Customer saya yang super duper sabar dan baik hati, dengan sabar mau menunggu saya sampai ada sedikit jeda waktu untuk mengerjakan boneka ini.
Seperti biasa, selalu saya sampaikan bahwa saya tidak bisa mengerjakannya dengan terburu-buru, dan tidak bisa juga kalau diberi contoh. Beliau mengerti, bahkan mengatakan terserah saya saja bentuknya bagaimana..What a kind... Thanks GOD for sending me beautifull customer like this..

Awalnya saya ingin membuat versi saya sendiri, yang aneh ..pokoknya yang Pururu banget, tapi dipikir-pikir, nanti kalau boneka ini jadi alat peraga, anak-anak ga akan ngeh dooong...
Akhirnya saya putuskan buat yang mainstream aja deh... yang familiar , jadi begitu melihat anak-anak tahu profesi apa yang dimaksud.

Jadiiiii... mau tidak mau saya googling, melihat contoh boneka dan aslinya, berusaha mengingat setiap detilnya.
Kelihatannya sederhana, tapiii bagi saya, yang kata hati tidak sejalan dengan kata tangan, membuat boneka ini susaaaaaah banget. Percaya atau tidak, sehari saya cuma bisa membuat sebiji !
Kesulitannya hanya satu, menahan diri supaya tangan ini tidak memodifikasi yang sudah di konsep.
Jangan tanya berapa banyak kain flanel yang saya gunting supaya pas,buannnyak hahahahaha..ini akibat kalau keukeuh ga mau pakai pola, soalnya pakai pola pun nanti sewaktu di gunting jadinya lain juga...poor meee...
Anyway, jadi juga kan bonekanya.. masih ada 5 lagi, belum kefoto keburu mendung, ntar diupdate lagi.
Saya puas, meskipun ketika membuatnya seperti menahan nafas, tapi jelas ada ruh Pururu di dalamnya you can see it right?