Wednesday, May 4, 2016

( bukan ) Tutorial Bloomy



 Warning Alert!
Enggak ada tutorial di sini ya, jadi yang ngarepin tuto model 1,2,3...silahkan balik kucing.

Saya akhirnya belajar serius juga bikin ini. Kali ini bukan karena matre. Tapi karena jengkel diinbox melulu minta tutorial bloomy. Lha saya kan belum bisaaaaaaa...
Yang inbox biasanya habis nyasar di postingan Gardenia dan Bloomy. Memang kalau googling yang ke detect ya itu. Hihihi...
Baiklah, ayo deh, belajar. 2 jam tiap hari ( prakteknya sih enggak sampai 2 jam, karena banyak iklannya ).
Cerita aja ya, sama seperti waktu belajar roseburn dulu. Jurus mautnya juga sama, pakai ilmu memandang. Yang baru kenal saya, saya tutophobia, jadi kalau lihat tutorial, mata langsung berkunang-kunang. :p
Yang mau sekalian belajar, boleh sambil memandang tutorial yang banyak beredar, biar makin ngerti maksudnya.



Karena saya matre dan kerehore, saya beli perca sifon kiloan, sekilo 15 ribu. Tujuannya sih biar dapat macam-macam sifon dan warna, enggak satu jenis aja. Dapat satu kresek, siap di cincang.
Bloomy dan Gardenia  sebenarnya sama aja sih. Sama -sama dibakar, yang membedakan hanya pola dan cara nyusunnya. Kalau Gardenia kan dipotong satu-satu kelopaknya, kalau bloomy, kelopaknya bentuk lingkaran dibagi empat  aja seperti ini.




Dari dulu, menggunting simetris itu nightmare buat saya, bahkan ngunting sederhana aja itu sudah susaaaah banget. Inilah guntingan saya, lingkaran dibagi empat, gunting ujungnya dikit-dikit. Penceng ? jangan kuatir, nanti dibakar biar ga penceng.




Senjata rahasia. Pinggiran kain tadi kalau dibakar biar melengkung cantik, saya pakai cetakan dari kertas tebal  untuk membentuknya.Nah tuh, bisa bikin simetris. Jangan terkecoh dengan penampakan cetakan ini. Ini 5 atau 6 kali saya gunting baru bisa simetris.



  BAKAR. Ingat, membakar kelopak bloomy enggak perlu dibakar sampai melengkung habis. cukup melengkung dikiiit aja, jadi waktu meletakkan cetakan sewaktu membakar, jangan jauh-jauh jaraknya.
(kalau bingung bagian ini, praktekin aja, bakar pakai cetakan dibawahnya, jangan terlalu jauh jarak cetakan dengan pinggir  kain ).






 Tuh, enggak melengkung amat kan. Untuk bloomy ini, saya pakai 7 kelopak. 3 kelopak untuk kuncup, dan 4 kelopak untuk yang mekar. Waktu bengong di awal-awal sambil memandang bloomy punya teman-teman yang sudah jadi, saya pikir mereka pakai ukuran yang berbeda-beda . Tapi asli, karena males gunting banyak ukuran, saya samakan aja semua ukurannya. Kita lihat nanti . jadi enggak.
Setelah dibakar, maju ke step berikutnya. NYUSUN. Hueeek...

FORMASI PELUK 
Kelopak 1-3
Menyusun ini bagian mengerikan yang kedua. Dulu waktu pertama kali belajar, saya stuck di bagian ini. Lalu males, mandeg, ngambek dan milih bikin gardenia aja, wong duit gardenia juga datang duluan :p.
Kali ini saya diem dulu, mikir dulu biar enggak frustrasi. Dilihat aja enggak ngaruh. Ya iyalah masa kelopaknya bergerak sendiri? awalnya saya lem aja ngawur, sebelah dengan sebelah, pokoknya jadi kuncup. Hasilnya ya kuncup, tapi enggak bagus, lipat-lipatanya ga teratur seperti kuncup asli. Mandeg di sini.

Ada 4 kelopak, coba sebelah dengan sebelah enggak bagus, berikutnya coba saling berpelukan, hasilnya? enggak bagus juga ! hahaha.....
Tapi saya sudah di jalan yang benar. Formasi Peluk ini adalah cara nyusun yang benar. A berpelukan dengan A, jangan selingkuh dengan B, enggak jadi nanti. Terbukti kan selingkuh itu tidak indah. Hihihi.....
Bagian ngelem ini juga harus penuh kasih sayang, pelan-pelan, biar bagus kuncupnya. Sampai di sini saya mikir, crafter yang menjual bloomy dengan harga di bawah 30 ribu itu mungkin kurang kasih sayang ya. Lha wong bikin kuncup aja loh makan waktu lebih dari 15 menit.















 Jadi kuncup ! kuncup pakai 3 kelopak ya, yang bagian melengkung yang menghadap ke atas. Next, bikin roknya yang mengembang.
Kelopak ke - 4 .
 Kuncup bloomy yang udah jadi, dibalik, pantatnya dikasih lem dan ditumpuk pakai kelopak yang lain. Kali ini kelopaknya dibalik, nanti bagian roknya ini, kelopak yang melengkung menghadap ke bawah.
Jangan lupa dengan formasi peluk, A dan A ditekan dulu, baru B dan B



 kalau sudah, sekarang pakai jurus CUBIT DIKIT. Lihat gambar di bawah yang ada panah kuningnya, kelopak bloomy yang udah dilem di pantat kuncup, dimiringkan, kasih lem dikit, cubit antar kelopak, biar menempel.




 Nih jadinya, mekar kan...


 Kelopak 5-7 
Lanjut dengan kelopak lainnya ya, step sama dengan yang di atas



 Di kelopak 5 dan selanjutnya, enggak perlu cubit miring, cubit-cubit aja pantatnya sambil di pas-kan dengan penampakan atas. Menyusunnya saling silang.


 Jeng..jeng.. jadiiiiii



Ini adalah foto bloomy yang saya buat di minggu pertama. Tentu saja masih enggak bagus, tapi karena semua trik sudah diketahui, selanjutnya tinggal latihan aja sambil perhatikan bahan apa yang paling bagus untuk bloomy.
Sama seperti roseburn satin  yang paling cocok pakai satin jeruk,  buat saya bloomy juga paling cocok pakai sifon ceruti. Kainnya tebal, dibakarnya agak lama, tapi nurut, melengkungnya pas, enggak berlebihan.
Ini contoh bloomy terbaik selama 2 minggu. Yang jelek??? buanyaaaaak ..udah diremas-remas dan dibuang. Yang pasti saya habis setengah kilo perca sifon tadi.
Kalau sudah ngerti, enggak sulit kok, enggak ribet juga. Kalau masih belum bisa ya frustrasi. Enggak apa-apa normal, proses, kalau masih enggak bisa. Ngambek, mandeg juga ga pa-pa, nanti coba lagi. Kan crafter, masa nyerah?
Fotonya enggak saya watermark ... masa foto jelek bin burem di copas? ckckckck... kalau suka share aja postingan ini. kalau di save jangan buat jualan ya.
Selamat berpelukan dan cubit-cubit sayang, semangat !!!


Monday, May 2, 2016

Berduka

Berduka.
Sepanjang siang sampai dini hari tanggal 3 Mei, wall di FB masih di dominasi dengan ucapan berduka atas perginya Mb. Budi IIn Indriyani.

Saya tidak kenal dekat dengan mb. Iin. Hanya duluuuuu...sewaktu grup crafter masih  beberapa yang mendominasi dan bros masih belum booming, waktu itu sesama crafter masih dalam suasana saling menyemangati, saya dan teman-teman seangkatan masih sering berinteraksi dengan beliau lewat postingan di grup.

Saya paling ingat bagaimana mb. IIn membranding Keimosh. Selalu disertakan keterangan kalau Keimosh full jahit, setiap kali share, beliau selalu mengingatkan untuk mengeksplorasi kelebihan karya masing-masing.
Saya juga ingat, bagaiman mb. Iin dengan rendah hati mengatakan, bahwa memang tidak mungkin suatu karya adalah pure pemikiran sendiri, selalu ada inspirasi dari sana-sini, lalu bagaimana beliau mengatakan bahwa tiap crafter punya kelebihan dan ciri khas masing-masing, ada yang bermain di warna, ada yang bermain di komposisi, ada juga yang bermain di detail.

 Setelah bros booming, dan grup mulai sepi, status mb. Iin jarang saya ikuti. Tapi ada satu status yang sungguh meneduhkan hati. Kala itu marak dengan postingan nyinyir tentang persaingan harga, mb. Iin dengan sangat bijak tidak menghakimi mereka yang membanting harga. Sangat menyejukkan, karena memang kita tidak pernah tahu alasan dibalik penghitungan harga oleh crafter yang bersangkutan.
Ketika Mb. Iin mengeluarkan buku, masih terasa betapa humblenya mb. Iin, dijawabnya satu per satu komen dengan sangat sabar, bahkan saya ingat ada komentar tentang buku yang sudah dikirim padahal belum ditransfer.

Mb. Iin pergi meninggalkan banyak ilmu dan contoh betapa humblenya mb. Iin. Semuanya berduka, termasuk saya.
Kepergian mb. Iin  ketika sedang dirawat membuat saya berpikir lagi.
Mb. Iin memang sering mengeluh tentang vertigo dan darah rendah. Beberapa kali memposting sedang di rawat di RS. Ini sudah terjadi sejak beberapa tahun yang lalu.
Saya jadi melihat diri sendiri,  tapi tidak hendak membandingkan dengan mb. IIn.
Bagaimana ketika saya berpulang nanti? apakah yang diingat teman-teman tentang saya?
Lebih dalam lagi, apakah yang diingat oleh Papi,, anak- anak dan keluarga  tentang saya?
Apakah diingat sebagai crafter nokturnal yang hobi bergadang?
atau diingat sebagai crafter yang mellow?
atau diingat sebagai ibu yang berlari ke sana-sini, terburu-buru setiap kali menyiapkan sesuatu?
Crafter identik dengan kerja lembur, apalagi yang bermain di pasar grosir. Saya termasuk di dalamnya.
Kepergian Mb. IIn mengingatkan saya dengan postingan saya dulu, ketika saya sakit :

 " Selama sakit, saya sadar betapa saya hidup seperti diburu. Saya menentukan target setiap hari yang harus saya capai. Saya mematok batas orderan yang harus saya raih. Bagaimanapun, saya butuh uang. Setiap hari, saya rasanya seperti dikejar deadline. Target yang kadang meleset, ketika numpuk untuk hari berikutnya, saya paksakan kelar. Bergadang ? ya udah setiap hari. Saya tahu, saya menyiksa tubuh saya sendiri.
Sampai di titik ini, saya sadar, betapa lemahnya iman saya. Ini hal lain ya. Begitu takutnya saya kalau Dia tidak akan mencukupkan kebutuhan saya. Betapa sombongnya saya , sehingga tidak percaya akan Kuasa Pemeliharaan-Nya. Banyak yang diberikan-Nya setiap hari. Tidak harus full order untuk merasa bahagia , bersyukur dan merasa terjamin. Saya merasa ditampar. Benar, saya nyaris tidak pernah lagi berjalan-jalan dengan tuan muda ( tugas ini diambil alih oleh veve ), tidak pernah lagi mengorak-ngorek tanah bersama papi, sudah jarang minum kopi secangkir berdua di sore hari. Saya hidup dikejar deadline. Saya kurang bersyukur. So true.... "

Beberapa bulan kemudian, pola yang sama terulang kembali. Saya kembali berkejaran dengan deadline.
Sigh.  
Waktu di dunia memang tidak ada yang tahu. Tapi satu hal yang saya ingin, pergi dengan meninggalkan kebaikan. Saya tidak sempurna, tapi sangat ingin menjadi lebih baik tiap harinya, ingin berbagi lebih banyak tiap harinya.
Mb. Iin memberikan contoh, betapa banyak yang mencintai mb. IIn karena apa yang dibagikan semasa hidup.
Selamat jalan mb. Iin. Terima kasih atas semua yang mb. IIn tinggalkan. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan . Rest in Peace.