Friday, June 16, 2017

Review : Siluet





Judul      : Siluet
Penulis   : Resti Dahlan
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tebal      : 208 halaman

Galen direkrut Ravana untuk suatu misi rahasia, membawa seorang gadis kembali berkumpul dengan keluarganya. Terdorong keinginannya masuk kampus impian di luar negeri, Galen menerima misi tersebut. Rea, gadis yang merupakan target misi ternyata adalah teman sekolah Kaley, sang adik yang juga seorang atlet renang. Galen menjalani misi rahasia dengan frustrasi karena Rea ternyata tidak mudah ditaklukkan.
Rea, gadis penerima beasiswa yang dijuluki Putri Es ternyata menyimpan banyak rahasia. Kaburnya Rea sejak umur 8 tahun ( bukan kabur juga sebenarnya ), hubungannya dengan Alda, kenapa Rea sibuk nyambi kerja sana-sini.
Di sisi lain, Galen juga harus memikirkan kalau ternyata Kaley menyimpan dendam terhadap Rea.

***********
Saya udah agak ga enak waktu Veve menjerit dari dalam kamar.
"Laaaah, kok ada karakter baru! bentar lagi udahan nih!" serunya.
Begitu selesai baca, Veve saya tanya,
"Gimana?"
Veve hanya mengedikkan bahu.
"Bagusan Mahardikans apa Siluet?"
"Mahardikans," jawabnya singkat.

**********

Sore, baru saya sempatkan baca, lanjut terus sampai malam. Bab awal sepertinya menjanjikan. Menarik. Tapi tiba-tiba, seperti disiram air es, saya langsung mules begitu nemu finding machine di halaman 54. Ini bukan lagi typo, tapi udah salah! gimanaaaaa editor dan proofreadernya.
Sontak saya berubah waspada, lama-lama jadi kebiasaan sih, begitu nemu yang ga bener di awal, biasanya ada lagi di belakang-belakang. Beneran aja, ada beberapa kalimat yang menurut saya aneh dan juga beberapa typo.

Mungkin sudah jadi ciri khas Resti atau gimana,  Resti suka sekali memakai Pov 3 subyektif di awal bab, lalu tiba-tiba ada karakter lain yang nyelonong di paragraf akhir. Menurut saya jadi mengganggu flow cerita karena perpindahannya sama sekali ga mulus.

Setelah halaman 54, saya mulai bingung. Ceritanya hanya sepenggal-penggal, seperti cuplikan berita.
Tiap karakter jadi tidak tergali dengan maksimal. Waktu mulai membaca, kirain  cerita akan fokus pada usaha-usaha  Galen mengembalikan Rea. Tetapi sepanjang buku, malah si Kaley yang lebih dominan interaksinya dengan Rea.

Ada beberapa kejadian yang menurut saya ga logis. Juga konflik yang sepertinya ga perlu. Konflik Rea dengan Merry misalnya.
Lalu hubungan Rea dengan keluarganya. Rea dijemput adik Bundanya ketika berumur 8 tahun, tapi Rea ga tahu sama sekali tentang masa lalu Bunda dengan Papanya?
Juga dengan Galen dan Kaley. Agak aneh karena Rea kok ga ada curiga-curiganya tiba-tiba dua cowok itu jadi dekat satu sama lain. Juga Kaley yang nggak bertanya kenapa Galen yang mendekati Rea. Kemunculan Rexy yang tiba-tiba di hampir akhir cerita juga terkesan dipaksakan.  Penyelesaian konflik just like that. Menurut saya terlalu mudah dan terlalu banyak kebetulannya. Resti suka sekali memasukkan banyak informasi secara tiba-tiba, enggak dijalin atau diselipin dikit-dikit dari awal. Pola yang sama juga saya rasakan sewaktu membaca Mahardikans.

Sejujurnya saya kecewa, tapi tetap baca terus sampai akhir hanya karena ini punya Resti. Saya kenal Resti sejak dia menjadi first reader Go Keo, no Noaki 4 karya Bunda Ary Nilandari.
Resti baik, sopan dan jelas seorang pekerja keras. Tetap optimis karya-karya lain akan jauh lebih baik dari Siluet.

Di sisi lain, saya jadi bertanya-tanya, apakah beneran ini beneran diedit? apakah memang sengaja cerita dipenggal-penggal seperti itu? apakah diajak brainstorming penulisnya? karena saya pikir penerbit sekelas GPU pasti sudah menyeleksi naskah dengan ketat. Kalaupun ada kekurangan di awal naskah yang sudah diterima, pasti akan dibenahi sebelum terbit.

Di halaman terakhir buku, saya menjerit frustrasi. Ada 3 lembar halaman kosong! ga ada isinya, cuma ada nomor halaman. Aaarrrrgh....kan sayang ( langsung matre mode on ), itu kan bisa diisi sama promo buku GPU lainnya biar ga sia-sia.

Anyway, besar harapan saya semoga editor-editor GWP batch 3 dengan teliti membaca semua naskah peserta ga cuma awalnya aja  sehingga menghasilkan buku yang bener-bener bagus.

Untuk Resti, keep fighting! Mami udah jadi fans Resti nih! pasti beli buku selanjutnya, malah ga sabar menunggu Resti menulis dengan setting di China. Pasti keren!