Monday, January 30, 2017

MENARIK NAPAS PANJANG

Setahun kemarin, saya tidak pernah benar-benar menarik napas panjang. Saya terlalu fokus pada satu titik. Dua puluh empat jam sehari, 7 hari dalam seminggu.
Saya  bekerja keras, mencari banyak celah, melakukan bounding, menjaga passion agar semangat tidak hilang.
Saya lupa. Lupa kalau manusia itu mudah sekali berubah.
Akhir tahun lalu. Tiba-tiba saja semuanya pergi satu per satu. Saya terlena karena terlalu percaya.
Bisnis is bisnis. Kalau sudah tidak menguntungkan, tinggalkan. Kalau ada yang lebih baik, ambil.
Saya lupa dengan prinsip itu.
Saya meletakkan hubungan pertemanan lebih daripada hubungan  bisnis. Silly me.
Dan it happened.
Jadilah saya mulai dari awal lagi. Sulit. Tentu saja sulit. No back up. No one help.
Semua sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Lupa kalau dulu saya juga membackup mereka kala jatuh.
Fine. Mari step back. Pertebal garis batasnya. Jangan lagi melibatkan emosi sekarang.
You sell they buy.
Kalau mereka sudah tidak butuh, dirimu akan ditinggalkan.
Jadi tarik napas panjang-panjang. Keluarkan hati dan basuh semua "rasa" itu.
Kembalikan ke awal. You're just a seller.
Take a deep breath and move on.


Friday, January 13, 2017

Maju Mundur Cantik






Jeng...jeng..akhirnya saya nekad.
Mikirnya udah lamaaaaaaa banget. Tapi seperti biasa, saya ga maju-maju.
Di awal tahun 2017, untuk sementara inilah tindakan  nekad yang saya lakukan.
Awalnya keinginan punya MJ cuma masuk wish list aja. Ga dipikirin serius-serius amat. Barulah di akhir 2016 tiba-tiba jadi keinginan yang menggebu-gebu.
Pemicunya ya pasti karena saya gelisah.

Dua tahun belakangan saya terlena. Fokus dengan yang lain dan lupa dengan upgrade skill sendiri.
Saya terlalu nyaman sebagai crafter aplikasi. Customer langganan sudah rutin memasukkan orderan. Branding aplikasi saya sudah lumayan bagus. Tapi satu hal yang saya lupa atau memang sengaja dilupakan. Pesaing saya, crafter aplikasi lain sudah jauh berlari. Yang satu angkatan dengan saya sudah merambah IG dengan follower luar biasa. Di sisi lain bermunculan crafter baru, membuat aplikasi dengan kualitas yang bagus tapi menjualnya dengan harga yang mengerikan.

Bisnis is bisnis. Karena terlalu sering menolak orderan di tahun kemarin, beberapa customer berpaling ke lain hati.

Normal. Bagaimanapun karena ini adalah industri, customer yang saya tolak-tolak itu pastilah  mencari supplier aplikasi lain yang bisa diandalkan dengan harga jauh lebih murah tapi dengan kualitas yang sama baiknya . Memang ada ? adaaaa....banyak. Sigh.

Di akhir tahun, ketika Devi datang berkunjung, kami ngobrol-ngobrol ringan tentang masa depan.
Tentang cicilan hutang, tentang masa depan anak, tentang keinginan kami pensiun dan jalan-jalan aja..haha..obrolan khas emak-emak.

Dari obrolan itulah saya jadi mikir. Apa yang menjadi awal saya nge-craft ini? apa yang ingin saya capai?
Duit. Itu yang terlintas pertama dalam benak saya. Saya Matre , ingat ? :D
Lalu kembali ke pemikiran rasional. Terus terang, menjual aplikasi itu uangnya cepat berputar. Untungnya banyak kalau dibandingkan dengan berjualan produk handmade buatan saya lainnya. Dari segi waktu, kecepatan saya membuat aplikasi sudah lumayan kencang. Satu hari saya bisa membuat 6 lusin aplikasi dari pita. Kalau bakar-bakar masih bertahan di 4 lusin tiap harinya.

Sarana berjualan saya udah ada pondasinya. Akun IG dan Fp market target sudah benar, walau masih nyampur-nyampur dengan market buku, tapi masih didominasi dengan market aplikasi.
Saya gelisah dan terus mikir. Tidak selamanya saya akan terus bertahan sebagai crafter aplikasi, walaupun saya yakin pasti akan ada customer baru asal terus promo dan mengelola medsos dengan benar.

Jadi saya maju, move on.

Langkah pertama adalah memisahkan akun jualan. Saya membuat lagi akun IG khusus untuk craft dan untuk jualan buku. Keduanya saya kaitkan dengan fp serupa.
Mulai lagi mencari follower dengan target market yang ga nyampur.
Di akhir tahun 2 akun IG ini berjalan dengan baik. Saya closing aplikasi di akun IG yang baru di follower 400.

Lalu apa?
Saya malas membuat jenis aplikasi lainnya. Ini ga benar.. hahaha...makanya bisnis aplikasi saya ga berkembang. Mandeg di varian yang itu-itu saja.
Saya balik lagi melihat-lihat karya saya beberapa tahun belakang. Melihat-lihat lagi Pururu-pururu saya, hoopart dan macam-macam pembatas buku atau apapun itu. Saya sadar, saya lebih suka dikenal sebagai dolls maker atau apapun yang berhubungan dengan boneka.  Dari segi kompetitor, saya pede karena karya saya kelihatan "saya banget" dan pasti ga pasaran. Ini awal dari keinginan membeli MJ.
Selanjutnya, saya nekad ikut belajar applique online yang merupakan basic dari quilt. Sejujurnya, saya ga suka quilt, tapi saya perlu tahu tekniknya. Dalam rencana saya, teknik ini bisa digunakan untuk hoopart saya.

Jadilah saya ikut, maju cantik.

Setelah lewat 10 blok, baru saya tahu kalau nanti ada tahapan sashing yang butuh mesin jahit. Bisa dijahit tangan tapi pasti lamaaaa...ya iyalah, hitung saja 20 x 4 pangkat banyak karena itu kan sambung menyambung. Keinginan punya MJ mulai naik lagi.
Saya sempat teralihkan karena menggalau dengan hal lain. Barulah ketika ada momen yang pas. Dalam hal ini ada duit sedikit, saya mulai lagi mikirin tentang MJ.


Berbagai pertimbangan datang dan pergi.

Uang saya sudah jelas tidak cukup. Harga mesin jahit portable yang sungguhan yang saya incar , bukan jenis yang kecil itu , sekitar 1,3 - 2 jutaan, masih jauuuuh duit saya.
Jadinya saya googling-googling saja. Sempat tergoda dengan MJ seharga 650 ribu yang merknya JSYM itu. Tapi masih sebatas googling aja, belum beli. Tapi ini kan investasi. Mesin Jahit bisa digunakan untuk apa aja, mau bikin baju, tas, atau project craft lainnya. Bisa disimpan bertahun-tahun dan ga basi.
Pemikiran itu datang silih berganti dengan keraguan saya karena duit ga cukup. Haha.

 Jadinya saya mundur lagi karena duit ini.

Suatu hari, karena anak-anak libur, kami main ke Malang. Awalnya karena mau pesan sticker untuk hadiah GA. Sambil menunggu Sticker antri dicetak, saya melipir ke toko elektronik yang juga menjual MJ.
Pertama nanya tentang MJ portable langsung dijawab dengan tidak ramah oleh Bos toko. Katanya toko dia tidak menjual MJ mainan, maksudnya yang harganya di bawah 1 juta itu. Saya kesal luar biasa, padahal saya pakai baju cakep lho. Cuma sih pakai sandal jepit. Tapi cara dia memperlakukan calon pembeli kan ga benar. Misi penjual , apalagi pedagang offline kan harusnya "Setiap orang keluar toko dengan belanjaan di tangan". Haissh.... saya keluar toko dengan ngomel-ngomel. Sepulang dari sana, sama masih ngomel dan sakit hati.

Besoknya saya nekad, tidak balik ke toko yang itu, tapi ke toko lainnya yang khusus menjual MJ.
Sama aja sih bosnya, nyebelin. Kirain saya ga ada duit kali ya karena penampilan begini.
Tapi pelayan tokonya baik dan ramah. Ketika saya melihat -lihat MJ yang bermerk, dia menyarankan MJ lainnya yang harganya selisih tapi kualitasnya sama. Si Mamas inilah yang membuat saya akhirnya membeli MJ merk Flyingman. Beliau juga dengan sabar mengajari dari awal bagaimana cara mengoperasikannya juga kelebihan-kelebihan dan trik-trik lain.
Penjelasannya lewat saja di telinga dan mata saya. Biasalah, langsung pusing kalau ada yang ngajari ga praktek sendiri. Kursus kilat di toko MJ diikuti serius oleh.....Veve.. hihihi.. Saya iya-iya aja padahal ga ngerti.

Duitnya? ya hutang... dari mana lagi. Ada satu hal lain yang menguatkan keinginan saya membeli MJ, yaitu bulan ini saya masih mendapat Royalti dari penjuan buku craft saya . Tidak banyak tapi uang yang sedikit itu sudah saya niatkan dijadikan barang yang menghasilkan dan harus digunakan sebagai pengembangan kemampuan saya. Dari craft untuk craft.

Awal Januari 2017, saya resmi punya MJ. Yippieeeee.....

Next,...hebohnya mencoba MJ baru di rumah.