Monday, May 2, 2016

Berduka

Berduka.
Sepanjang siang sampai dini hari tanggal 3 Mei, wall di FB masih di dominasi dengan ucapan berduka atas perginya Mb. Budi IIn Indriyani.

Saya tidak kenal dekat dengan mb. Iin. Hanya duluuuuu...sewaktu grup crafter masih  beberapa yang mendominasi dan bros masih belum booming, waktu itu sesama crafter masih dalam suasana saling menyemangati, saya dan teman-teman seangkatan masih sering berinteraksi dengan beliau lewat postingan di grup.

Saya paling ingat bagaimana mb. IIn membranding Keimosh. Selalu disertakan keterangan kalau Keimosh full jahit, setiap kali share, beliau selalu mengingatkan untuk mengeksplorasi kelebihan karya masing-masing.
Saya juga ingat, bagaiman mb. Iin dengan rendah hati mengatakan, bahwa memang tidak mungkin suatu karya adalah pure pemikiran sendiri, selalu ada inspirasi dari sana-sini, lalu bagaimana beliau mengatakan bahwa tiap crafter punya kelebihan dan ciri khas masing-masing, ada yang bermain di warna, ada yang bermain di komposisi, ada juga yang bermain di detail.

 Setelah bros booming, dan grup mulai sepi, status mb. Iin jarang saya ikuti. Tapi ada satu status yang sungguh meneduhkan hati. Kala itu marak dengan postingan nyinyir tentang persaingan harga, mb. Iin dengan sangat bijak tidak menghakimi mereka yang membanting harga. Sangat menyejukkan, karena memang kita tidak pernah tahu alasan dibalik penghitungan harga oleh crafter yang bersangkutan.
Ketika Mb. Iin mengeluarkan buku, masih terasa betapa humblenya mb. Iin, dijawabnya satu per satu komen dengan sangat sabar, bahkan saya ingat ada komentar tentang buku yang sudah dikirim padahal belum ditransfer.

Mb. Iin pergi meninggalkan banyak ilmu dan contoh betapa humblenya mb. Iin. Semuanya berduka, termasuk saya.
Kepergian mb. Iin  ketika sedang dirawat membuat saya berpikir lagi.
Mb. Iin memang sering mengeluh tentang vertigo dan darah rendah. Beberapa kali memposting sedang di rawat di RS. Ini sudah terjadi sejak beberapa tahun yang lalu.
Saya jadi melihat diri sendiri,  tapi tidak hendak membandingkan dengan mb. IIn.
Bagaimana ketika saya berpulang nanti? apakah yang diingat teman-teman tentang saya?
Lebih dalam lagi, apakah yang diingat oleh Papi,, anak- anak dan keluarga  tentang saya?
Apakah diingat sebagai crafter nokturnal yang hobi bergadang?
atau diingat sebagai crafter yang mellow?
atau diingat sebagai ibu yang berlari ke sana-sini, terburu-buru setiap kali menyiapkan sesuatu?
Crafter identik dengan kerja lembur, apalagi yang bermain di pasar grosir. Saya termasuk di dalamnya.
Kepergian Mb. IIn mengingatkan saya dengan postingan saya dulu, ketika saya sakit :

 " Selama sakit, saya sadar betapa saya hidup seperti diburu. Saya menentukan target setiap hari yang harus saya capai. Saya mematok batas orderan yang harus saya raih. Bagaimanapun, saya butuh uang. Setiap hari, saya rasanya seperti dikejar deadline. Target yang kadang meleset, ketika numpuk untuk hari berikutnya, saya paksakan kelar. Bergadang ? ya udah setiap hari. Saya tahu, saya menyiksa tubuh saya sendiri.
Sampai di titik ini, saya sadar, betapa lemahnya iman saya. Ini hal lain ya. Begitu takutnya saya kalau Dia tidak akan mencukupkan kebutuhan saya. Betapa sombongnya saya , sehingga tidak percaya akan Kuasa Pemeliharaan-Nya. Banyak yang diberikan-Nya setiap hari. Tidak harus full order untuk merasa bahagia , bersyukur dan merasa terjamin. Saya merasa ditampar. Benar, saya nyaris tidak pernah lagi berjalan-jalan dengan tuan muda ( tugas ini diambil alih oleh veve ), tidak pernah lagi mengorak-ngorek tanah bersama papi, sudah jarang minum kopi secangkir berdua di sore hari. Saya hidup dikejar deadline. Saya kurang bersyukur. So true.... "

Beberapa bulan kemudian, pola yang sama terulang kembali. Saya kembali berkejaran dengan deadline.
Sigh.  
Waktu di dunia memang tidak ada yang tahu. Tapi satu hal yang saya ingin, pergi dengan meninggalkan kebaikan. Saya tidak sempurna, tapi sangat ingin menjadi lebih baik tiap harinya, ingin berbagi lebih banyak tiap harinya.
Mb. Iin memberikan contoh, betapa banyak yang mencintai mb. IIn karena apa yang dibagikan semasa hidup.
Selamat jalan mb. Iin. Terima kasih atas semua yang mb. IIn tinggalkan. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan . Rest in Peace.