Monday, February 27, 2017

Mencuri Ilmu

Saya punya 2 akun Facebook. Satu akun utama yang separuh temannya target market untuk jualan buku, dan satu akun cadangan yang hampir seluruh temannya adalah crafter.
Seminggu belakangan, TL kedua akun seperti neraka buat saya. Isi TL penuh dengan status dan  share berita panas. Bukan lagi masalah Pilkada.

Di akun utama, masalah share ini membuat saya berpikir ulang tentang arti penulis. Bukan hanya dari sisi tulisan yang dihasilkan, tapi juga bagaimana pribadi seorang penulis, terutama dalam hal memanfaatkan media sosial. Yang ini biarlah, bukan urusan saya. Urusan saya hanya jualan buku. Titik. Udah tahu serial Keo&Noaki kan? serial yang booming di kalangan anak-anak pra remaja? Saya jual serinya lengkap ya, japri aja langsung ( iklan lewat ).

Oke, balik lagi.
Di akun cadangan, TL juga panas. Beda kasus tapi juga karena status dan share.
Di akun ini, marak status tentang....ya apalagi kalau bukan harga nyungsep dan foto yang diambil buat jualan. Masalah klasik dan berulang-ulang terus.
Saya gerah karena komentarnya  ya pasti itu-itu aja.

"Ih kok ga sayang pinggangnya ya?"
"Wah ngrusak pasaran nih"
"Wah saya aja jualnya segini, itu kalau segitu cuma dapat ini doang"
dsb...dsb...

Dari gerah menjadi geram karena ketika diingatkan supaya ignore aja ga usah dibully, jawabnya

"Biarin aja dibully, biar ga merusak harga pasaran"

Hello, situ waras? bully kok malah dilestarikan.

Saya tidak setuju dengan crafter yang dengan sengaja memainkan harga. Tapi sikap tidak setuju tidak harus ditunjukkan dengan membuat status provokatif yang memancing caci maki. Bisa kok dengan cara elegan, tulisan implisit, halus tapi nusuknya dalam.

Setelah itu ada lagi kasus foto produk yang dicuri. Ini juga klasik.
Meski ada WM masih aja yang nekat nyolong.
Ga usahlah ribut yang lebay, kalau fotomu dicolong, inbox yang nyolong dulu, konfirmasi, minta dia hapus atau apalah. Tunggu bentar. Kalau ga ada respon. Publishlah. Coret dulu identitas yang nyolong. Buat pengumuman kalau fotomu dicuri dan dibuat jualan pihak lain. Cantumkan kontakmu yang asli, kasih peringatan agar semua berhati-hati. Ga usah ditambahi tulisan memprovokasi, kalau ada yang nanya siapa, ga usahlah dijawab di publik. Penyelesaian begini meningkatkan citramu. Percaya deh. ( tips dari Hayati yang lelah dicolong fotonya berkali-kali ).

Gemes juga kalau status provokatif itu akhirnya menuai banyak komen dan jadi ajang ribut.
Tahu ga sih, kalau kalian ribut di situ, ada buanyaaaaak Crafter penjual yang menyalip di tikungan. Kalian sibuk  ribut, yang lain ada yang sibuk memperbesar kolam dagangan supaya ikannya banyak.
Energi dan kuota yang kalian keluarkan untuk ribut, pihak lain menggunakannya untuk memoles produknya dan memantapkan strategi marketing.
Daripada ribut, mending move on, cari pasar baru, tingkatkan promo, belajar bagaimana berjualan yang efektif.

Jadi , gimana dong?
Saya gaptek
Ga ada waktu untuk marketing
bal..bla...bla...

Klasik. Alasan yang klasik juga.

Ga ada alasan kaya gitu. Masalahnya hanya mau atau tidak mau.
Ada banyak cara belajar . Mau bayar atau mau yang gratis. Pilih aja.
Saya sendiri sampai sekarang belum pernah kursus online yang bayar. Alasannya? err...ga usah dipublish lah ya..ntar jadinya curhat. Hehe.
Yang pasti saya suka gratisan. Eh tapi, belajar sendiri juga pakai modal kali. Kan pasti nyedot  kuota dan ada waktu yang dipakai.
Jadilah pencuri, pencuri ilmu. Gimana caranya ?

1. Googling
Googling aja bagaimana cara....
 nambah follower Ig
 meningkatkan omzet
memanfaatkan medsos untuk berjualan, dsb...
Ada banyak artikel. Baca.

2.ATM
Amati, Tiru , Modifikasi
Amati OS yang itu, yang produk jualannya sama dengan kita menjual dagangannya. Bandingkan foto produknya, penataan lapaknya, bagaimana dia memperlakukan customer, lalu sesuaikan dengan branding personal kita.

3. Stalk
Stalk akun pribadi OS yang jualannya laris manis.
Lihatlah bagaimana dia membuat status.
Kepo kalau dia membuat status tentang jualan.
Kadang-kadang OS ini memberikan tips ketika membalas komentar di statusnya.
Tapi, tak jarang pula, akun pribadi si OS sepi update. Karena apa? ya karena sibuk ngurusin tokonya. Bukan sibuk nyetatus ga jelas.

4. Bertanya
Yang ini jalan terakhir ya. Kalau udah mentok.
Saya belum pernah bertanya tentang bagaimana cara supaya jualan laris, gimana promo ini itu.
Biasanya saya bertanya hal-hal teknis. Kenapa akun Ig saya gini, kenapa akun paypal saya gini, jadi pertanyaan lebih ke proses di luar masalah marketing.
Coba aja. Tapi jangan sakit hati kalau late respon atau ga dijawab sama yang ditanya.
Hak dia untuk memilih menjawab atau tidak. Kalau ga dijawab, ya cari sendiri dooong. Masa gitu aja nyerah.

Yang paling penting : ACTION 

Kalau udah semua, selanjutnya beraksi. Cuma baca doang, stalk aja, nanya melulu, ga beraksi ya sama aja boong. Rugi besar. Udah dapat semua ilmunya , kerjakan. move..move...

Belajar setiap hari, perbaiki diri, ga usah ngurusi yang bukan urusan kita. Ada yang banting harga, biarin, lihat saja dari pinggir. Ada yang fotonya dicolong, simpati dan empati sesuai porsinya. Jangan membuat suatu kasus jadi melebar dan memancing kasus lainnya.
Fokus. Kan mau dagangannya laris manis tanpa harus banting harga. Fokus branding dan tembak pangsa pasar yang tepat.
Kalau ga mau bayar, jadilah pencuri yang berkelas. Pencuri ilmu.