Tuesday, August 25, 2015

LAST FANFICT

Sejujurnya kali ini saya takut melepaskan mereka berenam. Takut saya menjadi gila sungguhan setelah mereka hilang dari kepala saya. Memang ada Bayu, Vivianne, Sunny, Byul, Andini dan  Mia. Tapi mereka muncul hanya kalau saya menginginkan mereka muncul. Tidak seperti keenam anak ini yang tiba-tiba saja masuk ke kepala saya. Saya sudah terbiasa dengan Seb yang cerewet berkomentar ini dan itu ketika saya mulai membuka PC, terbiasa dengan Timika yang membuat saya membeli macam-macam pernak-pernik ketika belanja bahan craft, entah digunakan untuk apa nanti, Toby yang sering sekali meminta saya menemaninya melihat matahari terbit dan memaksa saya mendengar satu lagu berulang-ulang karena dia suka dengan irama gitar yang ada di dalamnya. Feel free to call me crazy .. I'm totally crazy.

Ketika Keo dan Noa berangkat dulu, saya masih bisa bertahan karena ada mereka yang tinggal.
Well, kemungkinan terburuk mungkin saya jadi seperti waktu melepas Raphelia dan Hans dulu. Ooouch...so hard.

Masih ada sekitar 2 mingguan sebelum jadwal mereka berangkat.  Tapi karena saya ingin melepas mereka tanpa buru-buru, beberapa hari yang lalu saya mulai melakukan finishing.  Seb sudah memutuskan untuk tetap memegang laptopnya. Kue untuk Noaki bisa menyusul untuk ulang tahunnya tahun depan. Tidak sempat juga menjahit bola wamena yang sudah saya potong polanya. Terlalu kecil dan tangan kiri saya masih belum bisa untuk menjepit potongan kain yang kecil.  Saya tidak  menghias framenya dengan berlebihan, ingin meninggalkan sedikit jejak saya yang simpel, dan juga agar perhatian bisa fokus kepada anak-anak, bukan ke framenya. Jadi 2 hari yang lalu, sebelum mengunci mereka dalam frame, saya membawa mereka semua ke loteng. Dini hari, menunggu matahari terbit.

Beberapa jam lagi matahari terbit. Anak-anak kukumpulkan di keranjang berselimut kain tebal. Aku membawa mereka ke loteng. 
" Dingin?" tanyaku. Semuanya menggeleng.
" Tak bisa memenuhi janji Mami membawa kalian ke pantai. Kita lihat matahari terbit dari sini saja ya?"
Aku duduk dan membuka laptop. Nyeri di  bahu kiriku belum berkurang, masih bengkak. Angin bertiup pelan. Hawanya tidak terlalu dingin, tidak seperti hari-hari sebelumnya.
Toby keluar dari keranjang, menghampiriku.
"Menulis apa Mam?"
Kuambil dia dan kuletakkan di pangkuanku.
"Fan fict, sebelum kalian pergi, bacalah "
Yang lainnya ikut menyusul, kuraup semuanya lalu kuselimuti dengan selimut tebal.
Tidak ada yang istimewa dengan fan fict yang kutulis kali ini , hanya tentang mimpiku suatu saat nanti bisa berkunjung melihat mereka.
Toby tiba-tiba saja  melompat , dengan hati-hati naik ke bahuku yang masih dibebat dengan kain , memeluk leherku dan berbisik " Kalau begitu berat untukmu Mam, jangan lepaskan aku "
Aku mengambilnya, menaruhnya di telapak tanganku.
"Bolehkah aku melakukannya? tidakkah kau merindukan Noaki ?" 
Mata sipitnya menatapku sedih. Tidak ada jawaban  yang keluar dari mulutnya. Ajeng menyentuh jariku, matanya penuh dengan air mata yang siap tumpah.
"Apa yang akan terjadi Mam? tanya Lady
Aku menarik nafas panjang. Tak ingin menangis dan juga tidak ingin melihat mereka menangis.
" Nothing, I'll be fine don't worry, akan ada pururu lain yang menggantikan kalian, bergembiralah, kalian akan pulang, kembali lagi berdelapan . Mami hanya tidak  bisa lagi mendengar kalian. Itu aja."
" Kalau  begitu jangan menangis, jangan bergadang, jangan memaksakan diri, jangan minum terlalu banyak kopi dan tidur siang !" seru Seb.
Aku tersenyum. Seb, my precious Seb.
"Maaf Seb, kau tidak bisa bertemu dengan Noaki di hari ulang tahunnya. Tapi tahun depan kau masih bisa memberikan kue itu. Nanti Mami kirim beserta papan tic tac toe mu"
Seb tidak menghiraukanku. Melompat dari pangkuanku lalu kembali ke keranjang.
"Biarkan.." kataku kepada Wamena yang hendak menyusul Seb.
"Mami ga akan sempat menjahit bolamu menjadi 3D, kurasa nyeri ini masih bertahan seminggu lagi"
Wamena mengangguk maklum. 
Pagi rupanya mulai menjemput. Aku mengambil Seb dari keranjang dan menaruhnya kembali di pangkuanku, bersama dengan yang lainnya.
"Toby, bolehkah aku mendengarmu memainkan gitar?"
Suara gitar Toby mengalun pelan. Semburat jingga tampak menembus sela-sela awan. Tidak butuh waktu lama, warna-warni pagi mulai muncul menggantikan kelamnya malam. Pagi sudah datang. Waktuku sudah habis.


" 8 anak, seorang penulis, seorang crafter, segelas teh melati, segelas besar cappucino latte, delapan gelas jus dan sepiring besar pancake buah. Diiringi denting gitar Toby, suara merdu Keo dan celoteh bersahutan tiada henti, bersama menyambut senja.
Aah, bahagia itu sederhana , ketika Imajinasi menjadi nyata. Someday, Somehow."
‪#‎fanfict‬