Wednesday, January 20, 2016

VIVIANNE DAN TOBY






Tiap Selasa-Rabu sore, ketika saya mengantar anak-anak PPA. Ada seorang cowok yang mirip banget dengan Toby Chen versi SMA. Miriiiiip banget mulai rambut jigraknya sampai mata sipitnya.
Dia selalu duduk di depan pintu utama di Gracia School, mungkin nunggu jemputan. Pengiiiiiin  ambil fotonya, tapi keder..gimana mintanya coba.
Masa tiba-tiba " Hai, boleh minta fotonya? kamu mirip banget sama Toby Chen " langsung dikeplak sama Satpamnya nanti. wkwkwkwk..
Pengin bikin Toby versi dewasa juga, biar bisa disandingkan sama Vivianne. Menunggu si empunya karakter menulis sedikit cerita tentang Toby versi dewasa, jadi baru bisa didapat feelnya.


Melihat dia ( someone yang sedang duduk di Gracia School ), Toby versi gede, saya jadi ingat Vivianne. Pururu yang saya buat yang konek sama Toby.
Awalnya saya hanya in trance karena membuat Vivianne. Lama-lama kok jadi terbayang cerita mereka. Sue me.. saya kan gila. hahaha..


 Vivianne seorang polisi. Dia cenayang. Tinggal di panti asuhan, bukan karena yatim piatu, tapi karena sengaja ditinggalkan. Di malam natal, Vivianne bertemu dengan mimpi buruknya Toby Chen..
Toby adalah teman masa kecilnya yang tidak pernah benar-benar di kenalnya, Toby jugalah yang dulu melindunginya ketika Vivianne hendak diculik.
Vivianne hanya bisa melihat kenangan-kenangan dari orang yang sudah meninggal, ketika bertemu dengan Toby, dia mulai melihat kenangan di masa kecilnya yang  sudah tidak bisa diingatnya lagi.
Kenangan bersama ibunya, kenangan traumatis tentang penculiknya. Malam-malam di mana dia ditinggalkan. Itulah sebabnya mengapa Toby menjadi mimpi buruknya.

Jadinya genre Thriller ini, selain Vivianne, saya juga membuat karakter lain . Ada Andini yang sahabat Vivianne, teman sekamar sewaktu masih tinggal di Panti Asuhan dulu.   Pecinta bunga. Dokter kulit yang baru saja merintis klinik kecantikan. Baginya obat supaya cantik hanya satu. Bersyukur..  Lalu ada  Sunny anak panti asuhan yang fan berat sama Toby.

Dan ini satu dua paragraft yang menjadi status facebook. Saya kumpulkan. Siapa tahu someday bisa bikin full ceritanya. Mudah-mudahan :p

Toby menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Luka di pelipis kirinya mulai terasa nyeri. Tidak usah dijahit kata Andini tadi, minum saja pain killer ini kalau nyerinya membuatmu tidak nyaman. Toby meringis, perutnya mulas dan mengejang mengingat kejadian tadi.
Luka di lengan Vivianne masih membuatnya bergidik ngeri, luka sabetan parang yang membuat lengan kurus itu belumuran darah.

Ponselnya  menjerit-jerit lagi. Bunyi notifikasi masuk bertubi-tubi. Toby berguling, meraih ponselnya.
10 panggilan tak terjawab. 13 sms masuk. Cecilia, Cecilia, Mama, Mama, Wamena, Wamena, Wamena, Wamena.

" Are you out of your mind? meninggalkan acara sepenting ini untuk mengejar seorang gadis yang bahkan kamu enggak tahu namanya ? Balas ! " Wamena.
" I'm going to kill you ! pick up your phone !! " Cecilia.
" Toby, angkat telponnya. Penting " Mama.
" TOBY !!!!! angkat telfonnya !! " Wamena.

Toby menarik nafas panjang. Wamena benar, dia memang sudah gila.  Meninggalkan upacara pernikahan Cecilia hanya untuk mengejar Vivianne yang baru sekali dilihatnya.

Ponselnya berbunyi lagi. Toby menunggu. Hanya 1 sms masuk. Dari Wamena.
" Oke. Fine. 12.01 WIB. 12 Maret 2026. Happy Brithday. Wish U All The Best. We love you. Jangan kabur dan menghilang. Yang suka menghilang itu Seb ". Mau tidak mau Toby tersenyum. Terima kasih, bisiknya lirih.

Dua notifikasi masuk menyusul. Timika dan Lady. Video ?

Timika  seperti ada di sebuah aula, ada beberapa manekin berkalung di kanan-kiri. Timika sedang ada di sebuah pameran perhiasan.
" Toby ! Selamat Ulang Tahun, nyolong waktu nih, Wamena tadi menelfonku, katanya kamu kabur mengejar seorang gadis berkulit pucat. Bawa dia dan kenalkan waktu kita ketemuan di butik Ajeng minggu depan. Kulit pucat bagus pakai warna merah. Kubawakan cabochon berwarna merah untuknya nanti. Oh, hadiahmu! nanti saja kalau ketemuan. Bye Toby, Ibu Mentri sudah datang " . Cepat sekali gosip menyebar , Toby menghembuskan nafas dengan kesal.

Satu lagi video dari Lady. Lady ada di dalam Lift ? Toby mengernyitkan dahi, memicingkan mata , mencoba melihat lebih jelas.
" Hai Toby, seharusnya aku sudah ada di tepi pantai ...., Huhuhu... para wartawan ini mengejarku dan tidak mau melepaskanku sebelum mereka berhasil mewawancaraiku.
Anyway, Selamat Ulang Tahun. Apapun yang kamu lakukan sekarang. Keep up your spirit. Semangat !!! sampai jumpa di tempat Ajeng minggu depan ya. Bawa juga gitarmu, kangen mendengar duet Keo-Toby yang fenomenal itu " Video berakhir . Kali ini siapa yang sedang dibela Lady. Anak itu benar-benar berani melawan arus.

12.11
Notifikasi masuk lagi. Seb.
" Toby, kami mengirim email. Buka sekarang "
Toby beranjak dari tempat tidur, lalu menyalakan laptop.
Seb mengirimkan video.

Keo yang muncul pertama kali .
" Hai buddy, Selamat Ulang Tahun ! mmmm..tadinya aku mau menyanyi untukmu, tapi Seb bilang simpan suara untuk minggu depan di tempat Ajeng. Jadi hadiahnya minggu depan ya. Dan tahu tidak ternyata di sini..."
" Keo ! jangan lama-lama, gantian! " Suara Seb menyela, Keo ditarik mundur. Seb sepertinya bertambah jangkung, jauh melebihi Keo yang dulu paling tinggi diantara Formasi 8. Rambutnya merahnya sudah panjang,  waktunya dipangkas.

" Toby,  Bon anniversaire, en ce jour heureux, beaucoup de bonheur et une longue vie! Aku enggak punya hadiah untukmu nanti ya. Jadi jangan berharap yang macam-macam. Kepulanganku ke Indonesia sudah menjadi hadiah paling mahal untuk kalian  " Katanya. Toby tertawa. Seb masih seperti Seb yang dulu.

" Mundur !" itu suara Noaki. Noaki muncul, cantik dengan kerudung ungu, tersenyum lepas sampai kedua lesung pipitnya terlihat jelas. Hati Toby berdesir. Noaki tampak sangat bahagia.
" Toby, Selamat Ulang Tahun, semoga semua kebahagiaan datang untukmu sepanjang tahun ini dan tahun-tahun selanjutnya. Aku sempat membuat ini tadi, bosan mendengar pembicaraan mereka berdua. Kau tahu kelakuan Keo-Seb tetap tidak berubah, sama seperti bertahun-tahun yang lalu. Noaki berbisik, lalu memperlihatkan sketsa yang dia buat. Sketsa mereka berdelapan, 10 tahun yang lalu, di saung di dekat sekolah.

Hati Toby menghangat, betapa rindunya dia akan masa-masa itu. Bersepeda ke sana-sini, bertukar sandi dengan Noaki di malam hari, berduet dengan Keo tiap kali berlatih memainkan gitar. Dia bahkan rindu masa-masa bertengkar dengan para sahabatnya itu.

" Kami harus pergi, sampai jumpa minggu depan Sahabat !" Suara Keo membuyarkan lamunannya. Seb, Noaki dan Keo berjejalan di layar monitor sambil melambaikan tangan. Video berakhir.

Toby mengambil gitarnya. Memetik dawainya pelan-pelan. Ada sms masuk. Ajeng.
" Selamat Ulang Tahun Toby. Minggu depan pukul 10, aku tunggu ya. Jangan bawa fansmu ke sini, private party." Toby meringis, Ajeng masih kesal karena kejadian bulan lalu.

Sudah hampir pukul 1 dini hari. Luka di pelipisnya bertambah nyeri. Toby merogoh saku jas, mengeluarkan  pain killer yang dibawakan Andini, lalu meminumnya.
Sambil berbaring, dia memetik gitar, memainkan lagu ciptaanya 10 tahun yang lalu. Lagu itu  membawa kenangan manis , Toby tersenyum, bahagia membuncah di dalam hatinya. Saat ini semua bagian di dalam dirinya bergejolak, dan dunia luar sedang berguncang, tapi Toby tahu, apapun yang terjadi , selalu ada sahabat yang akan mendukung dan menolongnya.

Hik...
Kok jadi baperrr...







" Itu dia di sana. Selalu pucat seperti biasa. Bersandar di pintu mobil, terpekur memandangi ponsel di tangan. Toby berhenti sejenak, mengumpulkan kekuatan. Kepalanya pusing dan pandangannya mulai kabur. Sedikit lagi , maaf aku terlambat, maaf membuatmu menunggu, maaf membuatmu kuatir. Maaf Vivianne...maaf . . ._ Toby

 "Meskipun kehadiranmu membuatku mengingat kenangan buruk masa lalu, tapi itu seribu kali lebih baik daripada harus bermimpi buruk karena kehilanganmu "._ Vivianne

 "...dan tanpamu, aku tercekik karena cinta. " Vivianne

 "...seperti angin, aku akan pergi."_ Toby

 "Kali ini denting gitar Toby membuatnya tenang, tidak lagi membawanya tersesat ke dalam kenangan menyakitkan seperti sebelumnya. Vivianne duduk bersandar, memejamkan mata, membiarkan dirinya terhanyut. Tidak melawan rasa kantuk yang datang. Obat biusnya sudah bekerja. Terdengar suara Andini memanggil Toby. Sesaat kemudian tubuhnya menjadi hangat, seseorang membungkusnya dengan selimut tebal, lalu memindahkannya ke atas ranjang. Vivianne bergelung , mencari posisi nyaman lalu tertidur lelap. "