Sunday, December 4, 2016

Sandal Jepit Berkelas


Saya pernah menulis tentang sandal jepit, klik disini

Itu sudah 3 tahun yang lalu, permintaan yang simpel dan absurd. Hahaha.
Saya cinta sandal jepit.
Pakai sandal jepit itu rasanya bebas, jari-jari kaki yang lebar kaya bebek bisa bebas ga harus umpel-umpelan di dalam sandal atau sepatu yang tertutup.
Sandal jepit juga ga ada hak-nya, trepes, ga bikin capek kalau harus diajak jalan ke mana-mana.

Saya tidak pernah membeli sandal jepit. Maksudnya khusus untuk saya sendiri. Pakai sandal jepit punya Papi aja, atau kalau Veve dapat rejeki dibeliin sandal jepit. Ukuran kaki saya kebetulan sama kaya ukuran kaki Veve.

Dulu, jaman masih jadi pengepul barang bekas, sering nemu sandal yang masih bagus, walau agak kusam, tapi kalau dicuci bersih masih bisa dipakai.
Kalau lagi beruntung, kadang nemu sandal yang masih gres, mungkin cuma cuil ujungnya jadi di reject, kadang juga nemu sepatu kets yang masih bagus banget.
Sandal atau sepatu yang bagus kelihatan dari solnya. Waktu jadi tukang rosok, sol-sol sepatu atau sandal dipisah dan dikelompokan berdasarkan jenisnya.
Jadi sepatu dan sandal yang mahal, biasanya solnya empuk, ditekuk-tekuk mendal, kalau diiris pori-porinya kelihatan rapat. Sandal atau sepatu bermerk susah melepaskan sol dari bagian atasnya, lemnya sangat kuat, kadang kalau males, saya gunting aja, satu dua biji hihihi.... nanti kalau ga lolos QC, paling juga dikembalikan lagi.

Sol untuk sandal/ sepatu yang ga awet, biasanya keras, kalau dikupas, ada lubang-lubang besar, kalau ditekuk ga bisa mendal, kalau dijual lagi harganya juga murah.
Sandal atau sepatu dari plastik bening harganya kalau dijual lagi solnya lebih mahal daripada sol yang keras, karena bisa didaur ulang untuk macam-macam produk plastik.
Veve dulu girang bukan kepalang kalau nemu sandal-sandal plastik yang lucu-lucu dan berwarna-warni.

Kembali ke sandal jepit berkelas

Sandal ini dibeliin Nana sewaktu ke Jerman.
Sebelum berangkat. Saya udah ribut nitip ini-itu hihihi..
Nitipnya enggak susah-susah amat kok, cuma minta difotoin daun-daun yang gugur sama rumah-rumah tua gaya Victorian, plus nitip sandal jepit yang berkelas , yang masih ada hang tagnya dan ada struknya ( gini kok dibilang ga susah // plak), dan nitipnya juga enggak serius kok, becanda aja, ga tahunya nemu sungguhan haha..

Begitu sandalnya sampai, langsung diklaim sama Veve karena nempel banget di kakinya, kaya lengket dan pas, buat saya malah kegedean dikit. Ya sudahlah, ntar dipakainya gantian.

Tapi sampai sekarang masih disayang-sayang. Mau dipakai kemana-mana kok eman. Sandalnya ringan, enggak ada sambungannya, ciri-ciri sandal mahal. Ya iyalah belinya aja dimana :D
Menunggu momen pas aja kali. Mungkin waktu premier film KeoNoaki, atau pembukaan Kafe atau Distro atau Galeri, atau KeoNoaki'S Shop atau...atau...

Harganya? jangan nanya. Sampai sekarang saya enggak berani mengkonversikan harganya ke mata uang rupiah, takut shock.