Thursday, April 7, 2016

Karena MIKA



Seorang sahabat meminta bantuan saya untuk membelikan mika khusus box. Saya dengan senang hati meng-iyakannya.Toko yang menjual mika ini enggak jauh, hanya 10 menit dari rumah. Jadi saya oke aja.

Awalnya saya kira ini mika ukuran panjangnya enggak lebih dari semeter. Tapi ketika cek lagi ke toko, huwaaa.. ternyata panjangnya hampir 1,5 meter. Keriuhan sudah dimulai sejak di toko. Karena beliau nitip 4 meter, mau enggak mau itu mika harus dibeber dulu, soalnya berat, gulungannya baru dibuka dan yang jaga toko itu semua embak-embak. Alhasil, karena tokonya sempit. Kami bawa gulungan mika itu ke teras toko, lantai disapu dulu supaya bersih, barulah mikanya dibeber, hahaha... jadi perhatian orang sepasar deh. ( Toko ATKnya ada di pasar ).

Setelah berhasil dipotong, saya bingung gimana cara bawanya? naik motor dengan tuan muda lagi.
Mbak penjaga membuatkan tali cangklongan dari rafia supaya bisa saya bawa seperti tas. Smart !, masalahnya itu mika panjaaaaaang....jadi ketika saya cangklong, saya sudah menjatuhkan tumpukan kertas kado lalu lanjut  memukul tukang parkir dengan bagian belakang mika saya. Hahaha... maaap ya pak, enggak sengaja.

Naik motor dari pasar ke rumah lancar jaya. Copas lewat sawah yang enggak banyak kendaraan. Sampai di rumah baru saya mikir. Ini nanti packingnya gimana lagi. Sempat terpikir untuk memotongnya jadi 2 bagian. Tapi saya mikir lagi, nanti jadi enggak bagus kalau mau dibuat box dengan ukuran yang besar. Ya sudah, biar dipacking seperti itu aja, saya bungkus koran dengan lakban keliling. Mika digulung lagi menjadi lebih kecil sama papi, saya bungkus dengan koran dan dilakban rapi.

Karena mengirim paket dengan penampakan seperti ini adalah pengalaman baru , jadi saya timbang dan ukur dulu di rumah. Kalau beratnya sih cuma sekilo lebih, masuk 2 kilo kalau nanti dihitung per kilo. Kalau diukur pakai rumus volume juga enggak sampai 2 kilo lebih. Jadi seharusnya ini paket aman-aman aja, enggak lebih dari 2 kilo. Oke deh, berangkat!

Pagi-pagi Papi menyarankan untuk menempel kresek warna merah di bagian belakang mika, katanya biar kelihatan , seperti orang-orang yang bawa paralon atau besi panjang itu lho. Ih Norak ! 
Tapi lama-lama saya pikir ada benarnya juga. Soalnya jalan menuju Ekspedisi itu jalan besar, dilewati kendaraan besar, lewat terminal pula. Mau enggak mau saya tempel dah kresek merah sebagai penanda .
Sebelum jam 8 saya berangkat. Kalau harus nunggu karena ekspedisi belum buka, it's oke, yang penting jalanan masih sepi.

Tapi ternyata.... oh... ternyata, di jalan ada operasi kelengkapan sepeda motor. Huhhuhu.. saya dihentikan embak Polwan yang cantik. Duh, bukan masalah kelengkapan suratnya. Tapi ribetnya itu lho....

"Pagi Bu, silahkan minggir, boleh lihat SIM dan STNK Bu?"
"Bentar ya mbak, susah nih " jawab saya manyun.
Ribet nurunin tuan muda, ribet lagi nurunin mika.
"Ini apa Bu? paralon?" Embak Polwan memutar-mutar mikanya,sambil mencoba nyuil sedikit kertas koran yang membungkus mika itu. Ya , enggak bisa wong sudah saya lakban keliling.
"Mika mbak, buat box"
"Oooh..."
SIM dan STNK saya cuma dilihat sepintas, enggak juga dicocokan sama nopol motor saya. Haiiish.. ngapain distop  tadi...
"Hati-hati ya Bu, bahaya nih bawa begini , bawa anak kecil lagi" katanya sambil mengembalikan SIM dan STNK saya.
Saya tersenyum kecut.
Balik lagi ribet naikin tuan muda dan nyangklong mika. Periksa kanan-kiri, cek kresek merahnya masih ada apa enggak, saya cusss lanjut.

Ekspedisi memang masih tutup, jadi saya selonjoran dulu di depan ruko. Mbak Hana ( Pegawai JNE ) yang datang 10 menit kemudian langsung takjub dengan paket yang saya bawa.
" Apaan ini Bu?"
"Mika" jawab saya, nyengir.
Paket saya yang aneh selama ini hanya berupa kaleng biskuit untuk packing roseburn atau gardenia, jadi yang ini baru buat mbak Hana. Mikanya ditimbang dan diputar-putar.
"Hitung berat aja ya Bu, ga usah dihitung volume" kata mbak Hana.
"Okeeh, bungkusss!!!"
Paket sampai 3 hari kemudian. Utuh. Saya lega sekaligus senang. Siapa yang mau nitip mika lagi. Sinih....:D