Wednesday, October 22, 2014

MENGIRIM DENGAN CINTA ( PART 2 )





Saya jarang mampir di ekspedisi  Tiwul, hanya beberapa kali, pricenya mihil jadi jarang ada customer yang request pengiriman via Tiwul, pengalaman yang bikin keki hanya sekali, karena ongkirnya ga sama dengan yang ada di web, petugasnya pakai ngotot lagi. Karena antri dan gerah, saya iyain aja deh.. ben nombok beberapa ribu, daripada adu mulut dipelototin yang lagi pada antri..

Ekspedisi favorit saya adalah si Ponijah.. saya sukaaaaaa banget sama tempatnya. Kalau sekarang agen Ponijah banyak yang model-model resepsionis.. agen Ponijah di tempat saya modelnya vintage.. alias jadul. Yang dijadikan loketnya adalah  rumah model jaman dulu.. terang, bersih dan auranya.. hmmm seperti minum kopi di pagi hari.. Kadang-kadang sambil nunggu dimasukin datanya, saya sering membayangkan ngecraft di tempat duduknya pak pos, ditemani secamgkir kopi, suasana hujan gerimis disertai sedikit cahaya matahari, sambil memandang hijau-hijauan melalui jendelanya yang besar-besar.....hohohohoho.. mantaaap..
Pak Posnya ramah dan santun, kalau ngomong pakai bahasa jawa yang kromo inggil banget, kadang bikin saya gelagapan jawabnya..
Di Ponijah, saya jarang nombok, yang sering ongkir customer sering lebih...meski demikian saya selalu menginformasikan kelebihan. Kalau kekurangan tidak saya informasikan karena biasanya ga sampai puluhan ribu..:)

Saya sempat spot jantung ketika mengirim pakai ekspedisi Panjul. Jadi ceritanya saya salah memperkirakan lokasi ekspedisi, agen Wakul yang saya tuju ternyata sudah pindah, diganti dengan si Panjul, nekad saya kirim saja paket saya via Panjul. Paket yang saya kirim itu adalah kreasi saya yang hendak di foto untuk buku, tentu saja saya tak berhenti berdoa sejak keluar dari ekspedisi, apalagi kondisi jakarta waktu itu sedang banjir... huwaaaaaaa sampai saya mendapat kabar kalau barangnya sampai dengan selamat, barulah saya bisa bernafas lega...

Anyway, semua pengalaman dengan beberapa ekspedisi hanyalah intermezzo, tidak selalu mengerikan karena dari sekitar 20 pengiriman, mungkin hanya 2 yang bermasalah.
Sekali lagi, tidak ada satu ekspedisipun yang bisa menjamin 100 % barang tiba tepat waktu, karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi, bisa saja ada bencana alam, sopir ekspedisi ngantuk, salah nempel no resi, abang kurir ga punya pulsa trus kesasar, truk ekspedisi ketemu Bang Hotman akhirnya celaka, Ban sepeda si abang kurir gembos, Petugas paket sedang patah hati jadi terbalik ngetik nomor... Who knows..

Jadi hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah pertama tanyakan ke customer ekspedisi apa yang biasa dipakai ( dengan mempertimbangkan lokasi agen dengan tempat tingggal kita ), kedua lepaslah paket dengan doa, baik waktu menyerahkan di agen ataupun selama perjalanan, lalu bersyukurlah kalau paket sampai dengan selamat tanpa cacat.

Selanjutnya.. yuk nikmati masa deg-degan menunggu kabar dari si penerima. Buat setiap karya dengan cinta... lalu kirimlah juga dengan cinta....