Friday, December 19, 2014

Hans : Peri Penjaga Mimpi


 Inilah Hans, Peri penjaga Mimpi. Tidak seperti peri lainnya, Hans tidak mempunyai sayap. Dia hanya mempunyai seruling untuk melaksanakan tugasnya. Ketika malam menjelang, Hans akan meniup seruling di atas bukit di Hutan Pururu . Suara merdu seruling Hans mengantarkan semua penghuni hutan masuk ke alam mimpi. Dengan serulingnya, Hans juga menjaga agar hanya mimpi yang indah saja yang menemani tidur malam penghuni hutan Pururu.



Terus terang, saya kesulitan setiap kali akan membuat boneka cowok, karena saya tidak mau ke pinterest dan googling ketika akan membuat Hans, jadinya saya main di tempat lain.
Di soompi dan devianart , saya ga nemu idenya. Di devianart banyak sih anime cowok-cowok, tapi kok ya ga dapet feelnya ya. Di soompi banyak avatar lucu-lucu, tapi saya ga sreg.
Akhirnya saya banting setir ke dramabeans and so on..dan dari sinilah karakter Hans penjaga mimpi bermula.

PINOCCHIO
Drama penutup tahun yang excellent... prematur sih baru 12 episode, tapi sejauh ini sih ceritanya bagus..
Ga ngereview.. coz blum selesai. Jadi seperti biasa, saya fokus pada hal-hal kecil.
Di episode 3 atau 4 lupa saya, ceritanya In Ha mau melakukan tes wawancara uintuk menjadi reporter. Dal Po menawarkan mimpi indahnya sebagai jimat keberuntungan kepada In ha. Ga free coz dia menjualnya sebesar 5000 won..hahahahaha..nah In ha setuju membelinya, sebagai tanda jual beli, dicomotlah kancing baju dal po , sama In Ha dijadikan kalung.
Dannn...hanya beberapa hari kemudian, ini kalung kancing langsung dijadikan produk komersil.. begitu cepat pasar merespon kesempatan yang nampak.
Huhuhuhu..pengen banget Pururu bisa jadi cameo di film atau iklan atau video klip..mungkin penulis skenario, produser, sutradara...mampir di sini .. hahahaha but who knows ? cross finger..
Ide penjual mimpi sepertinya bagus, tapi masa peri jualan mimpi ? akhirnya saya ganti jadi penjaga mimpi.
Ide penjual mimpinya buat pururu seri berikutnya..untuk cerita serombongan sirkus mampir di negri Pururu , ada Pak Pimpi, si penjual mimpi..noted...



 Oke.. selanjutnya adalah mencari bentuk badannya.
Boneka cowok susah, karena rambutnya modelnya gitu-gitu aja, bajunya apalagi.
Jadi, karena sudah buntu sama devianart, saya akhirnya cari drama yang banyak cowoknya..
Dan taraaaaa..dapet school 2013.

SCHOOL 2013
Saya sebenarnya ga suka dengan drama tentang anak SMA, karena kalau nonton drama begini saya jadi menyesal, napa dulu waktu SMA isinya belajar mlulu..harusnya nakal dikit ga papa..masa muda kurang bahagia hehehehe...
CERITANYA
School 2013 bercerita tentang guru dan muridnya..seperti biasanya konfliknya ya tentang anak-anak yang nilainya kurang plus permasalahan ala anak SMA.
Saya nontonya loncat-loncat karena sebenarnya fokus sama para cowoknya. Dan buat saya drama ini serasa jackpot karena ada Lee Jong suk sama Kim Woo Bin.
Ada beberapa adegan dan kalimat yang touching, adegan Guru Jung ( Jang Nara ) yang memukul tangannya dengan tangan para muridnya ( Guru Jung memegang tangan muridnya lalu tangan murid itu dipukulkan ke tangannya. Jadi seolah-olah muridnyalah yang memukul gurunya ) adegan ini sempat membuat saya mbrebes mili..hiks..dan beberapa kalimat yang saya suka adalah :

" Kitalah yang menciptakan mereka, kita, para guru, orang tua dan sistem yang membentuk mereka, jadi kenapa harus menyalahkan mereka ?" ( ini kalimat yang diucapkan Guru Jung ketika tangannya melepuh merah karena dipukul oleh tangan muridnya. Dalam adegan ini, Guru Jung ibarat  tidak memukul anak-anak, tangan Guru Jung yang kecil itu kalau buat memukul murid-murid sih ga akan berasa, jadinya Guru Jung-lah yang dipukul anak-anak..duh ini adegan sungguh membuat saya mberes mili, mana Jang Nara kurus kecil banget, tangannya jadi merah-merah..)

 " Kemana lagi seorang guru akan pergi kalau tidak ke sekolah..."

" Kita belajar bukan untuk menjadi lebih baik dari orang lain, tapi kita belajar untuk menjadi lebih baik dari diri kita yang kemarin "...mantap quotenya..

Nonton drama ini membuka mata saya, tentu saja anak SMA punya masalah mereka masing-masing, ada yang melewatinya dengan mulus, ada pula  yang melewatinya dengan berdarah-darah, semuanya itu proses, kadangkala kita orang tua dan guru ingin membentuk mereka sedemikian rupa, karena sistem atau lingkungan membuat standar mana yang baik dan yang tidak baik. Seringkali kita mengabaikan bahwa semuanya butuh proses, mereka anak-anak muda juga butuh ruang mengeksplor diri. Tentu saja mereka keras kepala, yang bisa kita lakukan adalah menjaga mereka, menyediakan tempat seandainya mereka sadar salah melangkah lalu kembali kepada kita.
Saya suka karakter Guru Jung dan Guru Kang di drama ini, saya suka adegan mereka yang penuh kasih kepada murid-muridnya...saya suka bagaimana mereka memberikan rasa nyaman seperti berkata " It's ok, kalian bisa percaya kepada saya, semua akan baik-baik saja "
Suka bagaimana mereka selalu mengajak muridnya makan terlebih dahulu sebelum mengantar mereka pulang.
Mudah-mudahan ada banyak guru seperti ini di dunia nyata.
Nonton drama ini juga mengingatkan saya pada anak-anak saya ketika saya menjadi mentor dulu.
Beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan mereka. Time flies...waktu itu mereka masih SMP, cueknya setengah mati, saya dulu sampai harus bekerja keras untuk menarik perhatian mereka, ketika bertemu lagi, mereka sudah lebih dewasa, dan saya terharu, mereka masih mengingat saya. Beberapa sudah tamat dan bekerja, lainnya lagi sudah kuliah..ahhhh...miss you all kids..
Anyway, meskipun ada Jong Suk dan Woo Bin, saya ga dapet feelnya .




 Saya malah tertarik sama gesture Guru Kang ( Daniel Choi ), kakinya panjang dan setiap kali pakai Jas kok rasanya panjang jasnya di atas rata-rata, jadinya saya bikin aja Hans yang pakai coat panjang, maunya bikin yang kakinya panjang tapi kok selalu ga bisa..memang ga bakat duplikasi



 Dan inilah Hans...bagian paling susah itu rambutnya, coatnya sama sepatunya...



Oh.. dan satu lagi..suka sama Broomance di drama ini  ...love these boys...