Saturday, April 11, 2015

SEBASTIEN KRESNA TRAVER






Kemarin malam, sambil menemani anak-anak berangkat tidur, saya membaca ulang buku GKNN. Papi pergi melayat.
Ketika melihat ilustrasi Seb sedang dimarahi, saya tertegun sejenak dan berpikir, jangan-jangan sewaktu saya menangis, Seb juga dimarahi sama anak-anak yang lain ( saat itu saya belum membuat Lady, Keo, Noa, Wamena-Timika ).

Setelah memastikan anak-anak tidur, saya kembali ke kotak menjahit saya. Bimbang.
Let's try, saya meyakinkan diri sendiri. Mungkin kali ini saya lebih beruntung .
Saya mulai menjahit kepala Seb. Karena Seb yang paling kecil diantara yang lain, kepalanya saya buat lebih bulat dan lebih kecil. Selesai menjahit, saya diam sejenak, menunggu. Nothing happen.
Maju , saya menggunting felt warna coklat untuk rambutnya.  Saat itulah saya merasakan Seb di kepala saya. Saya merasakan rasa ingin tahunya, semangatnya terhadap hal-hal baru, saya merasakan spontanitasnya , saya " in trance ". Saya bahkan mendengar suaranya.
" Tidak, aku tidak suka alis itu, terlalu tebal "
" Jangan buat aku terlalu cute, aku bukan perempuan !"
Saya bekerja cepat dan tetap hati-hati, saya takut Seb " hilang ".

Selesai menutup jahitan di leher Seb, saya berhenti. Merasa kosong. Seb pergi. Hiks....
Menunggu sebentar, nihil. Frustasi , saya berbaring dan mulai menangis.
Oh Seb, begitu sulitkah untukmu bertahan bersamaku sebentar saja ?
Saya menangis sampai jatuh tertidur dengan Seb yang masih tanpa tangan dan tidak memakai baju, dalam gengaman.
Jam 12 saya terbangun, Seb sudah pindah di atas meja belajar Veve, mungkin Papi yang memindahkannya sewaktu saya tertidur.

Seperti biasa, saya menyalakan mesin cuci, mempersiapkan apa saja yang akan dimasak subuh nanti, lalu menyalakan PC. Kelar membalas inbox, komen, cek email, saya lanjut menonton drama (KMHM ep 20 ) untuk mengalihkan perhatian saya dari Seb.
I was fine, until that scene came up.
Yo- sub ada di luar Ssangri, berpamitan kepada Oh Ri Jin



Yo-sub mengutip puisi karangan Paul Valéry, dalam bahasa PRANCIS !!

 ”Yo-sub: Le vent se lève. Il faut tenter de vivre. (The wind rises. We must try to live.) 
  
Saya shock... No..no way.. you can't do this to me Seb !
Setelah masuk dalam kepalaku dan membuat kita berjalan sejauh ini, kau tidak boleh pergi.. Seb ini tidak adil !
Mata saya kabur oleh linangan air mata dan saya mulai gemetar, antara marah, kecewa dan frustasi, saya menangis tersedu-sedu.
 Saat itulah saya mendengar Seb lagi " It's ok Mam, i'm here..ayo kita lanjutkan "
Bukannya berhenti, saya malah menangis semakin keras. Untung saja tidak ada yang bangun dini hari itu. Kalau Papi sampai terbangun, mungkin saya sudah berakhir di UGD rumah sakit :p

Hampir setengah jam saya menangis. Setelah bisa mengendalikan diri, saya tidak langsung kembali ke Seb, saya mencuci muka dan memasak. Lagi pula saya masih gemetaran, melakukan hal yang lain mungkin bisa membuat saya tenang.

Pukul 3.00 dini hari, saya kembali ke Seb. Kali ini saya tidak merasakan Seb dalam kepala saya, tapi saya tahu dia ada memperhatikan.
Semuanya lancar, saya membuat tangannya,  memberinya baju, bahkan saya membuatkan Macbook dengan logo apple yang saya buat dengan sekali gunting !
Ketika memasang Macbook sebagai final touch, saya gemetar dan menangis lagi.. we did it Seb. It's over now... I'm fine, you can leave.

Woohooo.... perjalanan yang begitu melelahkan bersama Seb.

Saya selalu emosional ketika membuat Pururu, tapi tidak pernah seperti ini, maksudnya saya masih bisa mengendalikan diri. Mungkin karena Pururu yang lain  karakternya saya ciptakan sendiri.
Mungkin akan lebih mudah bagi saya menduplikasi karakter yang ada di buku GKNN kalau hanya melihat gambar ilustrasinya tanpa membacanya lebih dahulu.
Karakter setiap tokoh yang sangat kuat itulah yang seringkali membuat  saya kesulitan. Tapi itu juga bukan masalah sebenarnya  karena saya menikmati setiap momen ketika membuat mereka.

Seb adalah Seb. Sebelum membuat Seb seharusnya saya aware kalau hal ini bisa saja terjadi. Karakter Seb yang spontan, tidak mau dipaksa dan kadang bertindak tanpa pertimbangan seharusnya sudah saya pahami.
Mungkin saya terlalu memaksa, saya ingin membuat Seb dalam sekali jalan, satu kali trance.
Oke, I was wrong , I admit that.
Membuat Seb seperti berlari marathon melintasi gunung, bukit dan lembah tanpa tahu dimana dan kapan harus mulai dan berhenti. Saya seperti tersesat dan hanya bisa mengandalkan Seb untuk bisa menemukan arah yang benar. Apa yang terjadi dini hari kemarin benar-benar menguras emosi saya, sekarang saya lega dan mengerti sepenuhnya. Bukan salahmu Seb, sayalah yang terlalu memaksa.

Time to say goodbye. Maaf harus mengirimmu masuk ke Box secepat ini. Sejujurnya saya takut begitu melihatmu, air mata ini akan meleleh lagi. I Love you Seb, I really do, from head to toe.

Kalimat yang diucapkan Yo-sub adalah penggalan puisi bait terakhir milik Paul Valéry.  Saya googling dan menemukan versi lengkapnya, Puisi yang indah. Ini saya copas bait terakhir, sebagai pengantar untukmu Seb


 Le cimetière marin (The Graveyard By The Sea) by Paul Valéry 

Le vent se lève! . . . il faut tenter de vivre!
L’air immense ouvre et referme mon livre,
La vague en poudre ose jaillir des rocs!
Envolez-vous, pages tout éblouies!
Rompez, vagues! Rompez d’eaux rejouies
Ce toit tranquille où picoraient des focs!

The wind rises. We must try to live. 
Look: an immensity of air opens and shuts my book.
Waves shatter on the rocks. Break, with bright
glitterings with my pages flown away,
and rejoice, waves, falling into spray —
on this calm roof with sailcloths fretting light.


 Au revoir Sebastien Kresna Traver , Merci.. see you soon.

Note : Saya belum mengirim Keo masuk ke Box karena belum membuat Noa.