Monday, May 4, 2015

Tentang Mengambil Rasa dan Passion


Beberapa hari yang lalu saya update status isi diskusi saya dengan seorang crafter rusia , ketemu di dramabeans. Beliau pakai nickname RedFox. Yang penasaran silahkan ke dramabeans, biasanya setiap jumat di postingan open thread, dia pasti posting di situ.

Beliau berkata setiap crafter yang membuat dan menjual hasil karyanya harus memperhitungkan Rasa, Passion, dan Waktu. Rasa dan Passion dapat diambil dan dikembalikan lagi. Tetapi siapa yang bisa mengembalikan waktu ?

Lah trus bagaimana itu caranya mengambil rasa dan passion.
Mmmm. jadi begini. Saya menjual aplikasi untuk bros. Yang membuat aplikasi itu bukan hanya saya, tapi asisten saya. Nah, apa rasa dan passion seorang asisten? tentu ga sama dong dengan crafternya. Bisa aja asisten kita itu passionnya karena duit dan rasanya karena terpaksa. Jadikah aplikasinya ? jadi! Rapikah aplikasinya ? Rapi ! kelihatan ga passion dan rasanya? sudah pasti ga.

Tugas memberikan rasa dan passion itu kemudian ada di para Broker ( Brooch Maker ). Para Broker inilah yang kemudian memasukkan rasa dan passion di aplikasi yang " tidak bernyawa " itu.
Itulah sebabnya aplikasi yang seharga 2000 per biji bisa menjadi 20.000 kalau sudah di tangan Broker.
Kemudian ada curhat lagi dari seorang Broker. Bucket bros dijual dengan harga murah..pakai banget . Siapa yang salah hayoooo..

Sungguh gampang kalau mau jadi Broker, aplikasi murah dijual dimana-mana, tinggal tempel jadi. Cepet, gampang, murah to...tapi kembali lagi ke rasa dan passion itu. Kelihatan kah ?

Rasa dan Passion itu terlihat kok. Stalking aja Broker papan atas. Lihat karya mereka, paduan warna, bentuk aplikasi. Bahkan aplikasi yang ga rapi pun bisa jadi sangat indah di tangan mereka.

Broker yang menjual bros dengan harga murah, duh kok saya suker ya pakai kata murah ini.

Broker yang menjual bros dengan harga miring, bisa jadi tidak pernah belajar membuat aplikasi, tidak perduli dengan desain dan perpaduan warna. Yang penting jadi bucket dan laku dijual. Ga salah juga sih, ga ada juga hukum yang melarang kalau mau jualan dengan harga miring.

Saya pribadi tidak mau menjual aplikasi dengan harga di bawah rata-rata. Alasannya tentu saja pertama karena ada asisten yang harus dibayar, selanjutnya aplikasi yang dijual miring memicu harga bros yang juga miring. Lagipula kita juga harus memperhitungkan inflasi. Harga bahan baku sudah pasti akan terus naik , upah asisten juga harus ikut naik karena kebutuhan pokok juga naik.

Bagaimana menghadapi perang harga kalau begitu? ya ga usah dihadapi. Saya lebih suka minggir dan merawat customer saya yang setia.  Tetap perbaiki kualitas dan pelayanan. Jalin komunikasi dengan baik. Merawat 10 customer setia buat saya lebih baik, daripada mendapat 10 customer baru dengan harga yang dibanting. Bagaimana dengan Anda ?