Sunday, May 24, 2015

LAST NIGHT

Anak-anak keluar dari dalam Box. Seb langsung menuju Macbook orange yang baru saja selesai kujahit. Ajeng memungut buku dengan inisial namanya.
" Yaah.. masih kosong" Katanya membolak-balik halaman  buku bersampul ungu itu
.
Lady memutar kepalanya..mencari sesuatu.

"Punyaku mana Mam?" tanyanya.

" Belum, sabar ya.." jawabku singkat , lalu  kembali ke  gunting dan kain flanel. Sepatu Wamena berikutnya.

" Ada Frame! berarti kami akan pergi !" Seru Timika, melongok ke dalam Frame. Keo menggoyang-goyangkan kakinya, bercanda mengusir Timika.

Aku bimbang, hendak bersuara. Tapi sesuatu mengunci mulutku. Aku menunggu, anak-anak ini belum tahu. Tinggal 2 minggu lagi sebelum aku memisahkan mereka.

" Kemana Mam ?" Tanya Toby.

" KL, transit Jakarta" Jawabku, menghindari pandangan matanya.

Mendengar jawabanku, sontak semua bersorak. Seb bersiul senang dan langsung mencari tahu berapa lama mereka akan diam di dalam box sebelum sampai ke KL.

Kita ke luar negri, waah..ada menara Petronas, aku belum pernah naik pesawat. Seperti apa rumah baru kita.

Mendengar mereka, perutku mulas, sesuatu mengiris-iris lambungku. Lalu aku menjatuhkan bom itu.

" Keo dan Noaki yang akan berangkat duluan, sisanya menyusul belakangan."

Seketika semuanya terdiam.

Ajeng menjatuhkan bukunya dan berkata " Aku tidak mau tinggal, aku ikut."
Suaranya tegas dan wajahnya kaku beku. Aku terperangah, Ajeng yang begitu lembut, yang tidak melawan sewaktu aku menaruhnya di baris belakang ketika ulang tahun Wamena-Timika, memandangku dengan tajam.

"Kami belum pernah berpisah sebelumnya. Aku juga mau pergi" Kali ini Lady yang bicara.
Aku memandang mereka, meminta pengertian,
"Sebentar saja, beri Mami waktu 2 bulan " Kataku lirih, nyaris berbisik.

"Mami Egois! 2 bulan itu lama sekali! Mami membuat kami berdelapan, mengumpulkan kami setiap hari. Sekarang Mami memisahkan kami. Aku tidak mau. Aku ikut ! " Seb berteriak padaku.

" Seb ! " sergah Toby.

Aku tidak sanggup mendengarnya lagi. Hatiku hancur berkeping-keping mendengar perkataan Seb. Susah payah kutahan air mataku.

"Tidakkah kalian memikirkan Mami? mengirim kalian pergi berarti memotong tangan dan kaki Mami. Berikanlah sedikit waktu. Mami masih ingin memperbaiki kalian, mengganti baju dan merapikan rambut kalian. Hanya 2 bulan. 2 bulan itu tidak lama " Suaraku bergetar, mataku mulai kabur karena genangan air mata.

Semua diam. Tobylah yang memecahkan keheningan itu. Dia melompat naik ke bahuku, memeluk leherku dan berbisik " Tahanlah aku selama yang Mami mau, aku tidak keberatan " Lalu meluncur turun.
"Aku balik duluan" katanya melambaikan tangan. Wamena menyentuh jari telunjukku " Punyaku warna hijau ya" pintanya, kemudian berlari menyusul Toby.

Lady menarik tangan Ajeng menghampiriku, di belakang Ajeng ,Timika berjalan sambil melipat wajahnya.
" Maafkan kami Mam, kami yang egois" Lady mencium telapak tanganku.
Aku meraihnya, membetulkan kerudungnya yang tersingkap.
"Nanti, kubuatkan bros cantik sebelum melepasmu pergi."

Lady turun dan mendorong Ajeng maju. Ajeng tidak mau menatapku, Aku tahu, dia pasti kesal.
Jadi kuberikan beberapa novel Teenlit punya Veve kepadanya.
"Bacalah, kau pasti tidak bisa tidur malam ini"
Ajeng menerimanya tanpa bersuara, lalu berbalik. Baru selangkah, dia menoleh kepadaku " Maaf " Ucapnya lirih.
Timika hanya memandangku , " Kasih bunga kecil di bandoku nanti ya Mam" katanya lalu berbalik menyusul Lady dan Ajeng.

" Seb, can we talk?" Seb diam, sibuk dengan Macbook Orangenya.
"Seb, please "
Kali ini Seb berdiri, melipat Macbooknya dan berjalan ke arahku. Dia tidak mengatakan apapun, menendang lututku dan berbalik pergi. "Yang ini aku bawa, bikin saja satu lagi untuk frame itu" katanya tanpa memandangku. Aku menarik nafas panjang. Seb selalu yang paling sulit.

Noaki memandangku dengan iba. Disenggolnya lengan Keo lalu mengambil alih anak kucing Keo.
Keo melompat turun dari frame, duduk di pangkuanku.
"Boleh aku minta sesuatu Mam?" Tanyanya.
"Tidak" jawabku singkat.
"Aku tidak mau pergi" Katanya tidak peduli dengan jawabanku.
Aku menatapnya lekat-lekat " Kalian semua harus pergi. Di sini, tidak ada yang melihat kalian. Tapi di tempat baru nanti, kalian akan dilihat banyak orang, di ceritakan kepada banyak orang. Dengan demikian kalian akan tetap hidup."
"Kalau begitu berjanjilah padaku, jangan bersedih dan jangan menangis"
Aku meraupnya dan meletakkannya di depan wajahku. " Kau tahu aku tidak bisa menjanjikan itu"

Kuletakkan dia kembali ke dalam Frame. Noaki mengembalikan kucing Keo, lalu meraih jariku, menggengamnya erat. Air mata menggenang di mata lancipnya. Aku menunduk, " Jangan menangis, Keo tidak suka kalau Noaki menangis" bisikku.  Noaki mengerjap menahan air matanya.
"Istirahatlah, jangan memikirkan apapun malam ini" Aku membelai rambut Noaki dan memasang topi merah yang baru saja kusulam.
Kalau saja Noaki bisa menggambar hatiku, malam itu muncul dua lubang di sana, 6 lainnya menyusul.

* Anggaplah ini FanFiction, feel free to cal me crazy. I'm crazy