Tuesday, May 26, 2015

Pangeran Bumi Kesatria Bulan


Genre ini sebenarnya adalah genre yang paling saya hindari. Saya suka romance drama, tapi ga terlalu suka dengan novel romans. Jangan tanya kenapa. I just don't like it.
So, ketika bukunya dah datang. Mau tidak mau, suka ga suka, kalau yang menulis Bunda Ary Nilandari, pilihannya cuma satu. Harus Baca.
Covernya cantik, saya suka, tergelitik bikin Pururu yang duduk di hoop . Tapi belum ngerasain feelnya.

Ceritanya tentang Maya di antara Geo dan Juno, mengambil isu tentang bayi-bayi yang dibuang.
Sebenarnya cerita tentang gadis yang bingung memilih antara 2 pria sudah jamak ada di mana-mana. Tapi kalau Bunda Ary yang menulisnya, cerita itu bukan lagi menjadi cerita yang biasa.

Saya  kagum dengan Bunda Ary yang sangat detail tentang hal-hal kecil , dan tentu saja detail tentang isu utama di novel ini. Tentang Spathodea, tentang Okta yang membeli MIMS ( wak, saya aja dulu ogah beli buku ini, soalnya ada buku lain yang lebih lengkap dari MIMS, Pharmakope Indonesia, ga kebayang kalau Okta beli buku itu dan melahap isinya setiap malam) . Tentang fakta bayi-bayi yang dibuang, tentang hukum adopsi. Terbayang Bunda Ary pasti melakukan riset yang detail tentang semua itu.
Bunda Ary juga sukses menghidupkan karakter lain yang ada, Septi, Okta, Augy, bahkan Keysha.

Ceritanya dijalin dengan kata-kata yang indah, kalau yang ini memang Bunda Ary banget.
Sejak awal saya sudah kena second lead syndrome . Juno ini second lead kan?
Saya langsung jatuh cinta dengan Juno. Padahal di bab-bab awal cerita tentang Geo yang mendominasi.
Mungkin karena saya trauma dengan stalker ya, jadi saya menahan diri untuk tidak jatuh cinta kepada Geo.
Saya suka dengan karakter Maya, Maya itu terorganisir, sosok yang tough, terbiasa mengandalkan diri sendiri.
 
Juno, Juno itu broody menurut saya. Tapi broody yang keren.. hahaha..
Bagian menyentuh tentang Juno adalah ketika Juno menerima kembali Ibunya dan mengurusnya tanpa lelah. Tapi saya juga sempat gemes sama Juno. Rasanya kok pengen mendorong dia supaya cepet-cepet ngaku seperti Maya yang gemes. " Stop teasing. Say it!" hadeeh.

Dan tentu saja, saya selalu suka dengan siblings love, walaupun Maya dan anak-anak lain yang di asuh Bunda Wulan bukan saudara sekandung , tapi saya dapat merasakan bagaimana hangatnya hubungan mereka. Siapa bilang darah lebih kental daripada air?

Bagian yang paling saya suka ? Bab Prolog. Bab pendahuluan ini sudah berhasil memikat saya untuk terus membaca, melawan kejengahan saya terhadap novel romans.

Kesimpulannya, Bacalah! ceritanya sweet dan hangat. Membacanya seperti berada di hutan pinus, bermandi hangatnya sinar matahari.