Sunday, March 27, 2016

Mencuri Awan



Ini adalah salah satu cerpen yang ditulis bertahun-tahun yang lalu. Sebelumnya udah pernah direvisi dikirim ke media, dan...... dikembalikan. Hahaha..
Masih banyak yang harus dibenerin.
Ya sudahlah, dipajang di sini aja.



MENCURI AWAN

Bo berbaring di atas tempat tidurnya dengan gelisah, badannya terasa kaku semua. Huh, aku tidak bisa tidur di atas kasur sekeras ini, gerutunya.
Bo bangun dan pergi keluar rumah, cuaca malam ini cerah sekali, Bo melongok ke bawah, dilihatnya kelap-kelip lampu rumah para penduduk bawah langit. Mereka pasti tidur nyenyak di atas kasur empuk mereka, sedangkan aku hanya bisa menahan kantuk di sini, keluhnya.
Ah, mengapa tahun ini para burung tidak terbang melintas langit dan meninggalkan bulu mereka? Jadi aku bisa mengisi lagi kasur dan bantalku supaya empuk. Bo menarik nafas panjang.
Tiba-tiba langit menjadi suram, cahaya bulan terhalang oleh awan. Awan ! Aha! Awan lembut dan empuk, aku akan mengambilnya untuk mengisi kasur dan bantalku. Bo berlari mengambil karung dan bergegas keluar, meraih segumpal awan yang melintas dan memasukkannya ke dalam karung, lalu mengambilnya lagi dan lagi sampai karungnya penuh. Mulai malam ini aku akan tidur dengan nyenyak, Bo tersenyum lebar.
Tiga hari kemudian, cuaca semakin memanas, Bo sampai tidak bisa tidur setiap malam, ada apa gerangan?.
Sekotak susu dingin mungkin bisa mendinginkan udara panas ini, pikir Bo sambil  bergegas menuju Kedai Susu Pak Chiko.
Di perjalanan menuju kedai Pak Chiko, Bo bertemu dengan Nenek Opal yang sedang menyapu di depan rumahnya. Wajah Nenek Opal penuh dengan butiran-butiran keringat.
“Selamat siang Nenek Opal, apakah nenek membutuhkan bantuanku? Nenek kelihatannya lelah sekali “ Sapa Bo.
“Terima kasih Bo, tapi aku baik-baik saja, belum pernah kurasakan cuaca sepanas ini, lihatlah bintang-bintang semakin banyak yang jatuh dan mati, mereka rupanya juga ikut kepanasan” Kata nenek Opal .
“Tidak ada angin yang berhenbus, tidak kulihat juga awan-awan yang melintas, kemana perginya mereka ?” imbuhnya.
“Oh, emm … iya ya, kemana perginya mereka…emm kalau begitu aku pamit dulu ya nenek”  Pamit Bo dengan gugup.
Apakah cuaca menjadi panas  karena awan yang kuambil? Pikir Bo merasa bersalah.
Kedai Susu Pak Chiko sepi ketika Bo sampai disana. Aneh, biasanya penuh dengan pembeli .
 “ Hai Pak Chiko, kok sepi Pak? Biasanya sudah banyak yang mengantri, minta tolong ambilkan sekotak susu dingin dong “
“ Oh Bo, karena cuaca panas ini, langgananku malas keluar rumah, lagipula ini  susu terakhir ya Bo, tidak ada lagi kiriman dari penduduk di bawah langit, kabarnya rumput-rumput mulai mengering, sapi-sapi mereka tidak mendapatkan banyak makan sehingga produksi susu menjadi berkurang “ Kata Pak Chiko sambil memberikan sekotak susu dingin pada Bo.
“ Hmmm aneh, bukannya di bawah langit sekarang masih musim hujan  ?” Ujar Bo sambil menyeruput susunya.
“ Cuaca semakin panas, aku bahkan tidak melihat awan beberapa hari ini, kemana perginya mereka ya? Makanya tidak turun hujan di bawah langit, awan-awannya hilang. Huh, terpaksa aku harus menutup kedai Susu ini sampai pasokan susu kembali normal “  Keluh pak Chiko.
Bo tersedak mendengarnya “Uhuk, huk, huk…maaf Pak Chiko, ini uangnya aku pulang dulu ya “
Bo bergegas pulang ke rumah, dia harus segera mengembalikan semua awan yang diambilnya. Tetapi sampai di depan  rumahnya, langkah Bo terhenti.
Wajahnya menjadi pucat pasi ketika dilihatnya  awan-awan keluar dari jendela dan rumahnya ikut melayang bersama awan-awan itu.
Malangnya Bo, karena mencuri awan, dia tidak hanya kehilangan kasur untuk tidur, sekarang Bo juga kehilangan rumah untuk berteduh.